MALANG POST – Angkanya tampak mentereng: 49.420. Itulah jumlah unit usaha di Kota Malang yang hingga Juli 2026 ini tercatat resmi mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB). Uniknya, puluhan ribu izin itu ternyata hanya dimiliki oleh 41.270 orang saja.
Artinya apa? Satu orang pelaku usaha di Malang rata-rata memiliki lebih dari satu lini bisnis. Jiwa dagang arek Malang memang luar biasa lincah.
Namun, di balik angka mentereng itu, terselip sebuah paradoks. Jika ditotal secara keseluruhan secara riil di lapangan, jumlah pelaku UMKM di Kota Malang sebenarnya raksasa: mencapai lebih dari 100 ribu orang. Itu berarti, masih ada separuh lebih pedagang kita yang status hukum bisnisnya masih “gelap” alias belum legal. Tanpa NIB, mereka mustahil bisa menembus rak-rak modern atau mengajukan kredit bank.
Siasat mendongkrak kelas UMKM di tengah musim libur panjang ini dikupas habis dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Kamis (2/7/2026) hari ini. Otoritas dinas, akademisi, hingga pegiat usaha berkumpul membedah strategi lapangan.
Kabid UMKM Diskopindag Kota Malang, Faried Su’aidi, menegaskan pemerintah daerah sedang ngebut memotong kompas birokrasi perizinan. Karpet merah kemudahan urus NIB digelar.
“Kami tidak bisa jalan sendiri. Terakhir, kami berkolaborasi dengan DPMPTSP Provinsi Jatim membuka kuota pengurusan legalitas gratis untuk 150 UMKM. Ini krusial. Ketika UMKM sudah pegang legalitas, pintu gerbang untuk menjangkau pasar konsumen yang jauh lebih luas otomatis terbuka lebar,” urai Faried.
Diskopindag juga tidak ingin UMKM Malang mati angin setelah dapat izin. Tiga program peluru disiapkan: Perjanjian Kerja Sama (PKS) titip produk di toko pusat oleh-oleh, program Business Matching setiap akhir tahun untuk mempertemukan perajin dengan pembeli kakap, serta fasilitas “Klinik Bisnis”. Klinik ini menjadi tempat konsultasi gratis urusan jejaring dan ilmu digital marketing.
Menyerbu Uang Mahasiswa yang Ogah Pulang
Musim liburan sekolah dan kampus seperti sekarang adalah masa panen raya. Sudut pandang menarik dilemparkan oleh Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Venus Kusumawardana.
Banyak orang mengira saat libur kuliah, Malang akan sepi karena ditinggal mudik mahasiswa. Dugaan itu keliru. “Sebagian besar mahasiswa justru memilih bertahan di Malang. Bahkan banyak yang mendatangkan keluarga mereka dari luar pulau untuk berlibur di sini. Mereka mengeksplorasi kuliner dan berwisata belanja. Ini pasar raksasa,” analisis Venus.
Tantangan infrastruktur jalan ke tempat wisata dinilai Venus sudah mulai beres di tangan pemkot. Musuh utama UMKM saat ini tinggal satu: permodalan yang cekak. “Siasati itu dengan cerdas. Ambil sistem maklon atau ambil produk dari tempat lain dengan perjanjian konsinyasi tertentu. Jangan menyerah karena modal,” tambahnya.
Berburu Cuan Bermodal Data
Bagaimana cara UMKM memenangkan pertempuran berebut isi dompet wisatawan? Pegiat UMKM Malang, Rike Fransisca, menyodorkan resep modern: jangan jualan pakai perasaan, pakailah data.
“Penguatan database pelanggan itu mutlak. Dari data itulah kita bisa tahu siapa target segmen pasar kita, apa yang mereka sukai, dan kapan mereka berbelanja. Strategi penjualan musim liburan akan zonk kalau kita tidak pegang data,” tegas Rike.
Rike melempar wejangan penutup agar para pelaku usaha di Malang Raya membuang jauh-jauh sifat ego sektoral. “Keluar dari rumah, gabung dengan komunitas UMKM. Di sanalah gudangnya info, jejaring modal, dan ilmu baru berada,” pungkasnya.
Potensi 100 ribu UMKM di Kota Malang adalah mesin ekonomi yang dahsyat. Fasilitas Klinik Bisnis sudah dibuka, kuota NIB gratis sudah dibagikan. Kini tinggal kemauan para pelaku usaha: mau tetap bertahan di zona nyaman sebagai pedagang informal, atau berani mengurus legalitas demi naik kelas menjadi pengusaha formal yang mapan. (Wulan Indriyani / Ra Indrata)




