MALANG POST – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu bersama jajaran akademisi, komunitas Saber Pungli, dan pegiat seni menggelar Diskusi Sosio-Ekologi Hulu-Hilir bertajuk Greenation 2026 “Garis Hijau” di Gedung Simon Stock, Kota Batu, pada Jumat (26/6/2026). Forum taktis lintas sektor ini sengaja dibuka lewat pemutaran film dokumenter Songgoriti guna membedah ancaman krisis mata air di kawasan hulu akibat masifnya tekanan pembangunan pariwisata dan alih fungsi lahan.
Mengurus lingkungan itu tidak bisa diserahkan ke pundak dinas kebersihan semata. Mustahil berhasil. Pemerintah punya keterbatasan anggaran dan personel.
Sementara laju pembangunan dan ekspansi pariwisata bergerak laksana monster: cepat dan rakus melahap ruang hijau.
Jika kawasan hulu di pegunungan Batu ini jebol, daerah hilir di sekitarnya yang akan menanggung bencana.
Sadar akan ancaman nyata itu, sebuah forum berbeda digelar di Gedung Simon Stock, Kota Batu. Namanya mentereng: Diskusi Sosio-Ekologi Hulu-Hilir.
Acara ini merupakan bagian dari hajatan besar Greenation 2026 bertema “Garis Hijau”.
Suasana di dalam gedung hangat. Dinamis. Ini bukan model rapat birokrasi yang kaku dan membosankan. Ini adalah ruang benturan ide.

DISKUSI: Diskusi Sosio-Ekologu Hulu-Hilir yang digelaf di gedung Simon Stock mempertemjkan akademisi, komunitas, aktivis lingkungan, pegiat seni, pelajar hingga masyarakat umum pencinta linkungan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Tiga narasumber dihadirkan di atas panggung. Ada Herman Aga dari Komunitas Saber Pungli, pakar sosiologi Universitas Brawijaya Anton Novianto, dan Kepala DLH Kota Batu Dian Fachroni.
Pesertanya komplet: mulai dari aktivis tulen, seniman, mahasiswa, hingga anak-anak sekolah.
Sebelum adu argumen dimulai, lampu ruangan dimatikan. Peserta dipaksa menonton film dokumenter berjudul Songgoriti.
Film hasil riset keroyokan ini membuka mata semua orang tentang potret muram perubahan sosial dan lingkungan di kawasan wisata legendaris tersebut.
Benang merahnya telanjang: pembangunan hotel dan pergeseran fungsi lahan selalu mengorbankan kondisi ekologis setempat.
Menurut Anton Novianto, lanskap alam dan lanskap sosial di Songgoriti itu saling mengunci. Perubahan lingkungan selalu berbanding lurus dengan pergeseran ekonomi masyarakat.
“Keduanya membentuk arah masa depan suatu wilayah,” kata Anton.
Pembahasan lalu menukik tajam pada urusan vital: nasib mata air Kota Batu. Isu ini sensitif karena Batu adalah menara air bagi daerah-daerah di bawahnya.
Herman Aga dari Saber Pungli mengingatkan, indikator kerusakan di lapangan sudah berada di tahap lampu kuning. Butuh tindakan antisipasi yang cepat.
Tidak bisa lagi diselesaikan secara parsial atau sekadar bagi-bagi bantuan bibit pohon di atas kertas. Perlu kajian mendalam dan eksekusi lintas sektor.
Menanggapi kritik itu, Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni, justru tersenyum. Dia menegaskan, birokrasi zaman sekarang tidak boleh anti-kritik. Masukan dari masyarakat adalah vitamin untuk perbaikan kebijakan.
Dian justru punya siasat baru. Edukasi lingkungan tidak boleh lagi memakai metode pidato formal yang bikin kantuk. Harus didekatkan dengan gaya hidup anak muda. Lewat media seni, budaya, fotografi, pameran seni rupa, hingga pemutaran film dokumenter.
“Kami ingin isu lingkungan ini menjadi obrolan warung kopi yang asyik bagi anak muda,” ungkap Dian.
Greenation 2026 ini sejatinya sudah bergulir sepanjang bulan Juni melalui aksi nyata.
Mulai dari gerakan Jumat Bersih di Kali Kebo dan Sumber Belik Tanjung, edukasi sampah untuk anak usia dini, hingga pameran seni instalasi bertajuk Tanah Air di Gedung Simon Stock. Bahkan, DLH sempat memamerkan mesin pembersih jalan otomatis, Green Former.
Puncak acara ini nantinya ditutup dengan Anugerah Lingkungan Hidup. Namun, piala itu bukan target utama. Pesan besarnya tetap satu: lingkungan ini adalah warisan untuk anak cucu. Menjaganya adalah tugas iman bersama, bukan cuma tugas satu dinas.
Peta kerusakan sudah dibedah, ruang kritik sudah dibuka lebar oleh kepala dinas, sekarang tinggal anak-anak muda dan seniman Batu ditantang: sanggupkah menjaga “Garis Hijau” ini tetap tegak di lapangan? (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




