DARI KIRI: Michael Sugiharto (COO Superstar Agency), Alifyafarha (Runner up 1 Live Master), Rerejuliana (Runner up 2 Rising Star) dan Andri Firmansyah (CEO Superstar Agency) dalam Awarding Day Superstar Livestreamer Championship Malang Edition. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Dua srikandi kreator digital asal Malang Raya, Alifyafarha dan Rerejuliana, sukses menorehkan prestasi gemilang dalam malam penganugerahan Awarding Day Superstar Livestreamer Championship Malang Edition, yang digelar oleh TikTop Shop by Tokopedia bersama Superstar Agency di Malang, Rabu (1/7/2026). Langkah konsisten kedua Srikandi tersebut, berhasil mengantarkan Alifyafarha menyabet gelar Runner up 1 Live Master serta Rerejuliana sebagai Runner up 2 Rising Star berkat capaian volume perdagangan (Gross Merchandise Volume) yang fantastis melalui platform video pendek.
Dunia sudah berubah total. Jangan lagi memandang sebelah mata aktivitas perempuan yang hobi berbicara sendirian di depan kamera ponsel di dalam kamar. Di era ekonomi digital sekarang, aktivitas yang sering dikira iseng itu justru menjelma menjadi ladang bisnis raksasa yang menghasilkan omzet luar biasa.
Uang mengalir deras justru dari ruang tamu rumah.
Fenomena memikat itulah yang terpancar nyata dalam ajang Awarding Day, Superstar Livestreamer Championship Malang Edition. Hajatan besar hasil kolaborasi TikTop Shop by Tokopedia dengan Superstar Agency ini melahirkan bintang-bintang baru.
Dua sosok yang paling mencuri perhatian adalah Alifyafarha dan Rerejuliana. Alifyafarha sukses menembus posisi Runner up 1 Live Master. Sementara Rerejuliana, seorang ibu rumah tangga biasa, berhasil menggondol predikat Runner up 2 Rising Star.
Awal cerita mereka berdua sangat kontras. Jalurnya berbeda.
Rerejuliana memulai segalanya dari urusan hobi dandan. Perempuan ini gemar sekali memakai bulu mata palsu. Setiap minggu belanja. Beli dan beli terus. Sampai pada satu titik, dia bosan hanya menjadi konsumen. Dia mencoba membuat rekaman video ulasan produk.
Efeknya dahsyat. Sekarang, dia justru kebanjiran kiriman sampel barang gratisan dari berbagai produsen untuk dipromosikan. Iseng itu kini sah menjadi profesi tetap utamanya.

TALKSHOW: Rerejuliana saat menyampaikan cerita suksesnya sebagai livestreamer pemula, hingga bisa menyabet predikat Rising Star Award. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Lain lagi cerita Alifyafarha. Dia adalah potret ibu rumah tangga murni. Ketika anak-anaknya mulai tumbuh besar dan mandiri, suasana rumah mendadak sepi. Alifyafarha jenuh tidak ada kegiatan. Daripada menganggur, tiga tahun lalu dia nekat memfokuskan diri menjadi penyiar langsung di medsos.
Hasil ketekunan Alifyafarha membikin dahi berkerut. Berapa omzet penjualannya sekarang? “Omzet saya satu bulan itu, ya, sekitar di bawah 1 M (miliar),” akunya blak-blakan. Angka kotor yang masif. Dari total perputaran uang sekamar itu, Alifyafarha mengantongi komisi bersih berkisar antara 3 hingga 6 persen.
Bagaimana dengan Rerejuliana? Sebagai pendatang baru yang baru merangkak selama empat bulan, performanya terhitung melejit. Omzet kotornya sudah menyentuh angka Rp70 juta hingga Rp100 juta per bulan. Komisi bersih yang masuk ke dompetnya stabil di angka 10 persen.
Alasan mereka setia memilih platform ini seragam: fleksibilitas.
“Karena kita bisa bekerja di mana pun berada. Ke mana pun berada, kita bisa mendapatkan uang. Walaupun kita masih tidur atau melakukan aktivitas lain, kita masih tetap mendapatkan uang,” tutur Alifyafarha sembari tersenyum.
Rere menimpali. Dia sudah menjelajahi platform digital lain, namun tidak ada yang perputaran uangnya secepat di sini. Berkat keaktifan dan tingginya nilai transaksi mereka, keduanya kini difasilitasi langsung oleh Creator Manager (CM) internal platform untuk masuk ke ekosistem Superstar Agency.
Bagi Rere, kompetisi ini menjadi penyelamat karirnya. Maklum, dunia digital itu penuh riak. Ada fase naik dan turun. Saat performa penjualannya sedang melorot, agensi ini datang merangkul dan membakar kembali semangatnya untuk konsisten mengudara setiap hari.
Wejangan penutup dilempar oleh kedua jawara ini untuk para pemula di Malang Raya. Kunci utama di dunia ini hanyalah konsistensi dan nyali untuk memulai. Jangan ragu mengikuti setiap kompetisi yang ada untuk mendongkrak mentalitas.
Piala penghargaan sudah didekap, angka komisi sudah dihitung, sekarang tinggal para perempuan di Malang ditantang: mau tetap menjadi penonton layar ponsel, atau berani membuka kamera untuk menjemput rezeki digital masing-masing? (Ra Indrata)




