KENANGAN: Bupati Sanusi saat menerima cindera mata dari perwakilan peserta VKN PKN Tingkat II Angkatan VIII Pemda DIY. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Bupati Malang, HM. Sanusi, didampingi Sekretaris Daerah, Budiar Anwar, menerima kunjungan puluhan birokrat peserta Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan VIII Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di Ruang Rapat Anusapati, Selasa (9/6/2026) pagi. Pertemuan ini dimanfaatkan oleh Abah Sanusi untuk memaparkan strategi kepemimpinan adaptif berbasis kearifan lokal, yang sukses menjaga ketahanan pangan dan mendongkrak daya saing pariwisata di wilayah Kabupaten Malang.
Menjadi pemimpin di zaman sekarang itu susahnya setengah mati. Tantangannya datang bertubi-tubi. Mulai dari gempuran teknologi yang berubah tiap detik, urusan ekonomi yang tidak menentu, perubahan iklim yang ekstrem, sampai masalah geopolitik dunia yang tidak menentu.
Kalau hanya mengandalkan teori di buku, pasti oleng. Daerah butuh pemimpin yang lincah. Yang tidak hanya bisa kaget melihat perubahan, tapi pintar membaca situasi dan mengubah tantangan menjadi peluang cuan pembangunan.
Logika kepemimpinan itulah yang sedang ditularkan oleh Bupati Malang, HM. Sanusi.
Selasa pagi, Ruang Rapat Anusapati di kantor bupati mendadak ramai. Abah Sanusi—sapaan akrabnya—kedatangan tamu penting. Rombongannya jauh-jauh datang dari Jawa Tengah bagian selatan.
Mereka adalah para peserta Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN). Para birokrat mapan yang sedang menempuh Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan VIII Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Didampingi Sekretaris Daerah Budiar Anwar, Sanusi menyambut mereka dengan tangan terbuka. Senang. Sekaligus angkat topi karena panitia PKN Jogja memilih Kabupaten Malang sebagai laboratorium belajar mereka.
Bagi Sanusi, tema visitasi kali ini sangat klik dengan realitas. Sangat bumi. Judulnya: Kepemimpinan Adaptif Berbasis Kearifan Lokal dalam Mendorong Kontribusi Daerah terhadap Ketahanan dan Daya Saing Nasional.
Tapi, Sanusi buru-buru memberi catatan garis bawah.
Menjadi adaptif atau mengikuti perkembangan zaman itu bukan berarti kita harus genit ikut-ikutan tren luar lalu membuang jati diri daerah. Sama sekali bukan.

TERIMA TAMU: Bersama Sekda Kab Malang, Bupati Malang menerima kunjungan puluhan birokrat dari Pemda DI Yogyakarta di Ruang Rapat Anusapati. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
Justru sebaliknya. Kemampuan beradaptasi itu sarat akan nilai-nilai lokal. Harus berakar kuat pada tradisi yang sudah terbukti menjadi perekat sosial di masyarakat kita sejak ratusan tahun lalu.
Sebut saja urusan gotong royong, tradisi musyawarah, menjaga integritas, kebersamaan, hingga rasa peduli sosial. Itulah modal utama untuk membangun kepemimpinan yang tangguh dan awet.
“Kearifan lokal seperti gotong royong dan kebersamaan merupakan modal penting dalam membangun kepemimpinan yang tangguh dan berkelanjutan,” tegas Sanusi saat memberikan arahan.
Sanusi kemudian pamer isi dapurnya sendiri. Bagaimana Kabupaten Malang mempraktikkan teori mentereng itu ke dalam urusan sehari-hari.
Tengok saja sektor pertanian di Malang. Mengapa ketahanan pangan daerah ini kokoh? Fondasinya ada pada semangat kebersamaan para petani saat mengelola air dan pupuk di sawah. Gotong royong berjalan alami.
Lihat juga sektor pariwisatanya. Mengapa pelancong betah datang? Karena magnet utamanya adalah pelestarian budaya dan tradisi lokal yang dirawat warga desa wisata. Itulah yang menaikkan daya saing destinasi di sini.
Lalu, bagaimana dengan gaya birokrasinya?
Sanusi mengandalkan jurus keroyokan. Gaya komunikasi panca-heliks. Kolaborasi antara birokrasi pemerintah, masyarakat bawah, kaum akademisi kampus, dunia usaha swasta, sampai media massa digandeng semua. Hasilnya adalah kebijakan yang responsif. Kebijakan yang cepat menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Bagi mantan dosen ini, sumbangan daerah untuk ketahanan nasional itu ukurannya bukan cuma soal siapa yang anggarannya paling raksasa atau wilayahnya paling luas di peta.
Ukuran suksesnya jauh lebih menyentuh bumi: kemampuan daerah menciptakan stabilitas sosial, ketahanan ekonomi di pasar-pasar tradisional, mutu pelayanan publik yang tidak berbelit-belit, serta daya saing SDM warganya.
Maka, Sanusi menitipkan pesan mendalam kepada para calon pemimpin masa depan dari Jogja tersebut. Seorang pemimpin zaman sekarang harus tajam instingnya: pintar membaca arah perubahan, jeli menetapkan prioritas, lihai membangun jaringan kolaborasi, dan yang paling penting: bisa menghadirkan solusi yang dampaknya langsung dirasakan di dapur masyarakat.
Sanusi tidak ingin agenda visitasi ini hanya menjadi formalitas akademik belaka. Datang, dengerin pidato, foto bersama, lalu pulang bawa sertifikat. Malu-maluin.
Agenda ini harus menjadi ruang saling menyontek praktik baik (best practice). Peserta harus mau mengotori sepatu, turun ke lapangan, menggali inovasi daerah, dan melihat langsung tantangan di Kabupaten Malang untuk dijadikan bahan refleksi proyek perubahan di daerah mereka masing-masing.
“Jadikan setiap pengalaman lapangan sebagai laboratorium kepemimpinan. Karena sejatinya, pemimpin yang hebat tidak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari kemampuan memahami realitas masyarakat dan menghadirkan solusi yang bermanfaat,” pungkas Sanusi menutup obrolan pagi. Kalimatnya menohok sekali. (PKP/Ra Indrata)




