DALANG: Bupati Sanusi saat menyerahkan gunungan, sebagai simbol dimulainya malam puncak Bersih Desa ke-78 Desa Argoyuwono Ampelgading. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST — Bupati Malang, HM Sanusi, melakukan maraton kegiatan kemasyarakatan sepanjang akhir pekan, dengan menghadiri malam puncak Bersih Desa ke-78 di Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading, pada Sabtu (21/6/2026) malam. Lalu berlanjut membuka lomba burung berkicau “Murai Batu Malang Selatan (MBMS)” Piala Bupati Malang 2026 di Gantangan Galang Arena, Kepanjen, pada Minggu (21/6/2026) siang. Dua agenda massal ini dimanfaatkan oleh Bupati, untuk menggenjot sektor ekonomi kerakyatan berbasis pariwisata desa dan ekosistem hobi satwa.
Akhir pekan bagi seorang kepala daerah itu mahal harganya. Tidak ada waktu untuk bersantai. Sabtunya bergerak ke ujung timur lereng gunung, Minggunya bergeser ke tengah ibu kota kabupaten.
Itulah marathon agenda yang baru saja dilakoni Bupati Malang, Sanusi.
Malam Minggu kemarin (21/6/2026), Sanusi memboyong istrinya yang juga Ketua TP PKK Kabupaten Malang, Hj. Anis Zaidah Sanusi, ke Kecamatan Ampelgading. Mereka menembus malam untuk hadir di malam puncak ulang tahun ke-78 dan Bersih Desa Argoyuwono.
Warga di sana menyambut hangat kedatangan pemimpinnya yang akrab disapa Abah dan Umik itu. Mereka “Malam Mingguan” bersama. Duduk lesehan menyaksikan pertunjukan wayang kulit sembari menikmati angin malam.
Tapi Bupati datang tidak dengan tangan hampa. Ada hadiah khusus yang dibawa di dalam bagasi mobilnya: satu unit televisi gres. TV itu diserahkan langsung kepada Kepala Desa Argoyuwono.
Bukan tanpa alasan. Ini adalah penghargaan bisnis birokrasi karena Argoyuwono sukses menyabet predikat sebagai desa tercepat dalam pelunasan pajak. Bukan hanya di tingkat kecamatan, tapi terbaik se-Kabupaten Malang. Tertib pajak harus diganjar hadiah.

BERKICAU: Bupati Malang, ketika membuka Lomba Burung Berkicau “Murai Batu Malang Selatan (MBMS)” Piala Bupati Malang 2026. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
Sanusi memuji habis keguyuban warga setempat. Dalam arahannya, dia menyelipkan filosofi teologis tentang gotong royong dan sedekah. Bagi Sanusi, bersih desa secara mandiri adalah bentuk nyata dari sedekah komunal. Aturan agamanya jelas: sedekah satu kali akan diganti sepuluh kali lipat oleh Allah, sekaligus berfungsi menolak bala musibah.
“Siapa yang paling banyak bersedekah, itu juga yang akan paling banyak mendapat balasan di dunia dan akhirat,” kata Sanusi.
Gayung bersambut, urusan gotong royong warga ini mau diarahkan ke sektor ekonomi yang lebih produktif. Kepala Desa melaporkan rencana besar mereka: membangun wisata desa baru yang memanfaatkan pemandangan eksotis Gunung Semeru.
Konsepnya keren: One Village, One Destination. Lokasinya sudah dikunci, di sekitar Bukit Aruna, dekat pos pantau aktivitas Gunung Semeru. Jalan desa yang dilaporkan sudah bagus menjadi modal awal yang kokoh.
Sanusi langsung kepincut. Dia menggaransi dukungan penuh Pemkab Malang. Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) langsung diinstruksikan turun gunung mendampingi desa demi menyukseskan proyek wisata bukit tersebut.
Malam berganti siang. Minggu tengah hari (21/6/2026), lokasi bergeser ke Gantangan Galang Arena, Kota Kepanjen. Suasananya tidak kalah riuh, tapi kali ini dipenuhi oleh cuitan ribuan burung.
Sanusi hadir di sana untuk menyaksikan langsung perhelatan bergengsi: Lomba Burung Berkicau “Murai Batu Malang Selatan (MBMS)” Piala Bupati Malang 2026.
Ajang kolaborasi MBMS Feat Juri SKN ini menjadi magnet luar biasa bagi para kicaumania. Penasaran para jawara dari dalam dan luar kota tumpah ruah di arena. Dari podium kebanggaan, Sanusi berkesempatan menyerahkan piala dan hadiah kepada pemenang Juara I Kelas Bupati.
Di hadapan komunitas burung, kacamata Sanusi kembali melihat peluang ekonomi. Lomba burung seperti ini jangan hanya dilihat sebagai tempat menyalurkan hobi atau ajang adu gengsi semata. Ini adalah penggerak ekonomi kerakyatan tingkat tinggi.
Kehadiran ribuan peserta dari berbagai daerah otomatis menghidupkan ekosistem di sekitarnya. Penginapan terisi. UMKM kuliner laris manis. Jasa transportasi bergerak, sampai perajin sangkar burung kecipratan berkah ekonomi. Komunitas hobi terbukti mampu berkontribusi nyata menyetor rupiah bagi daerah, sekaligus mengampanyekan pelestarian satwa dan lingkungan hidup.
Sanusi berharap turnamen berbasis hobi ini bisa terus dijaga sportivitasnya dan digelar secara rutin. “Ini bentuk nyata bahwa komunitas hobi dapat berkontribusi dalam memperkuat ekonomi daerah,” tegasnya.
Dua hari, dua tempat, dua karakter massa yang berbeda. Tapi intinya sama: jika tradisi dan hobi dikelola dengan manajemen yang benar, ekonomi rakyat kecil pasti akan ikut berputar kencang. (PKP/Ra Indrata)




