MALANG POST – Wisatawan ke Kota Batu itu polanya jelas: ingin senang-senang, mencari yang murah, dan kalau bisa yang bentuknya unik atau lucu.
Maka, tumbuhlah kreativitas di jalanan. Muncullah berbagai moda transportasi wisata modifikasi. Ada yang menamakan dirinya “Tayo”, ada kereta kelinci, ada juga model merak. Bentuknya warna-warni. Anak-anak pasti suka.
Tapi di balik kelucuan bentuknya, ada horor yang mengintai: mayoritas dari mereka berjalan tanpa izin. Ilegal. Beroperasi di atas taruhan nyawa penumpang.
Benang kusut transportasi wisata di Kota Dingin ini, dikupas habis dalam talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Kamis (28/5/2026). Pemerintah, otoritas perhubungan, hingga pakar akademis buka-bukaan soal mana angkutan yang legal dan mana yang nekat.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu, Hari Juni, langsung menjatuhkan vonis tegas. Di Kota Batu memang menjamur angkutan wisata tiruan. Namun, belum semuanya tertib hukum.
“Faktanya, baru angkutan KAWANKU saja yang secara resmi mengantongi izin operasional dan memiliki kelayakan jalan di kelas kendaraan bermotor modifikasi,” ungkap Hari Juni.
Apa itu KAWANKU? Singkatannya mentereng: Kendaraan Angkutan Wisata Kota Batu. Ini bukan kendaraan liar. Ini adalah proyek resmi modernisasi angkutan kota, yang dimodifikasi khusus dan dioperasikan di bawah payung Organda Kota Batu.
Bagaimana dengan kereta kelinci dan gerombolan “Tayo” tiruan itu? Hari Juni menggeleng. Mereka belum berizin.
Dishub mengklaim tidak tinggal diam. Sosialisasi sudah sering digelar. Pemilik armada dikumpulkan, diajak bicara baik-baik. Penindakan di lapangan pun sudah dikoordinasikan dengan Polres Batu.
“Tapi untuk saat ini, statusnya masih dalam tahap memberikan peringatan saja. Belum dikandang,” tambahnya.
Andalan Baru: Tenaga Kuda dan KAWANKU
Pemerintah Kota melalui Dinas Pariwisata (Disparta), sebenarnya sudah menyiapkan sekoci yang aman untuk mobilitas turis. Kepala Bidang Pemasaran Disparta Kota Batu, Farida Anifah, membeberkan opsi legal yang ada.
Selain 14 unit armada KAWANKU yang sudah berseliweran, Kota Batu punya andalan klasik yang romantis: Dokar Wisata. Menggunakan tenaga kuda asli.
Total ada 25 unit dokar yang sudah ditata rapi untuk memanjakan wisatawan.
“Untuk meng-cover kebutuhan mobilitas wisatawan saat ini, jumlah 14 unit KAWANKU dan 25 dokar itu dirasa sudah cukup. Operasional keduanya sudah kami atur ketat, tujuannya jelas: memecah kepadatan lalu lintas, terutama saat long weekend,” urai Farida.
Farida merayu para pemilik angkutan wisata non-izin lainnya agar tidak kucing-kucingan terus dengan petugas di jalan. Pintu dinas terbuka lebar.
“Harapannya, moda transportasi yang lain segera menyusul legalitasnya. Segera urus kelaikan dan kelayakan kendaraannya. Ini demi satu kata: agar wisatawan merasa aman dan nyaman. Jangan tunggu ada kecelakaan baru sibuk,” cetus Farida.
Izin Itu Bukan Sekadar Tanda Tangan
Masyarakat awam sering kali menganggap remeh urusan izin angkutan. Pikirnya, izin itu sekadar birokrasi, minta stempel, lalu bayar retribusi. Selesai.
Pandangan keliru itu diluruskan oleh Kepala Lab Transportasi dan Penginderaan Jauh Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB), Hendi Bowoputro.
Hendi memahami mengapa kereta kelinci dan sejenisnya laku keras. Karakter wisatawan kita memang condong memilih yang ramah di kantong dan bentuknya menarik perhatian. Pasar menangkap peluang itu, lalu melahirkan angkutan modifikasi tanpa memikirkan aspek keselamatan.
“Mengurus izin transportasi wisata itu rumit. Itu bukan sekadar urusan coretan tanda tangan di atas kertas,” tegas Hendi.
Ada proses panjang di baliknya. Kendaraan harus melewati serangkaian pengecekan teknis layak jalan yang ketat. Standarnya tidak main-main, harus mengacu pada regulasi keselamatan transportasi nasional, bahkan internasional.
Mulai dari kekuatan sasis, sistem pengereman, hingga titik keseimbangan kendaraan saat memuat penuh penumpang. Kereta kelinci yang dibuat dari mesin odong-odong jelas sulit menembus standar ini.
Namun, karena armada tersebut telanjur hidup dan menjadi tumpuan ekonomi sebagian warga, Hendi memberikan solusi jalan tengah yang bisa dieksekusi cepat oleh Pemkot Batu.
“Untuk jangka pendek, yang paling mungkin dan mendesak diupayakan adalah melakukan uji ramp check berkala secara massal terhadap seluruh kendaraan wisata yang beroperasi saat ini,” pungkas Hendi.
Dengan ramp check, minimal rem, lampu, dan kondisi ban kendaraan terpantau. Pemkot Batu kini dihadapkan pada pilihan pelik: bertindak tegas mengandangkan angkutan wisata tak berizin, atau membiarkan kereta kelinci warna-warni itu terus melaju menyusuri tanjakan ekstrem Kota Batu dengan membawa beban risiko yang amat mahal. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




