UB Kembali Kukuhkan Tiga Guru Besar Lintas Fakultas (Foto: M. Abd. Rachman Rozzi/Malang Post)
MALANG POST – Universitas Brawijaya kembali mengukuhkan tiga guru besar (gubes) lintas fakultas dari FPIK, FTP, dan FEB. Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D., Prof. Erni Sofia Murtini, S.T.P., M.P., Ph.D., dan Prof. Dr. Sri Muljaningsih, S.E., MSP akan dikukuhkan di hadapan sejumlah senat akademik universitas pada Rabu (10/6/2026).
*Prof. Bambang Semedi Kenalkan Teknologi AI untuk Prediksi Lokasi Ikan di Era Perubahan Iklim.
Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D. resmi dikukuhkan sebagai Profesor dalam Bidang Ilmu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Kelautan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB). Ia menjadi profesor ke-28 di FPIK dan profesor ke-256 di UB.
Efektivitas metode penangkapan ikan tradisional kian menurun akibat perubahan iklim global yang mengacaukan pola migrasi ikan pelagis. Menjawab tantangan besar ini, Prof. Bambang Semedi menyampaikan orasi ilmiah berjudul: “MARINESCAPE: Integrasi Penginderaan Jauh dan Machine Learning untuk Prediksi ZPPI di Era Perubahan Iklim.”
Ia memperkenalkan MARINESCAPE (Marine Intelligence System for Spatio-temporal Catch Prediction), sebuah kerangka teknologi mutakhir yang dirancang khusus untuk memprediksi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) secara presisi, adaptif, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian dinamika laut.
Prof. Bambang memaparkan bahwa pemanasan global telah memicu fluktuasi suhu permukaan laut dan perubahan arus yang ekstrem. Kondisi ini menyebabkan spesies bernilai ekonomi penting, seperti ikan cakalang (Katsuwonus pelamis), mengubah jalur migrasi mereka secara tidak terduga.
“Zona penangkapan ikan yang selama ini dipandu oleh pengalaman empiris turun-temurun dan kearifan lokal nelayan kini menjadi semakin sulit diprediksi. Akibatnya, nelayan harus menghabiskan waktu pencarian yang lebih lama, memboroskan bahan bakar minyak (BBM), serta menghadapi risiko kerugian ekonomi yang tinggi,” ungkap Prof. Bambang.
Melalui MARINESCAPE, data multisensor dari satelit penginderaan jauh, seperti suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a, dan front laut, tidak lagi diolah secara linier sederhana, melainkan dianalisis menggunakan model pembelajaran mesin (machine learning), termasuk Artificial Neural Networks (ANN) dan Deep Learning. Teknologi ini mampu mengenali pola spasio-temporal yang kompleks dan tersembunyi guna memberikan sinyal awal perubahan lingkungan laut sebelum dampaknya terjadi di lapangan.
Teknologi inovatif ini terbukti memiliki landasan empiris yang kuat. Berbagai studi global serupa mencatat tingkat akurasi prediksi menggunakan metode deep learning terintegrasi mencapai hingga 82,6%. Ketepatan ini secara langsung membantu efisiensi operasional nelayan sekaligus meminimalkan hasil tangkapan sampingan yang tidak diinginkan (bycatch).
Lebih jauh, Prof. Bambang menggagas pembentukan UB-MARINESCAPE sebagai platform kelembagaan strategis di Universitas Brawijaya. Platform ini akan berfungsi sebagai pusat riset dan diseminasi data operasional yang menjembatani sains kelautan dengan para nelayan, pengelola perikanan, hingga pembuat kebijakan di lapangan. Langkah strategis ini menjadi kontribusi nyata dunia akademik Indonesia dalam menyukseskan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 13 (Climate Action) dan SDGs 14 (Life Below Water).
“MARINESCAPE hadir bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan sebagai decision support system yang cerdas guna membantu nelayan kita bergerak dari sistem yang reaktif menjadi antisipatif, demi menjaga ketahanan pangan kelautan bagi generasi masa depan,” pungkasnya.
*Prof. Erni Sofia Murtini Kenalkan Model Sopia Sebagai Upaya Upgrading Produk Berbasis Serealia dan Makanan Tradisional.
Prof. Erni Sofia Murtini, Ph.D. resmi dikukuhkan sebagai Profesor dalam Bidang Teknologi Serealia dan Makanan Tradisional pada Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB). Ia menjadi profesor ke-28 di FTAB dan guru besar ke-257 di UB.
Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras dan gandum dinilai masih menjadi tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Di tengah melimpahnya sumber daya pangan lokal, diversifikasi konsumsi pangan dinilai perlu terus didorong agar masyarakat tidak hanya bergantung pada satu atau dua komoditas utama.
Prof. Erni menjelaskan bahwa serealia merupakan kelompok tanaman biji-bijian dari golongan rumput-rumputan, seperti padi, gandum, sorgum, dan rai. Komoditas tersebut memiliki peran penting karena menjadi sumber karbohidrat yang menyumbang sebagian besar kebutuhan energi manusia.
Menurutnya, meskipun jenis serealia yang tersedia sangat beragam, konsumsi masyarakat dunia masih didominasi oleh beberapa komoditas tertentu. Di Indonesia, kondisi tersebut terlihat dari tingginya ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai makanan pokok. Tingginya kebutuhan beras mendorong peningkatan produksi secara besar-besaran yang pada akhirnya menghasilkan limbah pertanian berupa jerami dalam jumlah melimpah. Hingga saat ini, pemanfaatan limbah tersebut masih belum optimal dan menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Selain beras, Prof. Erni juga menyoroti tingginya konsumsi produk berbahan dasar gandum di Indonesia. Berbagai produk seperti mi, roti, dan kue yang banyak dikonsumsi masyarakat masih bergantung pada bahan baku impor.
Di samping isu serealia, Prof. Erni juga menaruh perhatian pada kondisi makanan tradisional Indonesia yang mulai kehilangan popularitas di kalangan generasi muda. Menurutnya, perkembangan zaman membuat sebagian generasi muda lebih akrab dengan makanan modern maupun produk internasional. Fenomena tersebut berpotensi memunculkan lost generation, yaitu kondisi ketika generasi muda mengenal nama suatu makanan tradisional, tetapi tidak pernah mencicipi atau mengetahui cara membuatnya.
Sebagai solusi, Prof. Erni mendorong pengembangan serealia lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu komoditas yang dinilai memiliki potensi besar adalah sorgum. Tanaman tersebut mampu tumbuh di lahan marginal maupun lahan dengan tingkat kesuburan rendah, sehingga tidak akan mengganggu lahan yang digunakan untuk budidaya padi. Ia menilai tren global terhadap produk bebas gluten (gluten free product) dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan pangan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap gandum impor.
Dalam upaya melestarikan makanan tradisional, ia menekankan pentingnya inovasi dan modernisasi produk. Menurutnya, makanan tradisional perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan selera generasi masa kini tanpa menghilangkan nilai budaya yang dimilikinya. Oleh karena itu, pangan tradisional perlu dipromosikan dengan pendekatan yang lebih inovatif agar mampu bersaing di pasar modern.
*Prof. Sri Muljaningsih Kenalkan Model LILY untuk Valorisasi Tanaman Lokal dalam Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas Organik.
Prof. Dr. Sri Muljaningsih, S.E., MSP dikukuhkan sebagai Profesor dalam Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam. Ia merupakan profesor aktif ke-33 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan profesor aktif ke-258 di Universitas Brawijaya.
Prof. Dr. Sri Muljaningsih, S.E., MSP dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) memaparkan orasi ilmiahnya berjudul: “MODEL LILY: Valorisasi Tanaman Lokal dalam Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas Organik.”
Model LILY merupakan hasil temuan ilmiah berupa model konseptual yang mengintegrasikan nilai spiritual, sistem komunitas, dan proses valorisasi dalam kerangka ekonomi sirkular berbasis komunitas organik. Model tersebut diangkat karena keprihatinan Prof. Sri terhadap produk organik yang harganya mahal.
Oleh karena itu, Prof. Sri menawarkan konsep LILY yang mempunyai filosofi bahwa setiap masyarakat, dalam hal ini UMKM, mempunyai kesempatan untuk memberi nilai tambah terhadap sebuah sumber daya alam yang ada. Penerapan konsep ini membutuhkan tantangan, terutama dalam mengubah pola pikir ekonomi masyarakat.
Penelitian empiris menunjukkan bahwa peningkatan faktor sosial-ekologis mampu mendorong kesanggupan masyarakat untuk berkontribusi. Hal inilah yang menjadi keunikan transformasional pada model LILY tersebut.
Keunikan lain pada model LILY terletak pada integrasi kewirausahaan, komunitas, dan spiritualitas dalam satu sistem. Model ini bersifat community-centric, di mana penciptaan nilai terjadi melalui interaksi sosial. Model LILY diharapkan dapat memperkuat ekonomi lokal dengan memberikan nilai tambah, peningkatan lapangan kerja, serta bidang kewirausahaan. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




