BERPISAH: Claudio de Jesus saat mendampingi Marcos Santos di Stadion Kanjuruhan, sebelum laga resmi Super League 2025/2026 lalu digelar. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen Arema FC secara resmi memutuskan menghapus posisi penerjemah khusus dan melepas Claudio de Jesus, menjelang bergulirnya kompetisi Super League 2026-2027. Sebagai bagian dari langkah efisiensi anggaran untuk menekan biaya operasional tim sepanjang musim baru.
Mengelola klub sepak bola profesional di era modern itu, tidak melulu soal taktik di atas rumput hijau. Urusan menjaga kesehatan isi dompet manajemen juga tidak kalah penting. Kalau ada pos pengeluaran yang bisa dipangkas tanpa mengganggu performa tim, mengapa tidak dilakukan?
Prinsip efisiensi itulah yang kini sedang diterapkan oleh manajemen Arema FC. Menyambut musim kompetisi baru Super League 2026-2027, Singo Edan mengambil keputusan berani: menyederhanakan struktur tim untuk menekan biaya operasional.
Korban dari kebijakan ikat pinggang ini adalah: Claudio de Jesus.
Penerjemah khusus asal Brasil itu resmi dilepas. Keputusan ini sekaligus menjawab teka-teki, mengapa legenda Arema era 2000-an tersebut, sudah tidak lagi menampakkan batang hidungnya dalam sesi latihan rutin Arema selama sepekan terakhir.
Padahal, Claudio sudah dua musim terakhir ini menjadi jembatan lidah yang setia bagi Pelatih Marcos Santos. Sejak Liga 1 edisi 2024-2025, dialah yang menjembatani komunikasi, menerjemahkan keinginan jajaran pelatih Brasil, kepada para pemain lokal di lapangan.
General Manager Arema, Yusrinal Fitriandi, langsung buka suara terkait hilangnya posisi penting ini.
“Musim depan gak ada lagi posisi translator khusus. Kami ingin mengurangi biaya operasional,” kata Yusrinal blak-blakan.

Lalu, bagaimana nasib komunikasi di dalam tim? Apakah ruang ganti Singo Edan bakal berubah menjadi menara Babel yang membingungkan?
Yusrinal menggeleng. Manajemen sudah punya jalan keluar yang cerdas, tanpa harus keluar uang tambahan. Klub akan memaksimalkan potensi internal: memanfaatkan kemampuan bahasa yang sudah dimiliki oleh para pemain dan staf pelatih yang ada.
Di sinilah nama Julian Guevara muncul. Gelandang petarung asal Kolombia itu, ternyata diam-diam sudah menguasai bahasa Indonesia dengan cukup baik. Maklum, ia sudah beberapa musim merumput di tanah air. Kemampuan linguistik inilah yang akan diberdayakan.
“Julian sudah mampu berbahasa Indonesia dengan cukup baik. Tapi, perannya bukan sebagai translator resmi. Statusnya tetap sebagai pemain yang sesekali membantu komunikasi,” imbuh Yusrinal.
Selain mengandalkan Julian, Arema juga punya Asisten Pelatih Andre Caldas Costa. Andre fasih berbahasa Inggris. Gayung bersambut, sebagian besar legiun asing yang menghuni skuad Singo Edan musim ini, juga sudah sangat lancar menggunakan bahasa internasional tersebut dalam keseharian mereka.
Manajemen menilai perpaduan kemampuan bahasa para pemain dan staf pelatih ini sudah lebih dari cukup untuk mengarungi semusim kompetisi. Tidak perlu lagi ada pos anggaran khusus untuk membayar seorang penerjemah resmi di struktur tim.
“Sebagian besar pemain asing kita sekarang juga bisa berbahasa Inggris. Jika diperlukan, Andre bisa membantu komunikasi. Julian hanya membantu menjelaskan jika ada hal yang kurang dipahami para pemain lokal kita dalam bahasa Indonesia,” tandas Yusrinal.
Keputusan sudah diambil. Claudio sudah dilepas. Efisiensi anggaran kini jadi prioritas. Kita lihat saja nanti di lapangan, apakah komunikasi dadakan ala Julian Guevara ini cukup ampuh untuk membawa Singo Edan terbang tinggi di musim baru. (Ra Indrata)




