Pembekalan oleh Hariz Farisi, S.Kom., M.T. (Ketua MMD FILKOM UB 2026). (foto: PSIK FILKOM UB For Malang Post).
MALANG POST – Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) resmi menggelar Pembekalan ke-1 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2026 di Auditorium Algoritma, Jumat (5/6/2026).
Ketua Pelaksana MMD 2026, Hariz Farisi, S.Kom., M.T., melaporkan bahwa program ini memobilisasi 793 mahasiswa yang terbagi dalam 57 kelompok. Setiap kelompok berisi 13–15 orang dan akan mengawal empat pilar aktivitas utama.
Fase persiapan telah berjalan sejak Mei 2026 melalui survei lokasi, penentuan aktivitas, dan sosialisasi. Pada Juni ini, mahasiswa mengikuti pembekalan intensif dan pembagian dosen pembimbing lapangan (DPL). Pemberangkatan serentak akan berlangsung selama empat pekan penuh pada Juli 2026, diiringi visitasi berkala oleh DPL.
Seluruh 57 desa penempatan terkonsentrasi di Kabupaten Blitar, tersebar di enam kecamatan: Bakung (11 desa), Monorejo (8 desa), Panggungrejo (10 desa), Wates (8 desa), Binangun (10 desa), dan Doko (10 desa).
Setiap kelompok wajib memilih minimal dua kegiatan dari empat pilar teknologi informasi (IT) berikut:
- Pemberdayaan ekonomi– promosi, desain produk, digital marketing, dan pelatihan e-commerce bagi UMKM
- Dukungan instansi pemerintah– peta digital, sistem aplikasi, website, dan efisiensi administrasi desa
- Pendidikan pedesaan– kampanye internet sehat serta media edukasi digital untuk kesehatan dan pembelajaran
- Pariwisata dan lingkungan– konten potensi lokal serta manajemen pengolahan sampah
“Kami juga memberi satu opsi tambahan di luar bidang teknologi sesuai kebutuhan riil desa. Fakultas memfasilitasi akomodasi pemberangkatan dan penjemputan, serta menggandeng BPJS Kesehatan untuk mengasuransikan seluruh mahasiswa selama tiga bulan,” ujar Hariz.

Pembekalan oleh Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph. D. (Foto: PSIK FILKOM UB For Malang Post).
Wakil Dekan Bidang Akademik FILKOM UB, Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D., menekankan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi technology geek yang buta terhadap realitas sosial.
“MMD bukan tempat pamer teknologi rumit. Solusi tepat guna lahir dari empati. Belajarlah menghormati budaya lokal dan selesaikan konflik tim secara dewasa,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Tibyani, S.T., M.T., mengulas pentingnya etika bermasyarakat. Menurutnya, kecerdasan intelektual di bidang IT tidak berarti tanpa kepekaan moral dan kesantunan saat membaur di pedesaan.
Ia juga mendorong kepedulian terhadap lingkungan melalui edukasi pengelolaan sampah, penghijauan, dan kebersihan fasilitas umum.
Ketua Unit Layanan Konseling Terpadu (ULKT) FILKOM UB, Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D., menyoroti kesiapan mental mahasiswa. Ia mengingatkan agar peserta tidak terjebak aktivitas scrolling gawai yang rentan memicu distraksi dan emosi.
“Kesehatan mental bukan berarti selalu bahagia, melainkan mampu mengenali potensi diri, mengelola tekanan, dan menjalin hubungan sehat,” paparnya.
Yuita juga menekankan lima pilar hubungan tim yang solid: saling menghormati, komunikasi terbuka, menghargai perbedaan, profesionalitas, dan saling mendukung. Selain itu, peserta dibekali pemahaman preventif terhadap isu sensitif seperti komentar merendahkan, kontak fisik tak diinginkan, dan pelanggaran batasan pribadi.
Pembekalan ini diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi peserta MMD untuk menghadapi dinamika lapangan, meminimalisir konflik internal, serta memaksimalkan kontribusi nyata yang inovatif dan humanis demi kemajuan masyarakat desa. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




