MALANG POST – Universitas Negeri Malang (UM) kembali menggebrak dengan menghadirkan Distinguished Chair Professor dari UCSI University, Prof. Ts. Dr. Ooi Keng-Boon.
Kali ini dalam kegiatan Visiting Impact Researchers World Class University bertajuk “Strategic Pathways to Research Excellence: Enhancing Scholarly Impact and Visibility”.
Dilaksanakan Jumat (22/5/2026) di Graha Rektorat Lantai 9. Kedatangan profesor dengan Scopus h-index 83 dan lebih dari 41 ribu sitasi ini, langsung menyedot perhatian jajaran Fakultas Vokasi UM.
Hingga dosen, kepala program studi dan mahasiswa doktoral Teknik Elektro dan Informatika, pun hadir. Antusiasme tinggi terlihat karena sosoknya dinilai sebagai kunci membuka gerbang riset kelas dunia.
Dekan Fakultas Vokasi UM, Prof. Dr. Ir. Muladi, tak menyembunyikan kekagumannya. Menurutnya, capaian fantastis Prof. Ooi adalah bukti nyata bahwa dampak riset jauh lebih penting sekadar jumlah publikasi.
“Beliau memiliki 41 ribu sitasi. Ini membuktikan kualitas riset dilihat dari pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan, bukan hanya sekadar angka,” tegasnya di hadapan peserta.
Dalam sesi pemaparannya, Prof. Ooi membongkar dua kunci sukses riset unggulan: scholarly impact dan visibility.
Rahasianya? Publikasi di jurnal internasional bereputasi tinggi.
“Kalau Anda publikasi di jurnal bereputasi, dampak riset otomatis naik. Tapi kalau di jurnal predator, reputasi Anda hancur,” peringatannya.
Pakar dari Malaysia itu, juga membagikan jurus jitu: teliti research gap, perkokoh landasan teori, jaga rigor metodologi dan bangun kontribusi teoritis serta praktis yang relevan.
Menurutnya, seorang peneliti wajib membaca puluhan hingga ratusan artikel ilmiah untuk menemukan kebaruan riset yang punya dampak jangka panjang.
Forum ini bukan sekadar diskusi biasa. Ini adalah langkah strategis UM untuk memperkuat ekosistem riset berkelas dunia dan mendongkrak daya saing perguruan tinggi Indonesia di kancah internasional.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat—pendidikan berkualitas—melalui penguatan kolaborasi global, publikasi ilmiah, dan kualitas penelitian. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




