MALANG POST – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang panggung global. Meski kedua negara memasuki fase gencatan senjata, situasi tersebut belum sepenuhnya menjamin berakhirnya konflik.
Justru, kondisi ini memperlihatkan bahwa perebutan pengaruh geopolitik dunia masih terus berlangsung dan berpotensi memunculkan krisis baru.
Di tengah dinamika itu, dosen Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang (UM) yang memiliki fokus kajian komunikasi politik, Dr. Akhirul Aminulloh, menilai konflik tersebut tidak sekadar berkaitan dengan kekuatan militer.
Menurutnya, pertarungan yang terjadi juga menyangkut dominasi politik, kepentingan strategis, hingga perebutan pengaruh negara-negara besar dalam tatanan global.
“Konflik seperti ini tidak hanya berbicara tentang perang dalam arti fisik, tetapi juga mengenai bagaimana negara mempertahankan pengaruh dan kepentingannya,” ujarnya saat diwawancarai Tim Humas UM pada Kamis (23/4/2026).
Dalam perspektif geopolitik, fase gencatan senjata dapat dibaca dari dua sisi. Di satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang deeskalasi dan jalan menuju perdamaian.
Namun di sisi lain, gencatan senjata juga dapat menjadi ruang konsolidasi strategi sebelum masing-masing pihak menentukan langkah politik dan keamanan berikutnya.
Akhirul menjelaskan, kemenangan dalam konflik internasional tidak selalu ditentukan oleh superioritas militer. Stabilitas pemerintahan, dukungan publik, serta kemampuan menjaga legitimasi politik turut menjadi faktor penting dalam menentukan posisi suatu negara di mata dunia.
Di era globalisasi yang semakin terhubung, konflik di satu kawasan dapat memicu efek domino terhadap negara lain, termasuk Indonesia. Salah satu sektor yang paling rentan terdampak ialah ekonomi global, terutama distribusi energi dan jalur perdagangan internasional.
“Ketika terjadi gangguan pada jalur distribusi energi atau perdagangan internasional, dampaknya tidak hanya dirasakan negara yang berkonflik, tetapi juga negara lain yang memiliki keterkaitan ekonomi,” jelasnya.
Gangguan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi, terganggunya rantai pasok global, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa stabilitas geopolitik memiliki keterkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat internasional.
Selain berdampak pada ekonomi, konflik berkepanjangan juga dinilai mampu mengubah keseimbangan politik global. Akhirul menyoroti semakin dinamisnya peta kekuatan dunia, terutama dengan keterlibatan negara-negara besar seperti Rusia dan Tiongkok yang memiliki kepentingan strategis masing-masing.
“Perubahan fokus dan prioritas negara-negara besar dapat memunculkan dinamika baru dalam tatanan global,” katanya.
Karena itu, jalur diplomasi dinilai tetap menjadi instrumen paling rasional untuk menekan eskalasi konflik. Menurut Akhirul, keterlibatan berbagai negara dalam mendorong mediasi dan ruang dialog dapat membuka peluang penyelesaian yang lebih konstruktif dibandingkan pendekatan konfrontatif.
“Semakin banyak pihak yang mendorong ruang dialog, maka semakin besar peluang untuk mencapai penyelesaian damai,” ujarnya.
Sebagai Kepala Komite Laboratorium Pancasila (Lapasila) UM, Akhirul juga menekankan pentingnya konsistensi politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dipegang Indonesia.
Di tengah memanasnya dinamika geopolitik dunia, Indonesia dinilai perlu mempertahankan posisi strategis sebagai negara yang mendorong perdamaian internasional tanpa terjebak dalam kepentingan blok tertentu.
“Indonesia sejak awal memiliki tradisi untuk mendorong perdamaian dan menjaga posisi yang tidak terjebak pada kepentingan blok tertentu,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan terbesar Indonesia ke depan bukan hanya mempertahankan prinsip tersebut, melainkan juga memperkuat kapasitas diplomasi agar mampu mengambil peran lebih aktif dalam merespons berbagai isu global.
Konflik Amerika Serikat dan Iran menjadi bukti bahwa stabilitas dunia saat ini semakin rapuh. Dalam situasi global yang saling terhubung, ketegangan geopolitik tidak lagi berdampak lokal, melainkan turut memengaruhi ekonomi, keamanan, hingga hubungan antarnegara secara luas. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




