Walikota Malang, Wahyu Hidayat, bersama Kepala OPD terkait saat meninjau SRMP Kota Malang. Murid Baru SR di Kota Malang berpotensi dititipkan ke daerah lain karena belum punya gedung sendiri. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Seleksi Penerimaan Siswa Baru (SPMB) untuk Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SMRP) 16 Kota Malang hingga kini belum ada kejelasan. Karena Dinas Sosial (Dinsos) P3AP2KB Kota Malang belum menerima perintah dan petunjuk dari pusat untuk SPMB SMRP.
Namun, untuk SPMB SRMA justru Kota Malang telah mendapatkan perintah untuk melaksanakannya. “Untuk saat ini laporan dari teman-teman PKH (program keluarga harapan) sudah terdata 130 orang yang mendaftar jadi calon murid baru SRMA 22 Kota Malang. Selanjutnya nanti, mereka akan menjalani proses administrasi,” ujar Donny Sandito W, Kepala Dinsos P3AP2KB Kota Malang, kepada Malang Post di Kantor Kecamatan Sukun, kemarin.
Untuk SRMA ini, Kota Malang mendapat kuota tiga rombongan belajar (rombel). Atau sejumlah 75 anak. Karena satu rombel berjumlah 25 siswa.
Informasi dari Kementerian Sosial (Kemensos), lanjut Donny, siswa SRMA Kota Malang yang lolos seleksi, nantinya akan ditetapkan ke SRMA yang telah memiliki gedung sekolah yang permanen. Donny mengaku belum mengetahui ke daerah mana saja mereka akan dititipkan.
“Entah di Kota atau Kabupaten Blitar, atau Kabupaten Malang. Jadi masih melihat lagi,” papar Donny.
Sedang untuk SRMP 16 Kota Malang, menurut Donny, pihaknya belum mendapat petunjuk dari Kemensos. Seandainya nanti ada seleksi dan murid baru dititipkan ke sekolah yang sudah punya gedung permanen, Donny berharap lokasinya yang tidak jauh dari Kota Malang.
Donny mengungkapkan, kebijakan siswa baru sekolah rakyat (SR) ini dititipkan, karena hingga tahun ajaran baru 2026/2027 gedung SR di Kota Malang belum dibangun. Donny belum mengetahui, Kota Malang masuk dalam kelompok ke berapa gedung SR-nya dibangun.
“Blitar, Pasuruan dan Kabupaten Malang, itu masuk byte (kumpulan) pertama. Byte pertama ada 93 sekolah yang sudah jadi. Setelah itu byte kedua dibangun. Harapan kami pada Juli 2026, byte kedua mulai dibangun,” jelasnya.
Menurut Donny, penitipan siswa SR ke luar daerah itu khusus untuk siswa baru. Untuk siswa lama tetap di sekolah lama. Yaitu SRMP di Poltekom Tlogowaru dan SRMA di eks gedung APDN Jalan Kawi.
Ditanya mengapa Kota Malang tidak masuk byte pertama, padahal pendirian SR di Kota Malang termasuk yang awal, Donny menduga karena adanya pemindahan lahan untuk calon bangunan SR dari awalnya di Buring ke Arjowinangun.
Donny mengaku kini lokasi pembangunan SR telah mengerucut di kawasan Babatan, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang. Ini setelah dua usulan lokasi sebelumnya tidak dapat direalisasikan.
Keputusan itu diambil usai mempertimbangkan aspek tata ruang, status lahan, hingga potensi konflik dengan masyarakat. Lokasi yang pertama kali diusulkan tidak mendapat persetujuan dari Dinas Pekerjaan Umum (PU). Alasannya, lahan yang akan digunakan tidak memenuhi kebutuhan pembangunan dari kondisi lahan kosong.
Setelah itu, Pemkot mengajukan alternatif lahan di sebelah GOR Ken Arok. Namun, opsi itu juga kandas karena sebagian area masuk dalam ruang terbuka hijau (RTH) kota dan berbatasan langsung dengan lahan milik warga.
Menurut Donny, kondisi itu berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila hanya sebagian lahan yang dialihfungsikan untuk SR, sementara lahan masyarakat di sekitarnya tetap dipertahankan.
“Kalau yang digunakan hanya sebagian, dikhawatirkan akan menimbulkan keberatan dari masyarakat,” ungkapnya.
Kini, lokasi yang dipilih berada di Arjowinangun dengan luas sekitar 5,4 hektare. Lahan itu merupakan RTH tingkat kelurahan yang saat ini berfungsi sebagai lapangan sepak bola.
Meski berstatus RTH, Donny menyebut lokasi itu masih memungkinkan dialihfungsikan setelah melalui koordinasi dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR). Namun, terdapat syarat yang harus dipenuhi, yakni menyediakan lapangan pengganti sebagai kompensasi.
Donny menjelaskan, konsep Sekolah Rakyat yang akan dibangun mencakup jenjang pendidikan lengkap mulai SD, SMP hingga SMA dalam satu kawasan. (Eka Nurcahyo)




