MALANG POST – Duet pimpinan lembaga Multi-Channel Network (MCN) Superstar Agency, sebagai Top MCN TikTok, yakni CEO Andri Firmansyah bersama COO Michael Sugiharto, menggebrak industri kreatif digital dengan menggelar kompetisi bertajuk Superstar Livestreamer Championship Malang Edition di Kota Malang, Selasa (30/6/2026) malam. Langkah masif yang didukung penuh oleh TikTok Shop by Tokopedia ini digulirkan sebagai respons nyata untuk menjaring, melatih, serta mengatrol omzet para kreator pemula sekaligus mempertemukannya dengan produsen lokal di tengah pergeseran perilaku belanja masyarakat.
Di luar sana, banyak pengamat ekonomi meratap. Mengeluh. Mereka menyebut daya beli masyarakat sedang merosot, pasar retail lesu, dan perekonomian makro sedang berada di fase sulit.
Namun, jika Anda masuk ke ruang digital bernama live streaming, narasi sedih itu mendadak sirna. Menguap. Di sana yang ada justru cerita tentang perputaran uang yang gila-gilaan.
“Hari ini, saya bersyukur. Omzet kami tahun ini bisa dibilang jauh lebih tinggi daripada tahun lalu. Waktu orang bilang ekonomi turun, saya malah tidak mengalami,” ujar CEO Superstar Agency, Andri Firmansyah, di sela momentum Awarding Day di Kota Malang.
Andri tidak sedang membual. Industri belanja berbasis siaran langsung memang sedang berada di puncak gelombang. Pola konsumsi masyarakat sudah bergeser jauh. Dulu, orang membuka aplikasi belanja karena memang butuh membeli barang. Sekarang? Berubah total. Menonton orang berjualan secara langsung sudah menjadi hiburan harian alternatif.
Banyak orang menyalakan layar gawai, menonton para kreator bercakap-cakap, sambil menyetrika baju, memasak, atau sekadar rebahan. Persis seperti menemani diri sendiri. Di tengah keasyikan menonton itulah, jempol mereka iseng menekan tombol beli (check out).
Potensi raksasa inilah yang ditangkap oleh platform TikTok Shop by Tokopedia bersama Superstar Agency, yang juga Top MCN TikTok. Setelah sukses mengguncang Jakarta dan Surabaya, kini giliran arek-arek Malang Raya yang dijaring melalui wadah edukasi bertajuk bootcamp intensif.
Namun, mengalirkan cuan dari kamera ponsel itu bukan tanpa rintangan.

DUET: Pimpinan lembaga Multi-Channel Network (MCN) Superstar Agency, yakni CEO Andri Firmansyah bersama COO Michael Sugiharto, dalam momen Awarding Day Superstar Livestreamer Championship Malang Edition di Kota Malang. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
COO Superstar Agency, Michael Sugiharto, membeberkan batu sandungan terbesar para pemula. Masalahnya klasik: stamina verbal. Tidak semua orang memiliki mental baja untuk terus mengoceh menghibur penonton selama dua hingga tiga jam tanpa henti. Kebanyakan langsung bingung ingin berbicara apa di depan layar datar.
Di sinilah agensi bertindak sebagai penyelamat. Kreator cilik yang penontonnya mentok di angka dua atau tiga orang diberikan suntikan vitamin digital. Mereka diajari teknik retorika dagang yang memikat agar penonton betah bertahan lama.
Bukan itu saja. Skuad bentukan Andri dan Michael ini mengantongi pasokan senjata sakti dari platform yang tidak dimiliki oleh kreator mandiri: kupon potongan harga eksklusif dan dorongan lalu lintas digital (traffic) lewat anggaran iklan khusus.
“Bayangkan kalau kita siaran dengan harga yang lain Rp100 ribu, kita bisa jual Rp90 ribu karena ada subsidi voucer. Secara algoritma, itu menarik penonton. Yang tadinya cuma ditonton dua orang, tahu-tahu melonjak jadi 30 orang,” jelas Andri.
Lalu bagaimana dengan ketakutan para pelaku usaha lokal Malang terhadap gempuran produk impor berharga miring dari Jakarta?
Andri meminta pengusaha daerah membuang jauh-jauh mentalitas inferior tersebut. Persaingan pasar itu kepastian, tidak perlu ditakuti, melainkan harus dilawan dengan strategi matang. Sumpahnya tegas: arek Malang harus bisa menjadi raja di tanahnya sendiri.

THE BEST: COO Superstar Agency, Michael Sugiharto, menyerahkan award kepada Rerejuliana, sebagai runner up 2 Rising Star di ajang Superstar Livestreamer Championship Malang Edition. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Sebagai bukti komitmen, ajang kali ini menggandeng raksasa kosmetik asli Malang, MS Glow. Agensi bertindak sebagai makelar berkualitas yang mempertemukan merek lokal dengan barisan afiliator jempolan yang haus kemajuan.
Michael menambahkan, lewat program pelatihan internal bernama Digimaru, mereka sudah melahirkan banyak alumni tangguh yang merangkak dari titik nol hingga mampu menumbangkan dominasi barang impor. Tengok saja merek lokal seperti Moel atau Mam Uung. Produk mereka kini merajai keranjang kuning platform digital.
Anak muda generasi Z kini memiliki opsi jalur karier baru yang sangat realistis tanpa modal selangit. Menjadi afiliator adalah sekolah bisnis terbaik dengan risiko bangkrut yang minim.
Tangga suksesnya pun sudah dirancang sistematis oleh agensi. Target pertama adalah menyentuh omzet penjualan Rp30 juta sebulan agar setara upah minimum regional. Tangga kedua dikejar ke angka Rp100 juta.
“Idealnya, dalam waktu setahun, teman-teman harus bisa sampai di Rp1 miliar sebulan nilai perdagangannya. Itulah visi utama kami, mencetak sebanyak mungkin afiliator baru beromzet miliaran,” pungkas Andri penuh optimisme.
Sistem bimbingan sudah disiapkan, subsidi potongan harga sudah digelontorkan, dan contoh sukses brand lokal sudah dipamerkan. Sekarang tinggal anak-anak muda kreatif di Malang ditantang: mau terus mengeluh terjebak dalam masa sulit ekonomi luring, atau berani meraih omzet miliaran rupiah dari dalam kamar sendiri? (Ra Indrata)




