MALANG POST – Manajemen Arema FC secara resmi mengumumkan berakhirnya hubungan kerja sama dengan gelandang jangkar asal Sorong, Papua, Samuel Gideon Balinsa, menyusul keputusan tim pelatih yang tidak memasukkan namanya ke dalam proyeksi skuad musim depan. Langkah radikal perombakan lini tengah Singo Edan ini, dikonfirmasi langsung oleh General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi, Senin (15/6/2026), sekaligus menandai akhir dari pengabdian penuh dedikasi sang pemain berusia 27 tahun tersebut setelah tiga musim berturut-turut berseragam biru Arema.
Dunia sepak bola profesional itu berjalan sangat cepat. Dinamis. Hari ini Anda bisa saja dipuji-puji sebagai pahlawan, yang memutus aliran serangan lawan di tengah lapangan. Tapi besok pagi, begitu cetak biru taktik pelatih berganti, nama Anda bisa langsung tercoret dari daftar belanja musim depan.
Realitas dingin itulah yang kini harus dihadapi oleh Samuel Gideon Balinsa. Mutiara lini tengah Arema FC asal Papua.
Senin, 15 Juni 2026 hari ini, manajemen Arema FC resmi mengetok palu perpisahan. Kebersamaan yang sudah dirajut erat selama tiga musim penuh itu harus selesai.
Kontrak kerja Balinsa yang sejatinya sudah kedaluwarsa sejak Mei 2026 kemarin dipastikan tidak diperpanjang lagi. Sang gelandang pengangkut air resmi dilepas.
Melihat ke belakang, ingatan kita tentu akan kembali pada momen Mei 2023. Saat itu, Arema mendatangkan anak muda kelahiran Sorong ini dari klub Persewar Waropen. Umurnya baru 24 tahun.
Tidak butuh waktu lama bagi Balinsa untuk mencuri perhatian. Karakter permainannya yang disiplin, pekerja keras, bermental baja, dan punya determinasi tinggi langsung membuatnya menjelma menjadi sosok penting.
Dia adalah tukang angkut air yang bertugas menjaga keseimbangan, memutus alur serangan musuh, sekaligus menjadi jembatan penghubung antarlini di sektor tengah Singo Edan.
Rapor penampilannya selama tiga musim di Malang tergolong sangat konsisten.
Pemain yang kini menginjak usia 27 tahun tersebut sukses membukukan total 64 penampilan resmi di berbagai ajang kasta tertinggi tanah air, mulai dari sengitnya kompetisi Liga 1 hingga turnamen pramusim Piala Presiden.
Bahkan, keringat dan kerja keras Balinsa di lapangan ikut menjadi bagian dari tinta emas sejarah klub.
Dia adalah salah satu aktor kunci di balik keberhasilan Arema FC saat merengkuh gelar juara Piala Presiden 2026 lalu.
Soliditas lini tengah yang dia jaga membuat Singo Edan disegani lawan.
Atas dasar dedikasi dan profesionalisme yang tinggi itulah, General Manager Arema FC, Yusrinal, melepas kepergian Balinsa dengan rasa hormat yang luar biasa tinggi.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Samuel Gideon Balinsa atas dedikasi, loyalitas, dan kerja keras yang telah diberikan selama tiga musim bersama Arema FC.”
“Balinsa merupakan sosok pemain yang selalu memberikan kemampuan terbaiknya untuk tim,” puji Yusrinal, Senin (15/6/2026).
Bagi pria yang akrab disapa Inal itu, Balinsa adalah contoh pesepak bola yang punya komitmen luar biasa, baik di dalam maupun di luar lapangan hijau.
Sikapnya patut menjadi teladan. Kontribusi nyatanya saat membawa trofi juara ke Malang akan selalu dicatat dalam buku sejarah Arema.
Kini, pintu keluar sudah terbuka. Manajemen mendoakan agar petualangan baru di klub luar nanti bisa membawa karier Balinsa melompat lebih tinggi.
Seluruh pengalaman berharga selama digembleng di bumi Arema diharapkan bisa menjadi modal berharga bagi masa depannya.
Perpisahan memang selalu menyisakan rasa getir, namun perombakan skuad murni didasarkan atas hitungan kebutuhan taktis tim ke depan.
Arema FC dituntut harus bergerak dinas demi meraih hasil yang lebih baik. Terima kasih atas setiap jengkal pengorbanan dan semangat juangmu di lapangan, Kaka Balinsa! (Ra Indrata)




