MALANG POST – Guna mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi jelang musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, mengintensifkan program Mitigasi Susur Sungai (Miss U) 2026. Penyisiran yang menyasar enam titik sungai rawan banjir bandang tersebut, berhasil mengurai puluhan titik sumbatan kayu, rumpun bambu, hingga material tebing longsor yang berpotensi membentuk bendungan alami.
Ancaman bencana hidrometeorologi mulai diantisipasi sejak dini di wilayah Kota Batu. Sebelum musim penghujan tiba, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mengintensifkan program Mitigasi Susur Sungai (Miss U) 2026 dengan menyisir enam titik sungai yang dinilai rawan memicu banjir bandang.
Enam lokasi yang menjadi sasaran utama meliputi kawasan Sumber Darmi, Sungai Krecek, Sungai Glagah Wangi, Brantas Bon 8, Coban Peteng, hingga Pusung Lading. Penyisiran tersebut dilakukan secara bertahap sejak awal Juni dan dijadwalkan rampung pada akhir Juli 2026.
Langkah preventif ini dijalankan untuk memastikan aliran sungai tetap lancar sebelum intensitas curah hujan kembali meningkat pada penghujung tahun.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, mengatakan bahwa penentuan titik penyisiran mengacu pada tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi yang dimiliki masing-masing wilayah.
“Tujuannya agar potensi bahaya di setiap titik sungai bisa ditemukan dan ditangani lebih awal sebelum menimbulkan dampak bencana yang lebih besar,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

SUSUR SUNGAI: Tim BPBD Kota Batu bersama personel gabungan saat melakukan susur sungai ke sejumlah titik di wilayah Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
Hasil penyisiran sementara menunjukkan masih banyaknya ancaman hambatan yang ditemukan di lapangan. Di kawasan Sumber Darmi, misalnya, petugas mengevakuasi 16 pohon tumbang yang melintang di badan sungai serta menangani satu titik tebing longsor.
Sementara itu, Sungai Krecek menjadi lokasi dengan temuan sumbatan terbanyak. Di kawasan tersebut, tim menemukan sedikitnya 21 batang kayu tumbang, 27 rumpun bambu yang membentang menutupi aliran air, lima titik longsor, serta belasan sumbatan material sampah organik yang berpotensi memicu bendungan alami.
Kondisi serupa juga ditemukan di Sungai Glagah Wangi. Sedikitnya 26 titik hambatan berhasil dibersihkan petugas, yang mayoritas berupa vegetasi liar, ranting pohon, hingga limbah pertanian yang terbawa ke aliran sungai.
Sedangkan di kawasan Brantas Bon 8, Coban Peteng, dan Pusung Lading, petugas membersihkan sejumlah rumpun bambu roboh serta material tanah longsoran yang berpotensi menyumbat aliran air saat debit sungai meningkat drastis.
Seluruh temuan hambatan tersebut langsung ditangani secara teknis di lokasi. Pohon-pohon yang melintang dipotong menggunakan gergaji mesin dan dievakuasi ke daratan, sementara rumpun bambu serta material tanah dibersihkan agar tidak membentuk bendungan alami.
Menurut Gatot, keberadaan bendung alami menjadi salah satu faktor utama yang kerap memicu bencana banjir bandang di wilayah hilir.

“Jika material kayu dan sampah dibiarkan menumpuk, saat hujan deras dan debit air meningkat, bendung alami itu bisa jebol sewaktu-waktu. Kondisi tersebut sangat berbahaya karena dapat menerjang kawasan pemukiman di hilir,” tegasnya.
Upaya mitigasi berbasis lingkungan ini didasarkan pada dokumen Kajian Risiko Bencana serta pemutakhiran Indeks Ancaman Banjir Tahun 2024. Dalam kajian tersebut, tiga kecamatan di Kota Batu, yakni Bumiaji, Batu, dan Junrejo, masuk dalam kategori wilayah dengan tingkat risiko ancaman banjir yang tinggi.
Oleh karena itu, BPBD mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam upaya mitigasi berbasis komunitas. Warga diminta segera melapor ke pihak desa atau BPBD apabila menemukan akumulasi pohon tumbang, tebing retak, maupun sumbatan baru di sepanjang aliran sungai.
“Mitigasi bencana tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Partisipasi dan kepedulian warga sangat penting agar potensi bahaya bisa segera ditangani sebelum memasuki puncak musim hujan,” tuturnya.
Program Miss U 2026 diharapkan menjadi langkah antisipatif yang konkret agar bencana banjir bandang tidak terulang kembali. Menjaga kebersihan dan kelancaran aliran sungai bukan sekadar isu lingkungan, melainkan berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa masyarakat Kota Batu. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




