MALANG POST – Pekan lalu, ada pemandangan menarik di Rumah Dinas Menristekdikti. Sang Menteri, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., terlihat sedang menjalani terapi infus Nano Bubble. Kabar ini bukan sekadar cerita kesehatan biasa, melainkan titik awal sebuah kolaborasi besar bagi dunia bioteknologi tanah air.
Rekomendasi terapi tersebut datang dari sahabat karibnya, Prof. Widodo, yang juga merupakan Rektor Universitas Brawijaya (UB). Rupanya, pengalaman merasakan langsung manfaat teknologi keseimbangan tubuh ini membuat Prof. Brian bergerak cepat. Tak butuh waktu lama, Senin pagi ini, pintu ruang kerja Menristekdikti terbuka lebar bagi para punggawa IMI-RAHO Club.
Pertemuan Tingkat Tinggi di Ruang Menteri
Pertemuan pagi tadi berlangsung hangat namun penuh visi. Duduk melingkar adalah para stakeholder utama yang selama ini menjadi mesin penggerak IMI-RAHO Club.

Di sisi kiri, hadir Prasetio selaku Pimpinan Raho Premier, berdampingan dengan Ir. Tintrim Rahayu, M.Si., Sekretaris IMI (Inovasi Molekuler Indonesia). Hadir pula sosok sentral di balik lahirnya komunitas ini, sang Founder dan penggagas RAHO Club, Kan Eddy, didampingi Ny. Kan Eddy.
Yang membuat pertemuan ini berbobot “akademik tinggi” adalah kehadiran tim ahli yang menjadi otak di balik riset Nano Bubble: Prof. Sutiman Bambang Sumitro bersama Prof. Sabaruddin (Ketua IMI), serta dr. Aditya Tri Hernowo, Ph.D. Mereka adalah para peneliti dan pelaksana kegiatan akademik yang memastikan setiap layanan IMI-RAHO Club berdiri tegak di atas fondasi ilmiah yang kuat.
Sinergi Kemenristekdikti dan Kemenkes
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi. Ada agenda besar di balik diskusi tersebut. Kemenristekdikti kini tengah memperkuat sinergi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengintegrasikan pendidikan tinggi, riset, dan ilmu pengetahuan ke dalam kebijakan kesehatan masyarakat.

Prof Brian Yuliarto ST MEng PhD, Menristekdikti, sedang infus nano bubble di Rumah Dinasnya, pekan lalu. (Foto: Istimewa)
Kerja sama lintas kementerian ini bertujuan untuk memastikan inovasi di bidang kesehatan—seperti teknologi Nano Bubble yang dikembangkan oleh tim Prof. Sutiman—bisa mendapatkan ruang yang layak. Tujuannya satu: meningkatkan kualitas tenaga medis dan menghadirkan solusi kesehatan yang berbasis riset asli dalam negeri.
Menuju Kemandirian Bioteknologi
Bagi IMI-RAHO Club, dukungan dari Menristekdikti adalah validasi penting.
“Konsep reverse aging dan homeostasis yang kita usung bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan bagian dari masa depan riset kesehatan Indonesia,” kata Founder dan penggagas IMI-RAHO Club, Kan Eddy.
Dengan teknologi Intelligent Gas Delivery System (IGDS) dan riset molekuler yang terus berkembang, IMI-RAHO Club siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam menciptakan layanan kesehatan yang inovatif dan terukur.
“Ke depan, kita berharap kolaborasi ini melahirkan kebijakan yang mendukung masyarakat untuk mendapatkan akses kesehatan yang lebih optimal, seimbang, dan tentu saja berbasis teknologi tinggi,” tambahnya.
Dari Rumah Dinas ke Ruang Menteri, perjuangan untuk hidup lebih berkualitas baru saja dimulai. (Ra Indrata)




