MALANG POST – Zaman indah berburu promo lewat subsidi aplikasi e-commerce resmi berakhir. Sadar atau tidak, platform marketplace raksasa kini mulai kompak menghentikan strategi “bakar uang” mereka. Revolusi sistem pun bergulir: beban biaya operasional, komisi, administrasi, hingga biaya fitur promosi kini sepenuhnya dilemparkan ke pundak para pedagang lokal (seller).
Hantaman ini memicu tekanan ganda (double pressure) yang mencekik napas pelaku UMKM di Kota Malang. Di satu sisi, mereka dipaksa menaikkan harga demi menutup biaya admin aplikasi yang merangkak naik. Di sisi lain, mereka dihantui ketakutan akut akan kehilangan pelanggan setia yang sensitif terhadap kenaikan harga barang.
Dilema digitalisasi dan strategi bertahan hidup pelaku usaha ini dikupas tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM. Akademisi ekonomi, otoritas dinas, hingga praktisi bisnis blak-blakan meracik formula agar UMKM tidak gulung tikar massal.
Dosen FEB Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA), Asna, menilai perubahan regulasi marketplace yang kini bergeser menjadi profit oriented adalah hal yang lumayan wajar dalam hukum bisnis demi mengejar balik modal. Namun, ia mewanti-wanti agar UMKM tidak meresponsnya dengan kepanikan.
“Ini momentum UMKM untuk naik kelas. Siasati kenaikan biaya itu dengan memperbaiki manajemen internal dan memperkuat branding produk berbasis nilai (value). Kalau konsumen sudah punya kepercayaan (trust) pada kualitas produk kita, mereka tidak akan kabur meskipun harganya sedikit naik,” urai Asna.
Asna juga memberikan catatan tebal soal rendahnya literasi keuangan pedagang lokal. UMKM wajib belajar membuat perhitungan akuntansi yang detail agar tidak terjebak dalam ilusi omzet besar tapi laba bersih zonk akibat tergerus biaya admin tersembunyi.
Jurus WhatsApp dan Konten Media Sosial
Sinyal penyelamatan konkret disodorkan oleh pelaku usaha yang sudah berhasil lepas dari ketergantungan e-commerce. Founder dan CEO Zama Homewear, Srie Dewi Wirautami, menyarankan para seller untuk segera memutar haluan strategi pemasaran mereka secara radikal.
Jangan lagi menaruh seluruh telur dagangan di dalam satu keranjang marketplace. “Manfaatkan omnichannel. Buat konten promosi yang kreatif dan bangun branding yang kuat di media sosial secara mandiri. Begitu konsumen tertarik, langsung integrasikan jalur transaksi secara langsung via WhatsApp,” saran Dewi.
Jalur potong kompas ini dinilai jauh lebih menguntungkan karena membebaskan pedagang dari setoran potongan biaya admin pihak ketiga. “Kedekatan hubungan dengan pelanggan setia (loyal customer) juga jauh lebih erat jika bertransaksi langsung,” tambahnya.
Selaras dengan hal itu, Kepala Bidang Usaha Mikro Diskopindag Kota Malang, Faried Suaidi, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus hadir memberikan pelatihan laporan keuangan gratis. Hingga pertengahan Juli 2026 ini, Diskopindag mengklaim belum menerima keluhan resmi dari UMKM Malang terkait biaya aplikasi, namun pengawasan dan pemberdayaan intensif terus disiagakan.
Era ketergantungan pada lapak digital pihak ketiga sudah harus disudahi. Biaya admin sudah naik, produk impor murah terus mengintai. Kini pilihan mutlak ada di tangan keberanian UMKM Kota Malang: mau pasrah tergilas potongan komisi aplikasi yang mencekik, atau berani mandiri membangun brand sendiri lewat jalur media sosial dan WhatsApp. (Yolanda Oktaviani / Ra Indrata)




