MALANG POST – Penyerang tersubur sekaligus pahlawan kemenangan Arema FC, Dalberto Luan Belo, mengaku hingga saat ini status masa depan masa kontraknya bersama tim Singo Edan, untuk mengarungi kompetisi kasta tertinggi Super League musim depan, masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan. Meski sukses memecahkan rekor pribadi dengan menggelontorkan 19 gol sepanjang musim ini, striker haus gol asal Brasil tersebut bersiap mudik ke kampung halamannya, tanpa membawa draf perpanjangan ikatan kerja, lantaran jajaran manajemen Arema FC belum mengajaknya duduk bersama untuk berdiskusi.
Musim kompetisi baru saja ketok palu. Arema FC finis di peringkat ke-9. Tidak terlalu mentereng untuk tim sebesar Singo Edan, tapi juga tidak buruk melihat badai masalah yang sempat menerpa sepanjang tahun.
Dan pahlawan terbesarnya, Anda sudah tahu siapa: Dalberto Luan Belo.
Striker nomor punggung 94 itu baru saja menyihir Stadion Kanjuruhan, pada laga pamungkas kontra PSIM Yogyakarta kemarin. Satu gol dan dua assist dia borong sekaligus. Menjadikannya player of the match.
Sepanjang musim berjalan, ketajaman Dalberto luar biasa. Total 19 gol berhasil dilesakkan ke gawang lawan. Angka statistik yang mengerikan bagi bek mana pun di tanah air.
Namun, di balik kegemilangan itu, ada rasa waswas yang mulai menghinggapi dada Aremania. Isunya sensitif: kontrak kerja Dalberto akan segera habis.

Banyak media online kredibel mulai merumorkan bahwa sang striker kini tengah dibidik oleh klub-klub kaya dari ibu kota dan luar Jawa, yang siap mengguyurnya dengan nilai kontrak selangit.
Bagaimana respons Dalberto?
Ditemui usai laga terakhir di Stadion Kanjuruhan, pria ramah itu menjawabnya dengan blak-blakan. Gayanya tenang, tapi logis.
“Kawan, untuk hal itu saya belum tahu. Musim kompetisi baru saja berakhir dan pihak manajemen klub belum ada yang berbicara atau berdiskusi dengan saya mengenai hal tersebut,” ungkap Dalberto, Jumat (24/5/2026) malam.
Dia mengangkat bahu. Sekarang, fokusnya hanya satu: pulang ke rumah. Beristirahat total. Urusan masa depan musim depan? “Mari kita lihat apa yang akan terjadi nanti,” imbuhnya santai.
Padahal, Dalberto sudah telanjur jatuh cinta setengah mati pada klub dan kota ini. Baginya, dua musim di Malang adalah bagian dari perjalanan spiritual dan profesional terbaik dalam hidupnya.
Dia mengingat kembali memori indah saat pertama kali menginjakkan kaki di mes Arema.
Saat itu, trofi juara Piala Presiden langsung berhasil didekapnya. Belum lagi saat dia menginjakkan kaki di Stadion Kanjuruhan dan melihat lautan manusia berbaju biru, memberikan dukungan total tanpa henti. Di situlah batinnya bergetar.
“Di situ saya benar-benar memahami apa itu Arema. Dukungan besar itulah yang memotivasi saya untuk bekerja keras setiap hari. Baik dalam kondisi menang maupun kalah,” kenangnya dengan mata berbinar.
Kerja keras itu terbayar lunas. Catatan statistiknya musim ini resmi melampaui rekor pribadinya di musim lalu. Dalberto merasa sangat bahagia bisa terus memecahkan rekor dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.
Namun, dia menolak disebut pahlawan kesiangan yang berjuang sendirian.
“Saya ingin berterima kasih kepada seluruh jajaran manajemen Arema, rekan setim, dan juga tim teknis. Tanpa mereka, saya tidak akan bisa meraih angka-angka statistik individu yang berhasil saya capai sekarang,” kata penyerang berusia 31 tahun itu dengan penuh kerendahan hati.
Bagi Dalberto, Malang bukan lagi sekadar pelabuhan karier sepak bola yang singgah lalu pergi. Kota dingin ini sudah menjadi bagian dari darah dagingnya. Ada ikatan batin yang sangat sakral dan mendalam di bumi Arema.
“Saya sangat bahagia atas semua hal yang terjadi di kota ini. Saya benar-benar bahagia karena di kota inilah Tuhan menganugerahkan kelahiran putri saya,” tutur Dalberto penuh emosional.
Anaknya lahir di Malang. Jiwanya sudah menyatu dengan kultur Aremania. Sebenarnya, hasrat pribadinya masih membara untuk membawa Arema terbang lebih tinggi menembus papan atas dan bersaing memperebutkan gelar juara musim depan.
Kini bola panas sepenuhnya menggelinding ke meja manajemen Arema FC di bawah komando Yusrinal Fitriandi.
Secara logika bisnis sepak bola modern, mempertahankan striker asing pemegang garansi 19 gol semusim adalah harga mati.
Terlambat menyodorkan kontrak baru, atau pelit dalam bernegosiasi angka, taruhannya sangat mahal: Dalberto bisa dicomot klub rival dalam sekejap mata.
Aremania tentu tidak ingin melihat putri kecil Dalberto tumbuh besar dengan melihat ayahnya mencetak gol ke gawang Arema, dengan seragam klub lain musim depan. Manajemen harus bergerak cepat sebelum libur musim panas di Brasil usai. (Ra Indrata)




