MALANG POST – Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Malang, merayakan Milad ke-109 dengan menggelar komitmen dakwah kemanusiaan di Aula GKB 4 lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (6/6/2026) siang, yang dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Malang Hj. Lathifah Shohib serta ratusan kader untuk meneguhkan gerakan praksis sosial di akar rumput.
Usianya sudah 109 tahun. Lebih dari satu abad. Tapi gerakan perempuan yang satu ini tidak pernah loyo. Justru makin bertenaga. Makin membumi.
Itulah Aisyiyah.
Sabtu (6/6/2026) hari ini, Aula GKB 4 lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memutih. Ratusan ibu-ibu kader Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Malang berkumpul di sana. Mereka merayakan Milad Aisyiyah ke-109.
Temanya tidak muluk-muluk, tapi berat di timbangan aksi: meneguhkan peran dalam dakwah kemanusiaan. Caranya? Memperbanyak praksis sosial yang menyentuh langsung urat nadi kehidupan masyarakat kecil.
Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, hadir di tengah-tengah mereka. Atas nama Pemkab Malang, Nyai Lathifah menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang tinggi. Beliau memuji dedikasi Aisyiyah yang selama ini selalu setia berkolaborasi membangun daerah.
Nyai Lathifah bahkan menyempatkan diri keliling stan pameran. Menengok produk-produk hasil pemberdayaan ekonomi perempuan binaan Aisyiyah. Ada kain batik yang anggun, ada juga aneka makanan olahan kreatif.
Bukan cuma produk konsumsi yang dipamerkan. Ibu-ibu pengurus PDA Kabupaten Malang juga dengan bangga mengenalkan stan Pos Bantuan Hukum. Disingkat Posbakum. Sebuah layanan hukum gratis yang belum lama ini diinisiasi serentak oleh Aisyiyah di berbagai daerah.

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Dr. Siti Aisyiyah, M.Pd. (Foto: Istimewa)
Ketua PP Aisyiyah, Dr. Siti Aisyiyah, M.Pd., yang hadir siang itu memberikan wejangan penting. Bagi Siti, tugas utama kader Aisyiyah adalah memuliakan manusia. Mengangkat derajat mereka yang kurang beruntung. Karomah insaniah.
“Sejak awal dulu, banyak yang tidak berpendidikan. Ini yang perlu diperhatikan. Dari sisi ekonomi yang kekurangan, ya perlu diberdayakan,” tutur Siti Aisyiyah.
Prinsip fikih yang diyakini Aisyiyah sangat jelas: yang kaya harus punya perhatian, yang dhuafa harus diberdayakan agar lepas dari keterpurukan.
Gayung bersambut. Di level lokal, Ketua PDA Kabupaten Malang, Dr. Mursyidah, M.Kes., menerjemahkan konsep besar itu ke dalam program-program yang sangat taktis. Mantan pejabat Pemkab Malang ini paham betul peta masalah perempuan di wilayahnya.
Lewat pengajian Aisyiyah, pemberdayaan peradaban, pendidikan, dan ekonomi digenjot. Ada juga program TMAM—Tarbiyatul Mar’ah Aisyiyah. Sasaran edukasinya lengkap. Mulai dari anak-anak SMP dan SMA yang diajari tentang kesehatan reproduksi agar terhindar dari kekerasan.
Lalu untuk kalangan ibu-ibu, mereka diajari cara mempersiapkan pendidikan anak. Bahkan, kaum lansia pun dibuatkan kurikulum khusus: bagaimana menjadi mertua atau kakek-nenek yang bijak di dalam keluarga.
Urusan lansia ini bukan main-main. Jumlah perempuan lansia yang rentan di Kabupaten Malang makin banyak.
Aisyiyah tanggap. Mereka mendirikan Sekolah Lansia Tangguh. Karena wilayah Kabupaten Malang ini sangat luas, sekolah ini dibagi per zona. Wilayah Malang utara sudah rutin berjalan. Kini giliran wilayah Malang barat dan Malang selatan yang mulai digarap serius.
Lalu, bagaimana dengan Posbakum tadi?
Mursyidah membuka data pahit. Masalah hukum yang dihadapi perempuan di Kabupaten Malang masih menumpuk. Kasus kekerasan terhadap wanita masih ada. Pernikahan dini masih intai anak-anak. Dan yang paling krusial: angka perceraian di Kabupaten Malang adalah salah satu yang tertinggi. Nomor satu.
“Mata rantai itulah yang ingin kita putus lewat Posbakum,” tegas Mursyidah.
Puncak milad ke-109 ini berlangsung sangat meriah namun tetap khidmat. Terlihat hadir jajaran pengurus PW Aisyiyah Jawa Timur, Ketua PDM Kabupaten Malang Dr. Nurul Humaidi, M.Ag., hingga Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si.
Acara juga diselingi penampilan kreatif siswa-siswi sekolah Muhammadiyah yang berbakat. Rangkaian hari lahir ini akhirnya ditutup dengan sejuk melalui siraman rohani dari dai asli Kasembon, Ustadz Rifky Jakfar Thalib.
Aisyiyah telah membuktikan, dakwah itu tidak melulu soal retorika di atas mimbar. Dakwah yang sejati adalah ketika tangan-tangan terampil perempuan bergerak menyelamatkan keluarga, memberi ruang bagi lansia, dan membela hak hukum kaum wanita di pelosok desa. (Ra Indrata)




