MALANG POST – Universitas Brawijaya (UB) mencatat peningkatan pada 14 dari 17 indikator Sustainable Development Goals (SDGs) dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026.
UB tetap berada pada kelompok 401–600 dunia secara overall dan menunjukkan penguatan kinerja keberlanjutan pada mayoritas indikator yang dinilai.
Pada beberapa indikator, jumlah institusi yang dinilai bahkan mencapai lebih dari seribu perguruan tinggi dunia. Di tengah kompetisi global yang semakin ketat tersebut, Universitas Brawijaya mampu meningkatkan kinerja pada 14 indikator SDGs yang diikutsertakan.
THE Sustainability Impact Ratings merupakan pemeringkatan internasional yang diterbitkan oleh Times Higher Education (THE) untuk mengukur kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui aktivitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola, dan kemitraan.
Berdasarkan hasil pemeringkatan tahun 2026, UB mencatat peningkatan pada 14 indikator SDGs, yaitu SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 5 (Gender Equality), SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 7 (Affordable and Clean Energy), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), SDG 10 (Reduced Inequalities), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 13 (Climate Action), SDG 14 (Life Below Water), SDG 15 (Life on Land), SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals).
Sementara itu, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) mempertahankan posisinya pada kelompok 201–300 dunia, sedangkan SDG 1 (No Poverty) dan SDG 4 (Quality Education) mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejumlah indikator menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Pada SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), UB meningkat dari posisi 301–400 dunia pada tahun 2025 menjadi 101–200 dunia pada tahun 2026. Peningkatan serupa juga terjadi pada SDG 14 (Life Below Water) yang naik dari kelompok 401–600 menjadi 101–200 dunia.
Kemajuan yang menonjol terlihat pada SDG 13 (Climate Action) yang melonjak dari posisi 801–1000 dunia pada tahun 2025 menjadi 301–400 dunia pada tahun 2026.
Selain itu, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) meningkat dari kelompok 401–600 menjadi 201–300 dunia, sementara SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) naik dari 401–600 menjadi 201–300 dunia.
Di bidang kesehatan dan kesejahteraan, SDG 3 (Good Health and Well-being) meningkat dari kelompok 401–600 menjadi 301–400 dunia, sedangkan SDG 2 (Zero Hunger) naik dari 201–300 menjadi 101–200 dunia.
Hendrix Yulis Setyawan, PhD, Kepala UPT Global Partnership and Reputation Universitas Brawijaya, menjelaskan. Bahwa penurunan pada SDG 1 dan SDG 4 dipengaruhi oleh beberapa indikator spesifik dalam metodologi penilaian THE.
“Penurunan SDG di atas dikarenakan berkurangnya jumlah program anti-poverty for community yang dilaporkan pada SDG 1. Sementara pada SDG 4, penurunan dipengaruhi oleh indikator life-long learning measures serta menurunnya jumlah mahasiswa first generation yang menjadi bagian dari penilaian THE Sustainability Impact Ratings,” jelas Hendrix.
Menurutnya, hasil tahun 2026 tetap menunjukkan tren yang positif karena sebagian besar indikator mengalami peningkatan dan UB tetap berada pada kelompok 401–600 dunia secara keseluruhan.
Menanggapi hasil tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya, Prof. Imam Santoso, menegaskan bahwa capaian tahun ini menjadi motivasi bagi UB untuk terus memperkuat kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Peningkatan pada 14 indikator SDGs menjadi capaian yang membanggakan karena diraih di tengah bertambahnya jumlah perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam pemeringkatan ini.”
“Hal tersebut menunjukkan bahwa program-program Universitas Brawijaya semakin diakui kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan di tingkat global,” ujar Prof. Imam.
Menurut Prof. Imam, UB akan memperkuat program-program pemberdayaan masyarakat melalui desa binaan, pendampingan UMKM, pengembangan ekonomi berbasis inovasi, serta berbagai kegiatan pengabdian yang memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat capaian pada SDG 1 melalui peningkatan kontribusi program pengentasan kemiskinan yang terdokumentasi dan terukur.
Pada aspek pendidikan, UB juga akan memperluas implementasi program lifelong learning melalui pelatihan, sertifikasi profesional, kursus terbuka, pendidikan berkelanjutan, serta berbagai bentuk pembelajaran sepanjang hayat yang dapat diakses masyarakat luas.
Selain itu, universitas akan terus memperkuat akses pendidikan bagi mahasiswa generasi pertama (first-generation students) melalui berbagai program afirmasi, beasiswa, dan kegiatan outreach ke sekolah-sekolah di berbagai daerah.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat program pengabdian kepada masyarakat, pendidikan inklusif, penelitian yang berdampak, serta kemitraan strategis untuk meningkatkan kontribusi Universitas Brawijaya terhadap pencapaian SDGs.”
“Capaian ini menunjukkan bahwa UB tidak hanya berfokus pada reputasi akademik, tetapi juga pada dampak nyata yang diberikan kepada masyarakat,” tambahnya.
Peningkatan pada 14 indikator SDGs dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026 memperlihatkan semakin kuatnya implementasi SDGs dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Universitas Brawijaya.
Berbagai program pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi strategis yang dijalankan UB terus memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Dengan posisi overall ranking pada kelompok 401–600 dunia serta peningkatan pada mayoritas indikator SDGs, Universitas Brawijaya optimistis dapat terus memperluas dampaknya sebagai perguruan tinggi bereputasi internasional yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




