MALANG POST – Kabar menggembirakan datang dari Batu Secret Zoo di Jawa Timur Park 2. Seekor bayi bekantan kembali lahir dan menambah koleksi primata endemik Indonesia di kawasan wisata edukasi tersebut. Kelahiran ini menjadi yang ke-8 sejak program konservasi bekantan dijalankan di bawah naungan Jawa Timur Park (JTP) Group.
Bayi bekantan itu lahir secara alami pada 30 Januari 2026. Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Primata Indonesia, sehingga menambah makna tersendiri bagi keberhasilan konservasi satwa tersebut.
General Manager Jawa Timur Park 2, Agus Mulyanto menyebut, kelahiran ini menjadi bukti bahwa upaya konservasi yang dijalankan selama ini berjalan dengan baik.
“Keberhasilan kelahiran bayi bekantan yang ke-8 ini merupakan hasil dari upaya perawatan dan konservasi yang konsisten,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Indonesia yang habitat alaminya berada di hutan mangrove dan tepian sungai di Pulau Kalimantan. Satwa ini mudah dikenali dari ciri khas hidungnya yang panjang dan besar, terutama pada individu jantan dewasa.
Menurut Agus, kehadiran bayi bekantan tersebut bukan hanya menambah daya tarik bagi pengunjung. Lebih dari itu, kelahiran ini menjadi simbol keberhasilan program konservasi yang dijalankan secara berkelanjutan.
“Kami berharap kehadiran satwa ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya anak-anak dan keluarga, tentang pentingnya menjaga kelestarian satwa endemik Indonesia,” katanya.

Exhibit bekantan di Jawa Timur Park 2 sendiri dikenal sebagai salah satu yang paling lengkap di Indonesia. Area tersebut dirancang menyerupai habitat asli bekantan dengan menghadirkan berbagai elemen ekosistem seperti pepohonan, daratan, pulau kecil, hingga perairan yang dihuni berbagai jenis ikan.
Salah satu keunikan exhibit ini adalah konsep three top view. Pengunjung dapat mengamati aktivitas bekantan dari tiga sudut pandang berbeda, yakni dari area atas, area daratan, serta dari bawah air melalui akuarium transparan.
Exhibit bekantan ini mulai dibuka pada 2021 dengan konsep arsitektur yang mengadopsi nuansa rumah adat Kalimantan. Di dalamnya juga dilengkapi berbagai informasi edukatif mengenai budaya lokal serta karakteristik bekantan.
“Dengan konsep tersebut, pengunjung tidak hanya berwisata, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan,” jelas Agus.
Sementara itu, dokter hewan Batu Secret Zoo, Hanna Mitsuki menambahkan, bahwa proses kelahiran berlangsung secara alami tanpa intervensi medis. “Lahir secara selamat dan alami, jadi kami tidak melakukan intervensi dari dokter,” ujarnya.
Menariknya, setelah lahir bayi bekantan tersebut langsung dirawat secara bersama oleh kelompoknya. Hal itu sesuai dengan karakter sosial bekantan yang memang terbiasa membesarkan anak secara koloni.
“Kami hanya memberikan dukungan dari sisi nutrisi, seperti vitamin dan tambahan pakan untuk induknya. Intervensi langsung sangat diminimalkan karena bekantan termasuk primata yang mudah stres,” jelas Hanna.
Koleksi bekantan di Batu Secret Zoo sendiri mulai didatangkan pada 2021 dari Kebun Binatang Surabaya dan kebun binatang di Yogyakarta. Kedatangan satwa tersebut bertujuan memperkaya keragaman genetik sekaligus mendukung program breeding.
Saat ini, populasi bekantan dewasa di Batu Secret Zoo terdiri dari satu pejantan dan lima betina. Komposisi tersebut menyesuaikan struktur sosial bekantan di alam liar yang biasanya dipimpin satu jantan dominan dalam satu koloni.
Bekantan sendiri memiliki masa kehamilan yang relatif panjang, yakni sekitar 160 hingga 200 hari sebelum akhirnya melahirkan.
Dengan keberhasilan kelahiran ini, Batu Secret Zoo berharap program konservasi yang dijalankan tidak hanya menjaga kelestarian satwa langka, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya perlindungan satwa endemik Indonesia. (Ananto Wibowo)




