MALANG POST – Di tengah ancaman krisis air bersih dan pemanasan global yang memicu kekeringan ekstrem di berbagai belahan dunia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir memberikan solusi ekologis yang nyata.
Melalui program rehabilitasi dan reboisasi berkelanjutan di kawasan Pujon Hill yang diinisiasi sejak tahun 2019, Kampus Putih sukses mengembalikan fungsi resapan hutan dan meningkatkan debit air secara signifikan.
Langkah pelestarian ini bahkan berhasil menghidupkan kembali sejumlah sumber mata air yang sebelumnya sempat mengering.
Keberhasilan ini tidak lepas dari proses panjang inventarisasi sumber daya alam yang digarap serius oleh pihak kampus. Staf Ahli Pujon Hill, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., menjelaskan.
Bahwa setelah memetakan potensi alam dan melakukan perbaikan ekosistem hutan secara masif, timnya mendapati volume air melonjak drastis yang ditandai dengan munculnya sumber-sumber air baru.
“Kita rehab, kita perbaiki hutannya, nah akhirnya debitnya bertambah besar, dan muncul beberapa mata air baru. Mata air-mata air yang dulu mati itu sekarang udah mulai hidup lagi,” tegasnya.
Langkah strategis yang diambil UMM dalam rehabilitasi ini adalah pemanfaatan bambu dan tanaman keras di area buffer zone (zona penyangga) yang dilakukan secara kolaboratif bersama pihak eksternal.

Penanaman difokuskan pada lahan seluas 15 hektare dari total 80 hektare luasan hutan, di mana lereng dan pinggiran sungai menjadi area prioritas.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa pemilihan bambu didasarkan pada kemampuan alami tanaman tersebut dalam mengikat dan menyimpan cadangan air tanah dengan sangat baik.
“Jadi kita emang niat ya. Kalau dengan bambu itu, insyaallah potensial kita bisa menghadirkan air. Karena bambu punya kemampuan untuk menyimpan air,” jelasnya.
Kini, derasnya aliran air bersih dari Pujon Hill telah menjadi urat nadi kehidupan bagi masyarakat yang sangat rentan terhadap krisis kelangkaan air. Saat ini, limpahan air bersih tersebut mengalir dan dimanfaatkan secara langsung oleh warga di empat wilayah dusun yang tersebar di dua desa.
Keempat wilayah penerima manfaat tersebut mencakup Dusun Ngepreh dan Dusun Tretes yang berada di wilayah Desa Bendosari, serta Dusun Talesan dan Dusun Kedungrejo yang masuk ke dalam wilayah administratif Desa Sukomulyo.
“Dan misalkan mereka nggak ada air, dapat air dari kita ya pastikan mereka akan kesusahan, kesulitan mencari air,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut ke depan, tim UMM akan melakukan kalkulasi teknis untuk mengukur secara pasti total volume debit air yang berhasil diselamatkan dan dihasilkan.
Kisah sukses konservasi di Pujon Hill ini menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.
Harapannya, dedikasi nyata Kampus Putih ini tidak hanya berhenti di satu titik, melainkan mampu memantik kesadaran kolektif dan menjadi model percontohan pelestarian ekosistem bagi institusi lain.
“Agar kita terus konsisten merawat bumi demi menjaga kedaulatan air bersih bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




