MALANG POST – Gejolak ekonomi global akibat melonjaknya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus angka Rp18.000, resmi memukul sektor hilir pariwisata di Kota Batu. Manajemen Pusat Oleh-oleh Buah Tangan di kawasan Kecamatan Junrejo, melalui General Manager Didik Sulistyo pada Jumat (12/6/2026) kemarin, mengonfirmasi bahwa fluktuasi kurs ini, memaksa para pelaku usaha menaikkan harga eceran sejumlah produk ikonik daerah, seperti keripik buah dan olahan apel, akibat membengkaknya biaya produksi kemasan (packaging) impor.
Dolar itu jauh di Amerika sana. Tapi begitu nilainya mengamuk sampai menembus Rp18 ribu, getarannya langsung terasa sampai ke rak-rak pusat oleh-oleh di Kota Batu. Berantai. Menyerang bisnis kuliner dan buah tangan milik orang kecil.
Dampaknya nyata. Para pelaku usaha kini dipaksa memutar otak. Sebab, para mitra supplier di hulu ramai-ramai menjerit, meminta koreksi harga.
Manajemen Pusat Oleh-oleh Buah Tangan di Kecamatan Junrejo, Kota Batu, tidak bisa berkutik. Model bisnis mereka adalah konsinyasi. Barang titipan. Toko tidak punya banyak ruang untuk menolak kemauan pemasok.
“Ketika para mitra supplier meminta koreksi harga akibat biaya produksi mereka yang membengkak, maka harga eceran di hilir otomatis ikut naik,” ujar General Manager Buah Tangan, Didik Sulistyo, Jumat (12/6).

NAIK HARGA: Efek domino melemahnya nilai tukar rupiah ke dolar membuat harga oleh-oleh di Kota Batu mulai merangkak naik. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kenaikannya bervariasi. Ada yang naik tipis Rp1.000, banyak juga yang melonjak sampai ribuan rupiah per item.
Uniknya, pemicu utama lonjakan harga ini bukan berasal dari bahan baku utama. Apelnya tetap murah, tempenya tetap melimpah. Yang bikin celaka adalah komponen pendukung yang selama ini kerap luput dari perhatian kita: kemasan.
Material packaging seperti plastik pembungkus, kardus, hingga stoples menderita kenaikan signifikan. Mengapa? Karena bahan baku pembuat kemasan itu ternyata masih bergantung pada komoditas impor yang sensitif terhadap fluktuasi kurs dolar.
Imbasnya langsung memukul produk favorit wisatawan. Mari kita bedah angkanya:
- Keripik Tempe: Naik dari Rp13 ribu menjadi Rp14 ribu per bungkus.
- Sambal Lauk Stoples: Melonjak tajam dari Rp33 ribu menjadi Rp40 ribu.
- Keripik Buah Premium: Naik dari Rp76 ribu menjadi Rp80 ribu per bungkus.
- Pie Apel (Ikon Batu): Merangkak naik dari Rp36 ribu menjadi Rp37 ribu.
Didik cemas. Jika rupiah terus melemah tanpa intervensi pemerintah, bukan mustahil harga kue pie apel akan kembali terkerek naik hingga menyentuh Rp40 ribu.
Kondisi dingin ini rupanya mulai mengubah psikologi belanja pelancong. Wisatawan kini menjadi lebih pelit—eh, maksud saya lebih berhitung.
Dulu, pelancong gemar memborong dalam jumlah besar, lalu minta dikemas rapi menggunakan kardus tebal. Sekarang pola itu bergeser secara mencolok. Banyak yang mengurangi kuantitas belanja atau beralih menggunakan kantong plastik biasa demi menekan biaya tambahan kardus.
“Kalau dulu banyak yang minta packing kardus besar, sekarang lebih banyak yang pilih plastik biasa supaya lebih hemat,” cerita Didik.
Ini sinyal darurat. Tekanan ekonomi sudah menembus kepala konsumen. Harapan pelaku usaha di Kota Batu sekarang hanya satu: rupiah harus segera stabil. Jika gejolak kurs ini dipelihara terlalu lama, pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi bumi Arema dipastikan akan melambat. Jangan sampai dolar menang, pariwisata kita yang tumbang. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




