MALANG POST – Skemanya selalu sama: lengah sedikit, motor amblas. Atau, jempol terlalu lincah di layar ponsel, tabungan ludes dikuras penipu siber.
Dua momok inilah—pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan penipuan online—yang hingga hari ini masih merajai angka kriminalitas di Kota Malang.
Kenyataan pahit mengenai situasi keamanan di Kota Pendidikan ini dibongkar oleh KBO Satreskrim Polresta Malang Kota, IPDA Galih Mohamad Hamdan, dalam talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Sabtu (23/5/2026) hari ini.
Ipda Galih memetakan dua wilayah yang paling merah: Kecamatan Lowokwaru dan Kecamatan Blimbing.
Dua daerah itu adalah magnet. Gudangnya mahasiswa dan perumahan padat.
Sayangnya, bagi para pelaku kejahatan, dua wilayah ini juga merupakan ladang perburuan paling empuk.
“Para pelaku ini sangat pintar membaca situasi. Mereka memanfaatkan kelengahan warga dan minimnya pengawasan di lingkungan permukiman,” ujar IPDA Galih.
Kepolisian sebenarnya tidak tinggal diam. Sejumlah sindikat pencuri kendaraan lintas kota sudah berhasil digulung. Pelakunya dijebloskan ke sel.
Namun, ibarat patah tumbuh hilang berganti, pelaku baru selalu muncul.
Itulah mengapa Polresta Malang Kota kini mengubah strategi. Tidak hanya menunggu laporan di balik meja, polisi mulai gencar melakukan patroli malam, pemetaan wilayah rawan, hingga edukasi hukum ke tingkat rukun tetangga.
“Kuncinya ada di kewaspadaan bersama. Polisi tidak bisa melototi setiap gang 24 jam. Masyarakat harus aktif lagi menjaga lingkungannya,” tegas Galih.
Tuntutan Bergaya di Era Digital
Mengapa kriminalitas jalanan tak pernah mati? Mengapa justru makin subur?
Wakil Dekan II FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, yang juga hadir dalam diskusi tersebut, melihat ada pergeseran motivasi yang mengerikan.
Kejahatan zaman sekarang sudah berevolusi. Semakin terorganisir. Mereka memanfaatkan kemudahan akses digital untuk melancarkan aksi tipu-tipu.
Ada yang lebih membuat miris: pelakunya mulai banyak melibatkan usia remaja. Anak-anak muda.
“Ini bukan lagi sekadar urusan perut atau faktor ekonomi klasik. Pola kejahatan saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan tekanan gaya hidup,” analisis Luluk.
Anak muda zaman sekarang menghadapi tekanan sosial yang berbeda. Ada tuntutan untuk tampil modis. Tampil ada di media sosial.
Ketika lingkungan pergaulan menuntut standar tinggi, sementara pendidikan dasar dan modal ekonomi tidak memadai, jalan pintas pun diambil. Moralitas dikesampingkan.
Bagi Luluk, urusan ini sudah masuk fase lampu kuning. Mengatasinya tidak bisa lagi hanya mengandalkan borgol dan pistol polisi.
“Harus ada kolaborasi total. Kampus, keluarga, aparat keamanan, dan masyarakat harus bersatu. Edukasi moral dan kesadaran hukum harus disuntikkan kembali ke kepala anak-anak muda kita. Pengawasan lingkungan juga jangan sampai kendor,” pungkas Luluk.
Kota Malang ini terlalu indah untuk dinodai oleh ketakutan kehilangan sepeda motor di teras rumah sendiri.
Polisi sudah memetakan wilayahnya, akademisi sudah membaca akarnya.
Sekarang, tinggal bagaimana warga Malang merapatkan barisan di pos ronda dan menjaga jempolnya di dunia maya. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




