MALANG POST – Jajaran kepolisian Polres Malang, resmi meluncurkan tiga fasilitas pelayanan publik sekaligus, yakni Taman Sulipah Presisi berbasis teknologi keamanan, Masjid Budi Irianti, dan Gedung Tathya Dharaka di lingkungan Polsek Lawang, Kabupaten Malang, pada Jumat (26/6/2026). Peresmian massal yang dipimpin langsung oleh Kapolres Malang AKBP Muhammad Taat Resdi menjelang Hari Bhayangkara ke-80 ini sengaja diintegrasikan dengan sistem digital penunjang kamtibmas guna mempermudah akses pengaduan darurat bagi masyarakat di wilayah utara Malang.
Menata sistem keamanan di era modern itu tidak melulu soal menambah jumlah personel polisi di jalanan. Anggarannya pasti jebol. Personelnya terbatas. Siasat paling cerdas adalah mengawinkan infrastruktur sosial, keterlibatan warga, dan kecanggihan teknologi dalam satu wadah.
Polres Malang rupanya sangat paham rumus taktis ini.
Jumat (26/6/2026), wilayah utara Kabupaten Malang mendadak bersolek. Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, Polres Malang tidak menggelar seremoni potong tumpeng yang kaku di markas utama. Mereka memilih turun ke lapangan untuk meresmikan tiga fasilitas pelayanan publik sekaligus: Taman Sulipah Presisi, Masjid Budi Irianti, dan Gedung Tathya Dharaka Polsek Lawang.
Mari kita bedah yang pertama: Taman Sulipah Presisi. Ini bukan sekadar taman kota biasa tempat orang duduk melamun atau sekadar berfoto. Bukan.
Taman ini dirancang khusus sebagai ruang interaksi warga yang memiliki “mata dan telinga” pengintai. Di sudut-sudutnya tertanam kamera CCTV berkemampuan tinggi yang terkoneksi langsung (real-time) ke Command Center Polres Malang. Yang paling mewah: ada fasilitas tombol darurat alias Panic Button. Begitu tombol ditekan karena ada kriminalitas atau kecelakaan, alarm di polres langsung menjerit. Petugas terdekat langsung meluncur.

MASJID BARU: Kapolres Malang, saat meresmikan Masjid Budi Irianti, yang berada di lingkungan Polsek Lawang. (Foto: Humas Resma)
Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, menegaskan bahwa model keamanan terbaik adalah yang melibatkan partispasi aktif rakyat sekitar. Polisi tidak bisa bekerja sendirian di dalam menara gading.
”Melalui Taman Sulipah Presisi yang dilengkapi Panic Button ini, kami ingin membangun budaya saling peduli, saling menjaga, dan saling menolong sehingga masyarakat menjadi bagian dari sistem keamanan lingkungan,” kata AKBP Taat, Jumat (26/6).
Namun, Taat juga melempar catatan penting. Teknologi canggih tidak akan berguna jika mental warganya belum siap. Jangan sampai tombol darurat itu justru dijadikan mainan atau keisengan yang tidak bertanggung jawab. Kesadaran publik harus ikut naik kelas. Semakin bijak warga memanfaatkan tombol itu, semakin cepat pula deteksi dini terhadap potensi tindak kejahatan dilakukan.
”Kami berharap inovasi ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain,” tambahnya.
Geser ke fasilitas kedua. Kapolres juga meresmikan hasil renovasi total Masjid Budi Irianti. Letaknya yang strategis membuat tempat ibadah ini tidak hanya dikhususkan bagi anggota Polri yang bertugas. Masjid ini sengaja dibuka lebar sebagai rest area spiritual bagi masyarakat umum dan para pengguna jalan antar-kota yang kelelahan dan butuh tempat istirahat yang nyaman.
Terakhir, ada peresmian Gedung Tathya Dharaka di Polsek Lawang. Menariknya, gedung baru ini tidak dibangun dengan cara membuang anggaran besar secara boros. Manajemen polres memanfaatkan ulang aset-aset lama yang terbengkalai, lalu direkonstruksi ulang menjadi ruang pelayanan terpadu yang representatif dan nyaman bagi warga Lawang.
Tiga proyek ini selesai dalam waktu berdekatan. Ini menjadi bukti konkret dari semangat kolaborasi yang kuat antara Polri, pemuka agama, aparatur pemerintah, hingga sokongan dunia usaha lokal. Ulang tahun ke-80 ini berhasil dirayakan dengan menyerahkan fasilitas nyata ke tangan publik.
Tombol Panic Button sudah dipasang, masjid sudah wangi, gedung pelayanan sudah tegak berdiri. Sekarang tinggal warga Lawang ditantang: sanggupkah merawat aset-aset mahal ini dengan bijak? (HmsResma / Ra Indrata)




