Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Batu, Sujud Hariadi. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Kota Batu macet lagi. Wisatawan datang berbondong-bondong. Tempat wisata buatan padat, hotel-hotel pun penuh. Saat libur Waisak lalu, okupansi hotel menembus 80 persen. Bahkan saat libur Iduladha, keterisian kamar masih bertengger di angka 60 persen.
Harusnya pengusaha senyum lebar. Harusnya cuan melimpah.
Tapi, cobalah intip laci kasir mereka. Isinya tidak sebanding dengan kemacetan di jalanan. Pendapatan mereka turun.
Inilah fenomena baru pariwisata kita hari ini: orangnya banyak, belanjanya irit. Wisatawan mendadak sangat sensitif terhadap harga.
Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, geleng-geleng kepala melihat kelakuan pasar. Isu pelemahan rupiah terhadap dolar ternyata tidak bikin orang kapok berwisata. Mereka tetap liburan. Hanya saja, kelakuannya berubah.
“Wisata dengan harga tiket yang terjangkau justru menikmati kunjungan yang bagus. Wisatawan sekarang sangat menghitung isi dompet,” ujar Sujud, Rabu (3/6/2026) siang.
Mengapa pendapatan hotel seret padahal kamarnya penuh?
Jawabannya: tarif kamar tiarap. Hotel tidak berani menaikkan harga.
Mari kita bandingkan dengan tahun 2023 lalu. Saat long weekend, hotel di Batu sangat leluasa. Mereka bisa menaikkan tarif sampai dua kali lipat. Pasar diam saja. Tetap beli.
Sekarang? Jangan harap. “Dulu tarif bisa naik 50 persen. Sekarang berbeda. Harga Rp1 juta ya tetap dijual Rp1 juta,” kata Sujud, realistis.
Bayangannya begini. Tahun lalu, saat okupansi 80 persen, hotel masih bisa mematok harga kamar Rp1,25 juta setelah dinaikkan dari harga normal Rp1 juta. Tahun ini, dengan okupansi yang sama-sama 80 persen, kamar hanya laku di harga dasar: Rp1 juta bersih.
Pantas saja total pendapatan mereka merosot.
Berkah Selecta dan Geser Kelas Wisatawan Premium
Tren pelit belanja ini juga menjalar ke tempat wisata. Tapi, ada yang justru mendapat berkah. Salah satunya: Taman Rekreasi Selecta. Wisata legendaris yang terkenal murah meriah.
Sujud, yang kebetulan Direktur Utama Selecta, membuka datanya. Jumlah kunjungan ke Selecta melonjak tajam. Naik 30 persen dibanding tahun lalu.
Tapi, lagi-lagi ada tapinya. Pendapatannya tidak ikut naik 30 persen. “Karena kami harus banyak memberikan promo dan potongan harga,” jelas Sujud.
Logika pasar hari ini sederhana saja: diskon sedikit, mereka datang. Naik harga sedikit, mereka balik kanan.
Dampaknya luas. Wisata kelas premium yang biasanya pamer kemewahan kini mulai megap-megap. Mengapa? Karena orang kaya pun mulai tahu diri. Wisatawan kelas menengah atas mulai menurunkan egonya. Mereka bergeser, ikut berburu tempat wisata yang lebih murah.
Sujud melihat ini terjadi karena daya beli masyarakat yang memang sedang lelah. Salah satu pemicunya: belanja pemerintah yang menurun, sehingga perputaran uang di bawah ikut seret.
Lantas, apakah pelaku wisata di Batu harus meratap?
Tidak. Orang Batu itu kreatif. Mereka tahu cara bertahan hidup.
Menghadapi situasi darurat ini, mereka memilih tidak saling sikut. Mereka tidak mau perang tarif yang saling membunuh. Strategi jangka pendek langsung dieksekusi: gerakan kolaborasi bundling.
Para pemilik hotel dan pengelola destinasi wisata mulai berkumpul. Mereka sepakat membuat paket gabungan. Beli kamar hotel, gratis tiket masuk wahana. Atau, beli tiket satu wahana, diskon besar di wahana lainnya.
“Tujuannya supaya wisatawan merasa mendapatkan harga yang jauh lebih murah,” kata Sujud.
Untuk jangka panjang, promosi tidak boleh kendor. Batu harus tetap dicitrakan sebagai kota dengan sejuta pilihan. Mau yang mahal ada, mau yang murah meriah dengan pemandangan alam dan air terjun pun melimpah.
Kunci pariwisata Batu saat ini cuma satu: kolaborasi, bukan kompetisi. Di kota dingin ini, sesama pelaku usaha adalah kawan satu saf. Mereka sadar, hanya dengan cara bergandengan tangan, mereka bisa membuat wisatawan tetap datang tanpa membuat dompet rakyat jebol. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




