MALANG POST – Manajemen Arema FC secara resmi mengumumkan berakhirnya jalinan kerja sama dengan penyerang muda asal Tanjung Morawa, Sumatra Utara, Agusti Ardiansyah (18), pada Sabtu (6/6/2026), setelah klub memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak satu musimnya meski sang pemain sempat mencatatkan 13 penampilan bersama tim Arema U-20 di ajang Elite Pro Academy.
Sepak bola profesional itu kejam. Terutama bagi mereka yang masih berusia belia. Di sana, bakat saja tidak cukup. Harus ada tempat, harus ada waktu, dan yang paling mahal: harus ada kesempatan.
Itulah yang kini harus dihadapi oleh Agusti Ardiansyah.
Sabtu (6/6/2026) hari ini, petualangan striker muda berusia 18 tahun itu di Bumi Arema resmi berakhir. Manajemen Arema FC mengetuk palu: kontraknya untuk musim depan tidak dilanjutkan. Kerja sama selama satu musim terakhir resmi disetop.
Agusti harus mengepak pakaiannya. Pulang ke kampung halamannya di Tanjung Morawa, Sumatra Utara.
Padahal, pemuda ini datang ke Malang dengan mimpi besar. Arema FC menampungnya untuk dikembangkan potensinya. Namun, menembus skuad utama Singo Edan di kompetisi kasta tertinggi ternyata bukan perkara mudah. Saingannya berat. Skuad senior Arema dihuni penyerang-penyerang matang.
Walhasil, selama semusim di Malang, Agusti lebih banyak diperbantukan di tim junior. Memperkuat Arema U-20 yang bertarung di Elite Pro Academy (EPA) Super League.
Di level junior itulah taring Agusti sempat terlihat. Dia menjadi salah satu andalan dengan mencatatkan 13 penampilan. Hasilnya lumayan: dia berhasil menyumbangkan 2 gol untuk Singo Edan muda.
Bagaimana di tim senior?
Jalannya masih buntu. Agusti sebetulnya tidak jelek-jelek amat. Namanya tercatat tiga kali masuk dalam Daftar Susunan Pemain (DSP) Arema FC di kompetisi Super League musim 2025/2026. Dia sudah mencicipi atmosfer ketat di bench cadangan skuad utama. Sayang, garis nasib belum mengizinkannya untuk menginjakkan kaki di rumput lapangan hijau bersama tim senior.
Namun, manajemen Arema FC tetap memberikan respek yang tinggi.
General Manager Arema FC, Yusrinal, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dedikasi dan kerja keras yang ditunjukkan remaja asal Sumatra tersebut. Di mata manajemen, Agusti adalah anak muda yang punya komitmen bagus. Lahap semua menu latihan tanpa mengeluh.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Agusti Ardiansyah atas dedikasi, semangat, dan kerja keras yang telah diberikan selama membela Arema FC. Meskipun usianya masih sangat muda, Agusti menunjukkan komitmen yang baik,” ujar Yusrinal.
Inal—sapaan akrab Yusrinal—melihat keputusan melepas Agusti ini justru demi kebaikan sang pemain sendiri. Jalan karier Agusti masih sangat panjang. Umurnya baru 18 tahun.
Di usia emas pertumbuhan seperti itu, yang paling dibutuhkan seorang pesepak bola bukanlah duduk manis di bangku cadangan tim besar. Melainkan menit bermain. Jam terbang yang padat. Sesuatu yang tampaknya sulit digaransi oleh Arema untuk musim depan.
“Kami berharap ia dapat memperoleh lebih banyak kesempatan bermain dan terus berkembang di klub barunya nanti. Semoga pengalaman yang didapat selama berada di Arema FC menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kualitas dan kematangannya,” tambah Inal penuh doa.
Manajemen Arema FC pun melepas kepergian sang penyerang muda dengan dada lapang. Satu musim di Malang, biar bagaimanapun, telah membentuk mental Agusti menjadi lebih tangguh. Malang itu keras, suporternya kritis. Kalau sudah pernah mencicipi tekanan di Malang, mental bertanding di tempat baru harusnya tidak jadi masalah. (Ra Indrata)




