Tim Layanan Konseling Universitas Brawijaya, Dian Sudiono, M.Psi. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Salah satu tim dari Layanan Konseling UB, Dian Sudiono, M.Psi., mengatakan bahwa menunda tugas bisa menjadi salah satu penyebab munculnya gangguan kesehatan mental. Lantaran berpotensi memunculkan kecemasan.
Demikian disampaikan dalam pelatihan Peer Counselor sebagai upaya peningkatan kesadaran kesehatan mental mahasiswa, Sabtu (11/4/2026) di Lantai 8 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya.
“Prokrastinasi adalah penundaan. Jika tugas selalu dikerjakan mendekati tenggat, tekanan yang muncul dapat memicu gangguan kesehatan mental,” ujarnya.
Selain prokrastinasi, Dian menyebutkan banyak faktor lain yang menjadi sumber tekanan mental mahasiswa.
Antara lain, beban akademik, burnout, persoalan keluarga, adaptasi sosial, tekanan ekonomi, kebingungan karier, serta kecenderungan overcommitment dalam organisasi.
Kesehatan mental tercermin dari kemampuan seseorang dalam menjalankan fungsi optimal dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mengidentifikasi kondisi tersebut, Dian menjelaskan terdapat tiga aspek utama yang dapat diamati.
Pertama, hubungan yang sehat. Individu dengan kesehatan mental yang baik mampu membangun relasi yang beragam dan seimbang, tidak hanya bergantung pada satu pihak. Kesehatan mental adalah kunci dari sebuah hubungan.
“Mental health adalah fondasi dari emosi, pikiran, komunikasi, kemampuan belajar, ketahanan dan self-esteem,” tegasnya.
Kedua, aktivitas yang produktif. Penurunan produktivitas secara signifikan dapat menjadi indikasi adanya masalah psikologis.
Ketiga, kemampuan beradaptasi. Individu yang sehat secara mental mampu menyesuaikan diri di berbagai lingkungan tanpa kehilangan jati diri.
“Jika tiga aspek ini terganggu, maka perlu diwaspadai sebagai indikasi awal dan dapat menjadi bahan eksplorasi dalam sesi konseling,” tegasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya mengenali tanda kapan seseorang perlu mendapatkan bantuan profesional.
Di antaranya ketika keluhan berlangsung lebih dari dua minggu, mengganggu aktivitas harian, kehilangan minat terhadap hal yang biasanya disukai, hingga muncul perilaku menyakiti diri atau pikiran untuk mengakhiri hidup.
“Kalau masalah sudah mengganggu hidup, berlangsung lama, dan terlalu berat untuk ditangani oleh teman-teman kalian nanti, maka silakan dirujuk ke profesional,” tambahnya.
Mewadahi hal diatas, mahasiswa UB dapat mengakses layanan tersebut melalui Layanan Konseling Mahasiswa (LKM) yang tersedia secara gratis di lingkungan kampus.
Salah satu peserta, Cahyaningtiyas Putri Adventina, mengaku pelatihan ini memberinya pemahaman baru tentang cara mengenali dan merespons permasalahan kesehatan mental.
“Melalui kegiatan ini, kami belajar memahami kondisi seseorang dan bagaimana merespons mereka dengan tepat,” ujarnya.
Tias berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar mahasiswa semakin sadar pentingnya kesehatan mental dan mengetahui kemana harus mencari bantuan saat dibutuhkan.
Diharapkan melalui kegiatan ini Kegiatan ini merupakan Salah Satu Bentuk IKHTIAR kami dalam mengurangi Permasalahan Mental Health di kalangan Mahasiswa (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




