KAWAN PERS: Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, ketika melakukan door stop bersama jurnalis di lobi Mapolres Malang. (Foto: Humas Resma)
MALANG POST – Polres Malang menggelar Lomba Sistem Keamanan Lingkungan (Satkamling) massal di berbagai desa sewilayah Kabupaten Malang, yang puncaknya dinilai pada Senin (22/6/2026). Kompetisi yang digagas oleh Kapolres Malang AKBP Muhammad Taat Resdi dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 ini, bertujuan untuk membangkitkan kembali budaya ronda malam dan gotong royong warga sebagai pilar utama pencegahan kriminalitas di tingkat akar rumput.
Menjaga keamanan daerah itu tidak bisa kalau hanya mengandalkan jumlah personel polisi. Kurang. Tidak akan pernah cukup. Pilar utamanya justru ada di tangan masyarakat sendiri. Lewat kebiasaan lama yang mulai pudar: ronda malam.
Kesadaran itulah yang ingin dihidupkan kembali oleh Polres Malang.
Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, korps baju cokelat ini punya cara sendiri yang sangat membumi. Senin kemarin (22/6), mereka menggelar Lomba Satkamling. Sasarannya langsung menembak jantung pertahanan lingkungan paling bawah. RT dan RW.
Bagi Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, agenda ini bukan sekadar urusan kompetisi cari pemenang piala. Bukan. Ini taktik untuk mendorong partisipasi aktif warga. Polisi ingin memperkuat kemitraan dengan masyarakat. Satkamling, menurut Taat, masih menjadi pilar paling kokoh untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
“Lomba ini kami selenggarakan bukan sekadar kompetisi, tetapi sebagai upaya menghidupkan kembali budaya ronda dan semangat gotong royong,” kata Taat.
Sistem penilaiannya pun dibuat seru. Dan sedikit mendebarkan bagi pengurus desa. Tim dari Polres Malang bergerak secara acak selama sepekan penuh. Mereka turun ke lapangan tanpa pemberitahuan kaku. Mendatangi satu per satu pos kamling di pelosok desa secara mendadak untuk melihat potret riil pelaksanaan ronda di malam hari.
Ingat, panitia tidak bisa dikibuli dengan pos ronda yang hanya tampak mentereng secara fisik. Cat baru atau bangunan megah tidak menjamin nilai tinggi.
Tim penilai Polres Malang bakal menguliti aspek pendukung secara menyeluruh. Yang dilihat adalah kesiapan riil warga. Apa saja? Mulai dari urusan administrasi, keaktifan jadwal ronda, kelengkapan sarana prasarana pendukung, hingga seberapa masif keterlibatan aktif masyarakat sekitar saat malam merayap kian larut.
Bagi Taat, Satkamling adalah bukti otentik kepedulian warga. Di tengah pergeseran situasi sosial yang kian cuek, budaya ini harus dirawat habis-habisan.
Logikanya sederhana secara bisnis keamanan: jika warga aktif berjaga, berbagai potensi gangguan kamtibmas bisa dideteksi dini. Bisa dicegah sejak awal sebelum menggelinding menjadi masalah kriminalitas yang besar. Keamanan adalah tanggung jawab komunal. Bersama-sama.
Hingga hari ini, proses penilaian senyap itu masih berjalan. Tim masih blusukan menyisir desa-desa di Kabupaten Malang. Pos kamling yang dinilai paling konsisten dan terbaik dipastikan bakal diganjar penghargaan khusus dari Polres.
Harapan besarnya, lomba ini bisa menjadi pemantik api semangat yang sempat padam. Biar warga kembali gemar ronda malam.
Jika budaya siskamling ini terus hidup dan berdenyut di kampung-kampung, maka sinergi antara polisi dan warga akan terbangun secara otomatis. Aman negaranya, tenang tidurnya warga Kabupaten Malang. (HmsResma / Ra Indrata)




