MALANG POST – Rasa letih menempuh perjalanan panjang dari Kota Batu menuju Pidie, Aceh, seolah terhapus begitu saja, ketika empat anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Batu tiba di kamp pengungsian. Di hadapan mereka, puluhan anak korban bencana duduk dalam diam. Ada yang saling berpelukan, ada pula yang menatap kosong, masih berusaha memahami kehilangan yang terlalu besar untuk usia mereka.
Namun suasana muram itu perlahan berubah. Darto, Basuki, Sunaryo dan Yogi Tristyawan empat relawan muda yang dikirim Dinas Sosial Jawa Timur, segera mengajak anak-anak bermain, membuat outbound sederhana dan membagikan door prize serta makanan ringan. Tawa yang sempat hilang itu pelan-pelan kembali terdengar di tengah puing dan ketidakpastian.
“Banyak anak yang down. Ada yang kehilangan rumah, bahkan keluarga. Kami mencoba memberi ruang aman agar mereka bisa tersenyum lagi,” ujar Darto, relawan asal Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Jumat (12/12/2025).
Tugas mereka tak berhenti pada pendampingan psikososial. Empat anggota Tagana Kota Batu ini juga memperkuat dapur umum Tagana di Kantor Bupati Pidie Jaya. Setiap hari, dapur umum harus menyiapkan 4.000 bungkus makanan untuk satu kali makan dan proses itu dilakukan dua kali sehari.
“Delapan ribu bungkus harus siap hari ini,” ucap Darto. Angka itu mencerminkan besarnya kebutuhan warga terdampak sekaligus intensitas kerja kemanusiaan yang mereka jalankan.

KUATKAN MENTAL: Tim Tagana saat menguatkan mental para korban bencana di Pidie Jaya, Aceh, selain itu mereka juga memastikan urusan perut korban tetap terjaga. (Foto: Istimewa)
Selain itu, tim ini juga membantu dropping logistik BPBD Aceh ke sejumlah wilayah yang masih sulit diakses akibat bencana hidrometeorologi yang melanda daerah tersebut.
Penugasan empat personel Tagana Kota Batu ini merupakan instruksi langsung dari Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Mereka dijadwalkan bertugas selama 20 hari, mulai 10 hingga 31 Desember 2025. Pada 8 Desember, mereka dilepas secara resmi oleh Kepala Dinsos Kota Batu, Lilik Fariha, sebelum bergabung dengan rombongan besar Tagana Jatim di Dinsos Provinsi.
‘Kami berangkat bersama 18 anggota Tagana kabupaten/kota lain dan lima anggota Pordam Jatim. Totalnya ada 27 orang,” jelas Darto. Gelombang ini merupakan pengiriman kedua setelah sebelumnya enam personel dikirim ke Aceh Tamiang.
Setibanya di Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh, rombongan langsung bergerak ke Pidie Jaya. Perjalanan yang mestinya berlangsung singkat berubah menjadi ujian panjang. Hujan deras tak henti mengguyur, lampu jalan padam dan sinyal telekomunikasi terputus hampir di sepanjang jalur.
“Perjalanan hampir empat jam lebih, penuh gelap dan hujan,” ungkapnya.
Rombongan Tagana Jatim akhirnya tiba di Mako Tagana Pidie Jaya. Namun tantangan belum usai. Mako tersebut tengah mengalami kelangkaan air bersih. Relawan harus beradaptasi sambil tetap menjalankan tugas kemanusiaan tanpa jeda.
Di tengah segala keterbatasan itu, empat anggota Tagana Kota Batu sepakat pada satu komitmen, hadir bagi mereka yang kehilangan. Bagi anak-anak yang kehilangan tawa, keluarga yang kehilangan rumah, hingga warga yang kehilangan jejak kesehariannya.
Mereka bekerja di tengah hujan, gelap, sinyal yang hilang dan fasilitas seadanya. Namun bagi para relawan muda ini, misi kemanusiaan selalu lebih besar dari rasa letih yang mereka bawa.
Di tanah bencana itu, Darto dan rekan-rekannya bukan hanya hadir sebagai petugas. Mereka hadir sebagai penyambung harapan, menghibur, menguatkan dan menyalakan kembali semangat ribuan warga Aceh yang sedang bangkit dari keterpurukan. (Ananto Wibowo)




