MALANG POST – Kota Malang masih menjadi magnet bagi investor, untuk menanamkan investasinya pada industri perhotelan. Karena dianggap perkembangan kota sangat pesat dan sudah menjadi kota kreatif dunia.
Pernyataan itu disampaikan Ketua BPC PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk. Yang disiarkan Radio City Guide 911 FM, Selasa (14/4/2026).
Munculnya sejumlah hotel di Kota Malang, kata Agoes, tidak lepas dari perkembangan kota dan pariwisata di Kota Pendidikan ini.
“Apalagi saat ini Kota Malang juga menyandang predikat sebagai kota kreatif dunia. Kondisi tersebut menjadi peluang besar, untuk menarik investor, khususnya di sektor perhotelan,” katanya.
Menurut Agoes, munculnya hotel – hotel baru justru menjadi motivasi, untuk meningkatkan positioning masing-masing hotel, serta menangkap berbagai peluang yang ada.
Selain itu, okupansi hotel di Kota Malang juga cenderung tinggi saat high season, dan terkadang membuat sejumlah hotel yang ada kewalahan. Sehingga adanya hotel baru, menjadi tambahan suasana baru bagi wisatawan yang datang di Kota Malang.
Disisi lain, Agoes juga mengingatkan, agar investor hotel-hotel baru bisa mematuhi peraturan dan melengkapi perizinan. Khususnya dalam kajian AMDAL, agar tidak mengganggu lingkungan dan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Ketua 2 Program Diploma Kepariwisataan Universitas Merdeka Malang, Dr. Estikowati, SST.Par., MM., menyebut, sebagai kota pendidikan dan kota wisata, Kota Malang bisa memunculkan banyak peluang dengan hadirnya hotel – hotel baru.
“Salah satunya bisa meningkatkan PAD, menggeliatnya pergerakan UMKM dan mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas bagi mahasiswa di Kota Malang,” sebutnya.
Menurut Esti, semakin banyak hotel akan banyak juga opsi untuk wisatawan. Meski nantinya hotel-hotel baru maupun lama, harus menghadapi sejumlah tantangan. Seperti persaingan harga yang cenderung kompetitif, serta rata-rata okupansi yang bisa menurun di hari biasa dan hanya ramai saat high season saja.
“Tantangan lainnya bisa berupa kemacetan, jika hotel – hotel itu tidak menyediakan lokasi parkir yang memadai. Serta dampak lainnya pada lingkungan sekitar. Sehingga penting dilakukan kajian AMDAL Lingkungan maupun ANDAL Lalin,” tegas Esti.
Untuk bisa survive di tengah persaingan, Esti menyarankan agar hotel-hotel bisa menguatkan personal branding dan menyesuaikan konsepnya sesuai kebutuhan konsumen dan segmentasi pasar. Khususnya dengan kondisi Kota Malang yang kerap dijadikan sebagai kota transit, yang memiliki peluang wisata kuliner maupun wisata belanja. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




