TRADISI: Bupati Malang, HM Sanusi, ketika membuka tradisi selamatan desa bertajuk ‘Encek-Encek’ di Desa Sitiarjo. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Bupati Malang, HM. Sanusi, menghadiri sekaligus membuka secara resmi tradisi selamatan desa bertajuk “encek-encek” di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang, Senin (25/5/2026) siang. Sebelum membaur bersama ratusan warga dalam ritual sedekah hasil bumi tersebut, pria yang akrab disapa Abah Sanusi ini terlebih dahulu melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Puskesmas Sumawe dan Puskesmas Sitiarjo, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo, guna memastikan sistem pelayanan kesehatan di wilayah pesisir Malang Selatan berjalan cepat, tepat, dan humanis.
Mengurus daerah seluas Kabupaten Malang itu butuh stamina ekstra. Tidak bisa hanya duduk di balik meja empuk Pendopo Agung. Kepala daerahnya harus mau panas-panasan, blusukan melintasi jalan berliku di daerah pinggiran.
Senin pagi tadi, giliran kawasan Malang Selatan yang disambanginya. Sasarannya taktis: dua puskesmas dan satu ritual adat.
Sidak pertama mendarat di Puskesmas Sitiarjo dan Puskesmas Sumawe. Abah Sanusi langsung melangkah masuk ke ruang pendaftaran, ruang pemeriksaan, hingga ke bagian farmasi obat. Matanya yang jeli menyapu sudut-sudut ruangan.
Ada hal menarik yang dia temukan di lapangan. Ruang tunggu puskesmas hari itu tampak melonggar. Minim pasien.
Bagi Sanusi, sepinya puskesmas justru sebuah kemewahan data. Mengapa begitu? Karena itu indikator positif bahwa derajat kesehatan masyarakat Sumawe sedang bagus-bagusnya. Orang waras tidak perlu ke puskesmas.
Namun, urusan pelayanan kesehatan tidak boleh kendor sedetik pun. Sanusi mengapresiasi manajemen puskesmas yang telah membenahi sistem skrining awal dan menambah tenaga pendukung untuk memotong birokrasi antrean.
“Pelayanan kesehatan itu kuncinya ada pada tiga hal: kecepatan, ketepatan, dan keramahan. Orang datang ke sini dalam kondisi sakit membawa harapan sembuh. Kita wajib memberikan pelayanan yang memuaskan dan humanis,” ujar HM Sanusi di hadapan para nakes Puskesmas Sitiarjo, Senin (25/5/2026).

DI YANKES: Ketika melakukan sidak ke Puskesmas Sumawe dan Sitiarjo, Bupati Sanusi sempat berdialog dengan pimpinan Puskesmas setempat. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
Urusan nyawa di puskesmas kelar, Sanusi bergeser ke urusan perut dan tradisi rakyat: selamatan desa “encek-encek” di Desa Sitiarjo.
Di sana, ribuan warga sudah berkumpul. Ratusan wadah bambu berisi nasi dan lauk-pauk hasil bumi—yang disebut encek—berjejer rapi.
Ini adalah ritual sakral, wujud syukur atas melimpahnya hasil pertanian sekaligus doa tolak bala agar rezeki warga Sumawe terus mengalir deras.
Sanusi tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Di matanya, Sitiarjo bukan sekadar desa adat, melainkan lumbung pangan potensial yang ikut memperkuat ketahanan pangan nasional. Sektor perkebunannya raksasa.
Bahkan, di depan para petani, Sanusi memamerkan data makro ekonomi yang bikin bangga. Kabupaten Malang sukses nangkring di peringkat kedua pertumbuhan ekonomi terbaik se-Jawa Timur sepanjang tahun 2025.
Buktinya nyata di lapangan: geliat pelaku UMKM tumbuh subur bak jamur di sepanjang jalur Turen hingga Sendang Biru.
Namun, ekonomi yang melesat itu kini sedang terbentur satu masalah klasik: infrastruktur.
Dari atas podium, Sanusi langsung menyoroti kondisi aspal jalan provinsi jalur Turen-Sendang Biru yang mulai kupak-kapik. Jalur logistik pariwisata itu butuh sentuhan darurat.
“Rupanya di wilayah Sumberagung dan Argotirto kondisinya sudah cukup parah. Saya minta Camat Sumawe hari ini juga segera buat surat permohonan resmi.”
“Biar langsung saya bawa dan teruskan ke Gubernur Jawa Timur agar perbaikan dan pelebaran jalan cepat dieksekusi. Biar masyarakat dan pelancong nyaman,” tegas pria asal Gondanglegi tersebut.
Logika birokrasinya lurus. Begitu pula saat warga menanyakan soal rencana pembongkaran aset bangunan puskesmas yang lama. Sanusi tidak mau asal main robohkan. Ada aturan hukum yang mengikat. Semua harus melewati tahapan administrasi dan restu dari tim penghapusan aset negara agar tidak menjadi temuan hukum di kemudian hari.
Sebagai bentuk kecintaan pada budaya lokal, bupati yang gemar berseloroh ini tidak pulang dengan tangan hampa.
Dompet pribadinya dirobek, menyumbang Rp5 juta secara tunai. Dinas Pariwisata ikut menambahi Rp4 juta. Modal patungan untuk menyukseskan acara rakyat.
Gotong royong dan kerukunan warga Sitiarjo adalah investasi sosial yang mahal. Puskesmasnya sudah dibenahi agar nakesnya ramah, jalur jalannya sedang diperjuangkan ke gubernur agar dilebarkan, dan tradisi encek-enceknya dijaga agar berkah tetap turun dari langit.
Malang Selatan sedang bersolek, dan Abah Sanusi memastikan pemerintah selalu hadir di tengah deru ombak dan doa-doa warga pesisir. (PKP/Ra Indrata)




