MALANG POST – Sektor penjaga gawang Arema FC, dipastikan bakal berwajah baru pada musim kompetisi mendatang. Menyusul langkah radikal manajemen, yang melakukan rombakan besar-besaran dengan hanya menyisakan satu kiper lokal, Adi Satryo. Evaluasi total lini pertahanan ini dikonfirmasi langsung oleh General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, pasca-resminya perpisahan dengan Andrian Casvari pada Senin (8/6/2026) lalu, disusul perginya Lucas Frigeri, serta selesainya masa pinjaman Gianluca Pandeynuwu untuk kembali ke Persis Solo.
Posisi kiper dalam sepak bola itu sunyi sekaligus kejam. Kalau tim menang, penyerang yang dipuji-puji. Tapi kalau tim kalah karena sebiji gol, kiper yang paling merana dituding sebagai biang kerok.
Maka, menjaga kestabilan mental di bawah mistar gawang itu urusan rumit. Sangat sulit.
Rupanya, kerumitan itulah yang membuat manajemen Arema FC mengambil keputusan radikal pekan ini. Mereka tidak mau tanggung-tanggung. Sektor pertahanan terakhir Singo Edan dirombak total. Cuci gudang.
Dari sekian banyak penjaga gawang yang berjejer di skuad musim lalu, manajemen hanya menyisakan satu nama: Adi Satryo.
Sisanya? Harus angkat koper dari bumi Arema. Nama-nama beken seperti kiper asing Lucas Frigeri dan kiper muda Andrian Casvari, dipastikan tidak mendapatkan perpanjangan kontrak untuk musim depan.
Khusus untuk Andrian Casvari, lembar perpisahan itu sudah diteken resmi sejak Senin, 8 Juni lalu. Pemain yang direkrut dari Madura United pada musim 2024/2025 ini, memang tergolong langka mendapatkan menit bermain di tim senior. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bertarung di kompetisi Elite Pro Academy (EPA) bersama Ongis Nade Licek (Arema U-20) sebanyak enam kali penampilan.
Lalu bagaimana dengan Gianluca Pandeynuwu? Kiper tangguh ini juga dipastikan pergi. Durasi masa pinjamannya bersama Arema FC, resmi kedaluwarsa begitu Super League menyentuh pekan ke-34.
Sesuai aturan main, Gianluca harus pulang ke klub pemilik sahnya, Persis Solo, karena ikatan kontraknya di Laskar Sambernyawa masih mengikat sampai tahun 2027 mendatang.
Langkah bedol desa para kiper ini tentu memicu tanda tanya di kalangan Aremania.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, langsung pasang badan memberikan penjelasan logisnya. Pria asal Bogor ini meluruskan bahwa keputusan memutus atau melanjutkan kontrak seorang pemain, selalu melewati proses diskusi yang panjang. Melibatkan manajemen, tim pelatih, dan si pemain sendiri.
“Karena itu, tak semua pemain pindah klub karena hasil evaluasi. Tapi, juga ada yang ingin mencari tantangan baru,” urai Yusrinal.
Yusrinal kemudian mencontohkan sosok Andrian Casvari. Bagi Yusrinal, Casvari adalah contoh nyata dari seorang buruh lapangan hijau yang profesional. Walau jarang masuk line-up utama tim senior, etos kerjanya saat latihan tidak pernah kendor.
“Usianya masih sangat baik untuk terus berkembang sebagai seorang penjaga gawang. Kami berharap Casvari mendapatkan kesempatan bermain yang lebih banyak di klub barunya,” harap Yusrinal. Dia sangat yakin kualitas asli Casvari akan meledak jika sering diberi kesempatan berlaga.
Kini, sorotan lampu stadion mutlak mengarah pada satu-satunya kiper yang tersisa: Adi Satryo.
Di tengah badai rombakan ini, Adi Satryo yang menyelesaikan laga perdananya, setelah sempat menghilang lama dari lapangan akibat dibekap cedera parah, saat menjamu PSIM pada 22 Mei 2026 lalu, selepas pertandingan, emosinya tumpah. Kalimat pertamanya langsung ditujukan untuk merangkul suporter.
“Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk para suporter dan keluarga yang sudah hadir di lapangan. Berkat dukungan dan doa kalian semua, kita dapat tenaga ekstra untuk berjuang mati-matian,” ungkap Adi Satryo dengan nada bergetar.
Bagi Adi, musim ini berjalan laksana wahana roller coaster. Sangat melelahkan, terutama untuk urusan kekuatan mental di dalam kepala.
“Musim ini berjalan cukup panjang buat saya. Karena saya main, terus absen karena cedera, terus baru mulai main lagi, lalu cedera lagi. Hal itu tidak bagus juga untuk mental saya. Tapi, alhamdulillah, bisa melewati semuanya dan bisa bangkit kembali,” curhatnya jujur.
Kebangkitan Adi di atas lapangan hijau itu ternyata tidak lepas dari campur tangan taktis sang pelatih kiper, Coach Marcos Santos. Ada andil psikologis yang besar di sana. Sebelum peluit babak pertama dibunyikan, Coach Marcos secara khusus mendatangi Adi yang sedang tegang karena baru sembuh dari cedera panjang.
Sang pelatih membisikkan kalimat-kalimat positif. Meminta Adi untuk lebih tenang dan menikmati jalannya permainan. Efeknya instan. Mental Adi langsung stabil mengawal gawang Arema dari gempuran striker lawan.
Lantas, setelah semua rekan sejawatnya didepak, apakah Adi Satryo mendapat garansi mutlak akan tetap aman bertahan memakai jersi Arema musim depan?
Di sinilah kedewasaan Adi terlihat. Dia memilih bermain aman dan emoh melangkahi kewenangan bosnya.
“Untuk pertanyaan apakah saya akan tetap di Arema, biar manajemen yang menjawab. Karena saya tidak punya kapasitas untuk menjawab itu,” kilahnya diplomatis.
Sektor kiper Arema FC kini sedang lowong. Kursi-kursi di ruang ganti penjaga gawang sudah bersih ditinggalkan penghuninya. Manajemen sudah memulai perjudian besarnya dengan melakukan perombakan total. Tersisa Adi Satryo yang sedang berjuang menata kembali mentalnya pasca-cedera. Kita lihat saja, siapa kiper baru yang akan didatangkan Yusrinal untuk menemani Adi berdiri di bawah mistar gawang Singo Edan. (Ra Indrata)




