MALANG POST – Universitas Brawijaya (UB) bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang menggelar pelatihan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) bagi mahasiswa di Auditorium Algoritma FILKOM Lantai 2 UB, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga tangguh dan responsif sebagai garda depan penanggulangan kebakaran di area kampus.
Perwakilan Damkar Kota Malang, Dimas Rizqi Mubarok, membekali para mahasiswa dengan teori dan taktik penyelamatan saat terjadi kebakaran. Mahasiswa diperkenalkan pada konsep dasar terbentuknya api (segitiga api), tahapan perkembangan kebakaran, hingga metode pemadaman yang efektif dan aman.
”Api terjadi karena adanya kombinasi bahan bakar, oksigen, dan panas. Kunci utama memadamkannya adalah dengan memutus salah satu dari ketiga komponen tersebut secara cepat dan tepat,” jelas Dimas di hadapan para peserta.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memahami klasifikasi kebakaran berdasarkan sumber penyebabnya, mulai dari benda padat, cairan dan gas, listrik, hingga logam. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai alat mitigasi kebakaran seperti hydrant, siames connection, jalur evakuasi, tangga darurat, dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
“Mahasiswa harus peka terhadap lingkungan sekitar. Mengetahui letak APAR dan jalur evakuasi di gedung kuliah adalah keterampilan wajib agar tidak panik dan bisa bertindak cepat saat alarm darurat berbunyi,” tegas Dimas.
Tidak hanya sekadar teori di dalam ruangan, puncak pelatihan ini bergeser ke halaman depan Edutech FILKOM UB. Di bawah pengawasan ketat tim Damkar Kota Malang, para mahasiswa ditantang melakukan praktik langsung menjinakkan api yang berkobar.
Dalam kegiatan tersebut mahasiswa diajarkan dua teknik krusial yaitu metode tradisional menggunakan karung goni basah untuk memutus pasokan oksigen pada api (smothering) dan metode modern: Menggunakan APAR dengan teknik PASS (Pull, Aim, Squeeze, Sweep) yang benar.

Simulasi live fire ini memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa agar memiliki mental yang tenang dan tidak gugup saat berhadapan langsung dengan jago merah.
Sebelum simulasi pemadaman api dimulai, pelatihan ini dibuka dengan pembekalan budaya K3L oleh Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, M.Kes. Ia mengingatkan bahwa kesiapsiagaan darurat seperti kebakaran juga bermula dari kedisiplinan menjaga keamanan aktivitas harian dan laboratorium.
Kepala Divisi K3L Prof. Qomariyatus menekankan pentingnya Job Safety Analysis (JSA) dan penggunaan alat pelindung diri di laboratorium untuk mencegah terjadinya insiden fatal, termasuk korsleting listrik dan ledakan bahan kimia yang memicu kebakaran. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




