Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Malang, Dr. R. Djoni Sudjatmoko, S.E., M.M. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Malang, Dr. R. Djoni Sudjatmoko, S.E., M.M., menegaskan bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang sempat terjadi belakangan ini murni dipicu oleh kesalahpahaman (miskonsepsi) massal para investor, terhadap rencana kebijakan ekspor satu pintu pemerintah, Minggu (24/5/2026). Sentimen negatif berupa aksi amuk jual (panic selling) pada saham sektor komoditas dan logistik tersebut, dinilai Djoni sebagai reaksi keliru pelaku pasar. Padahal regulasi baru berbasis single window digital ini justru bertujuan memangkas biaya logistik siluman dan memperkuat fundamental emiten dalam jangka panjang.
Pasar saham itu sensitifnya luar biasa. Kadang, baru mendengar desas-desus sedikit saja, para pemilik modal sudah gemetaran. Jari mereka langsung gatal menekan tombol sell. Jual.
Itulah yang terjadi pada lantai bursa kita pekan ini. IHSG merah. Rontok.
Pemicunya: isu kebijakan ekspor satu pintu. Banyak investor ritel hingga institusi gelisah. Di kepala mereka langsung muncul bayangan buruk: birokrasi bakal makin panjang, proses ekspor melambat, atau volume ekspor komoditas andalan kita sengaja dibatasi.
Lebih ekstrem lagi, muncul persepsi keliru bahwa pemerintah ingin mengendalikan harga komoditas agar tetap berada di level rendah.
Apakah benar pemerintah sekejam itu pada dunia usaha?
Dr. R. Djoni Sudjatmoko langsung meluruskan logika sesat tersebut. Pengusaha kakap yang juga tokoh pendidikan Malang ini membedah masalah dengan jernih. Menurutnya, pasar sudah salah arah dalam membaca maksud negara.
“Kebijakan ekspor satu pintu itu sejatinya bukan untuk menekan harga komoditas. Sama sekali bukan. Tujuan utamanya justru kebalikannya: memperbaiki tata kelola perdagangan ekspor kita agar lebih transparan,” ujar Djoni Sudjatmoko, Minggu (24/5/2026).
Djoni membuka borok lama yang ingin disembuhkan pemerintah. Selama ini, negara dan pemegang saham publik sering dirugikan oleh ulah oknum emiten nakal.
Modusnya: under invoicing (membuat nota tagihan lebih rendah dari aslinya) dan transfer pricing (manipulasi harga antarcabang perusahaan di luar negeri).
Praktik culas itu dipakai untuk menyembunyikan keuntungan asli perusahaan, agar pajaknya murah.
Nah, dengan sistem satu pintu (single window) ini, semua pintu rahasia itu ditutup. Pelaporan nilai ekspor wajib masuk dalam satu platform digital yang terintegrasi antarkementerian. Hasilnya? Pendapatan emiten tercatat jujur sesuai volume nyata.
“Transparansi ini justru menjadi obat kuat bagi fundamental perusahaan. Kepercayaan investor publik terhadap laporan keuangan emiten pasti naik,” jelas Djoni.
Lantas, mengapa indeks saham tetap saja turun?
Urusannya kembali ke soal psikologis. Istilah kerennya: market shock. Reaksi kejut.
Pasar saham selalu membenci ketidakpastian atau regulasi baru, sebelum mereka benar-benar paham bagaimana cara mainnya di lapangan. Isu birokrasi macet terlanjur ditiupkan, panic selling pun tak terhindarkan.
Padahal, implikasi birokrasi dari sistem digital ini justru sangat manis. Berbagai dokumen yang dulunya harus diurus keliling dari meja ke meja di kementerian yang berbeda, kini disatukan dalam satu layar komputer.
Hasil konkretnya jelas: waktu tunggu bongkar muat (dwelling time) menjadi lebih pasti, ekosistem ekspor ilegal diberantas, dan yang paling disukai pengusaha: biaya logistik siluman bisa dipangkas habis.
Sebagai pengamat ekonomi yang matang, Djoni melihat penurunan IHSG jangka pendek ini justru sebagai berkah tersembunyi. Khususnya bagi investor yang berkepala dingin.
“Ketika harga saham-saham berfundamental bagus turun hanya karena sentimen salah paham, di situlah valuasi saham menjadi sangat murah. Ini adalah buying opportunity. Kesempatan emas untuk membeli barang bagus dengan harga diskon,” saran Djoni taktis.
Biasanya, pasar yang rasional akan segera melakukan koreksi teknis (rebound). Begitu para bandar dan investor asing menyadari bahwa regulasi ini justru menghemat biaya operasional emiten, grafik IHSG dipastikan bakal kembali meroket ke zona hijau.
Pemerintah kini punya pekerjaan rumah: jangan pelit informasi. Penjelasan yang komprehensif harus segera diguyurkan ke publik agar kepanikan tidak meluas.
Sebab, sebuah kebijakan yang niatnya membersihkan jalur logistik dari para “tikus” birokrasi, jangan sampai gagal hanya karena salah diterjemahkan oleh para pemilik modal di lantai bursa. (Ra Indrata)




