DUET: Bupati Malang, HM Sanusi, didampingi Dirut Perumda Tirta Kanjuruhan, Syamsul Hadi, saat menuju ke podium utama di kantor pusat Perumda Tirta Kanjuruhan. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
MALANG POST – Halaman Kantor Pusat Perumda Tirta Kanjuruhan di Pakisaji mendadak biru, Rabu pagi, 3 Juni 2026. Ratusan pegawai berkumpul rapi. Mereka mengenakan pakaian seragam terbaiknya. Hari itu, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pengelola air minum Kabupaten Malang ini merayakan hari jadinya yang ke-45.
Bupati Malang, HM Sanusi, berdiri tegak di podium utama. Memimpin langsung upacara puncak peringatan tersebut.
Di depannya, duduk Direktur Utama H. Syamsul Hadi, bersama jajaran direksi, dewan pengawas, hingga jajaran Forkopimcam Pakisaji.
Bagi Sanusi, angka 45 tahun itu bukan sekadar deretan angka di kalender. Itu adalah perjalanan sepanjang empat setengah dekade. Perjalanan yang sarat dengan keringat, dedikasi, dan urusan mengalirkan air ke bak-bak mandi ratusan ribu warga Malang.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat, saya mengucapkan selamat hari jadi ke-45. Ini perjalanan panjang yang sarat dengan pengabdian,” ujar Sanusi, suaranya lantang memecah keheningan pagi.
Namun, di balik ucapan selamat yang manis itu, Sanusi menyelipkan pesan yang sangat berbobot. Pesan yang menjadi inti dari keberadaan sebuah perusahaan daerah.
Bupati mengingatkan, air itu bukan komoditas bisnis biasa. Air adalah sumber kehidupan. Paling strategis. Menyangkut kesehatan, ekonomi, sampai urusan lingkungan hidup.
Maka, Tirta Kanjuruhan mengemban takdir yang rumit. Istilah kerennya: memiliki fungsi ganda. Dua kaki.

PRESTASI: Bupati Malang, HM Sanusi, didampingi Dirut Perumda Tirta Kanjuruhan, Syamsul Hadi, bersama para penerima penghargaan dari berbagai pihak dalam momen HUT ke-45 Perumda Tirta Kanjuruhan. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
Satu kaki harus berdiri di wilayah bisnis—perusahaan harus sehat secara finansial, harus untung, tidak boleh merugi. Tapi kaki yang satunya lagi harus tertanam di wilayah misi sosial—memastikan rakyat kecil di pelosok desa mendapatkan hak dasarnya atas air bersih yang layak dan murah.
“Tidak hanya dituntut sehat secara finansial, tetapi harus mampu menjalankan fungsi pelayanan publik secara optimal. Inovasi dan profesionalisme adalah harga mati,” tegas Sanusi.
Menembus Gunung dan Pesisir Selatan
Tantangan ke depan, bagi Sanusi, tidak akan semakin mudah. Justru semakin berliku.
Geografis Kabupaten Malang ini luar biasa rumit. Isinya lengkap. Ada wilayah perkotaan yang padat, ada dataran tinggi yang dingin, ada lereng pegunungan yang curam, sampai wilayah pesisir selatan yang kering di musim kemarau.
Menghubungkan pipa-pipa air menembus bukit dan lembah itu butuh uang besar. Butuh investasi infrastruktur yang raksasa. Juga butuh teknologi yang modern agar air tidak banyak terbuang di tengah jalan akibat pipa bocor.
Tapi Sanusi mengaku tetap optimistis. Politisi PDI Perjuangan ini melihat Tirta Kanjuruhan sudah mulai bertransformasi menjadi perusahaan yang modern dan adaptif.
Upacara pagi itu tidak berakhir dengan baris-berbaris saja. Ada momen mengharukan saat Bupati menyerahkan sejumlah penghargaan.
Ada penghargaan Ayoga Puraskara dan Samarpana Puraskara untuk insan perusahaan yang berdedikasi. Ada juga penghargaan khusus untuk para pelanggan loyal yang rajin membayar tagihan tepat waktu, serta pelepasan bagi pegawai yang memasuki masa purna tugas.
Gebrakan sosialnya juga kelihatan. Hari itu secara simbolis diserahkan bantuan subsidi sambungan rumah (SR) baru melalui Program SAMUDRO. Ini untuk warga kurang mampu. Agar mereka tidak perlu lagi memikirkan mahalnya biaya pasang pipa baru.
Jajaran direksi juga ikut membagikan piala untuk unit pelayanan di kecamatan yang kinerjanya paling moncer tahun ini.
Matahari mulai meninggi di Pakisaji. Upacara selesai dengan jabat tangan penuh kebersamaan. Angka 45 tahun kini sudah di belakang. Tugas baru sudah menanti di depan: memastikan air bersih tetap mengalir lancar ke dapur-dapur rakyat, tanpa membuat kantong mereka jebol. (PKP/Ra Indrata)




