TERBAIK: Oedaija O'Shea Sharinah, saat turun di ajang Hydroplus Soccer League All-Stars 2025/2026. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Arema FC Women U-18 memang gagal melangkah hingga partai final Hydroplus Soccer League All-Stars 2025/2026. Namun, Ongis Kodew tetap membawa pulang satu penghargaan bergengsi setelah bek andalannya, Oedaija O’Shea Sharinah, dinobatkan sebagai Pemain Terbaik (Best Player) turnamen nasional tersebut.
Arema FC Women U-18 pulang tanpa trofi juara.
Namun, mereka tidak pulang dengan tangan hampa.
Di tengah kegagalan menembus final Hydroplus Soccer League All-Stars 2025/2026, satu nama dari skuad Ongis Kodew justru mendapat pengakuan di panggung nasional.
Dia adalah Oedaija O’Shea Sharinah.
Bek andalan Arema FC Women U-18 itu dinobatkan sebagai Pemain Terbaik (Best Player) turnamen berkat penampilan konsisten sepanjang kompetisi.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perannya mengawal lini belakang Arema hingga menembus babak semifinal.
Menariknya, gelar itu ternyata bukan datang tanpa target.
Sejak awal mengikuti kompetisi, O’Shea memang memasang ambisi untuk menjadi pemain terbaik.
“Dari awal mau ikut turnamen tuh sebenarnya targetnya sudah best player. Jadi intinya itu percaya diri aja, kuncinya percaya diri,” ujarnya.
Persaingan yang ketat di level nasional sempat membuatnya diliputi keraguan.
Namun, penampilan stabil dari pertandingan ke pertandingan akhirnya mengantarkan O’Shea meraih penghargaan individu paling bergengsi di turnamen tersebut.
Bagi pemain muda itu, penghargaan tersebut memiliki arti yang sangat besar.
“Sangat berarti, kan jarang juga dapat best player di turnamen-turnamen nasional. Jadi ini cukup sangat berarti,” katanya.
Trofi itu tidak hanya ia nikmati sendiri.
O’Shea mendedikasikan penghargaan tersebut untuk kedua orang tuanya, keluarga besar, serta seluruh rekan setim yang telah berjuang bersama sepanjang kompetisi.
Bagi Arema FC Women U-18, penghargaan yang diterima O’Shea menjadi pelipur lara setelah target membawa pulang gelar juara, baik di kategori U-15 maupun U-18, belum berhasil diwujudkan.
Kedua tim sama-sama terhenti di babak semifinal.
Meski demikian, lahirnya pemain terbaik dari skuad Ongis Kodew menjadi sinyal bahwa pembinaan sepak bola putri di Arema terus menghasilkan talenta yang mampu bersaing di level nasional.
Bagi O’Shea sendiri, penghargaan ini bukan garis akhir.
Justru menjadi pijakan untuk membuktikan bahwa bek muda Arema juga mampu bersinar di panggung sepak bola putri Indonesia. (M. Abd. Rachman Rozzi)




