MALANG – Libur sekolah telah tiba. Bagi jutaan anak di Indonesia, inilah momen paling dinanti: waktu untuk kembali ke dunianya, bermain dan bersenang-senang tanpa beban tugas kelas. Namun, di balik kegembiraan itu, sebuah ancaman senyap sedang mengintai dari balik layar ponsel pintar (smartphone) di rumah Anda.
Tanpa pengawasan ketat, waktu luang yang melimpah selama liburan kerap kali dihabiskan anak-anak dengan menatap layar gawai (gadget) secara berlebihan.
Sinyal bahaya terkait serangan kecanduan gawai pada anak ini dikupas tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Rabu (1/7/2026) hari ini. Pakar komunikasi digital dan psikolog anak blak-blakan membuka borok kerusakan mental akibat hilangnya kontrol orang tua terhadap teknologi.
Dosen Digital Communication UNMER Malang, Dr. Saudah, mengingatkan para orang tua bahwa liburan seharusnya menjadi momentum emas untuk merekatkan hubungan emosional, bukan malah menyerahkan asuhan anak pada algoritma YouTube atau game online.
“Jadikan liburan ini sebagai ruang peningkatan frekuensi waktu berkualitas (quality time) antara orang tua dan anak. Penggunaan gawai wajib berada di bawah pengawasan. Orang tua harus aktif berkomunikasi, ikut mengedukasi, dan masuk ke dalam dunia konten atau game yang digemari anak. Jangan sampai lepas kendali (loss control),” saran Saudah.
Bahaya Over-Stimulasi dan Kelelahan Otak
Mengapa membiarkan anak menatap layar ponsel berjam-jam adalah sebuah kesalahan fatal?
Sekretaris Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak UMM, Ratih Eka Pertiwi, membeberkan fakta medis yang mengerikan dari kacamata psikologi. Penggunaan gawai yang ugal-ugalan tanpa batas waktu akan memicu fenomena over-stimulasi pada otak anak akibat paparan cahaya, suara, dan visual yang bergerak cepat.
“Paparan konstan itu merangsang senyawa kimia otak (neurotransmitter) secara berlebihan, memunculkan efek kesenangan semu yang berkepanjangan. Efeknya berbahaya: otak anak akan mengalami kejenuhan ekstrem (overwhelmed) atau kelelahan akut,” urai Ratih.
Dalam jangka panjang, kerusakan itu akan mulai terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan menjadi mudah bosan terhadap aktivitas fisik, tingkat fokus dan konsentrasi belajar merosot tajam, hingga memicu gangguan kecemasan (anxiety) yang parah saat gawai mereka dijauhkan.
Kitab Suci Durasi “Screen Time”
Sebagai benteng pertahanan, Ratih mendesak orang tua untuk menegakkan hukum batasan durasi tatap layar (screen time) yang saklek di rumah. Rumus pembagian usianya tidak boleh ditawar:
- Usia 0 sampai 2 tahun: Mutlak no screen time (nol menit gawai).
- Usia 3 tahun ke atas: Maksimal hanya boleh 1 jam dalam sehari.
- Masa remaja: Batas paling mentok adalah 3 jam sehari.
“Selain membatasi menitnya, orang tua juga wajib hukumnya meningkatkan stimulasi alternatif di dunia nyata. Buat aktivitas fisik yang menarik untuk melatih kembali fokus dan motorik anak,” tegas Ratih.
Libur sekolah adalah hak anak untuk bahagia. Namun, membiarkan anak bahagia dalam cengkeraman kecanduan gawai adalah bentuk pembiaran masa depan mereka rusak secara perlahan. Aturan menit screen time sudah dibeberkan, tips quality time sudah diwasiatkan. Kini pilihan ada di tangan Anda: mau tegas mengambil ponsel dari tangan anak demi menyelamatkan saraf otaknya, atau membiarkan layar digital itu perlahan merenggut masa kanak-kanak mereka. (Yolanda Oktaviani / Ra Indrata)




