MALANG POST – Pemerintah Kota Batu resmi membuka program pelatihan kerja berbasis kompetensi gratis, yang dibiayai dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2026 di Aston Inn dan Horison Trunojoyo Batu, Kamis (21/5/2026) pagi. Program yang diinisiasi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batu ini, diikuti oleh 120 anak muda usia produktif asli Kota Batu. Guna membekali mereka dengan keahlian praktis (hard skill) dan karakter (soft skill) agar siap bersaing di era digital dan menekan angka pengangguran daerah.
Dunia kerja sudah berubah total. Sangat cepat.
Kalau hari ini anak muda Kota Batu masih berpikir selembar ijazah, bisa otomatis mendatangkan pekerjaan, mereka keliru besar. Ijazah saja tidak cukup. Zaman sekarang, yang laku di pasar adalah keterampilan nyata.
Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, paham betul urusan ini.
Maka, saat membuka pelatihan kerja kemarin, Heli tidak sekadar membaca teks pidato formal dari protokol. Dia justru memilih curhat. Berbagi kisah nyata masa lalunya, yang belum banyak diketahui publik.
Anda mungkin baru tahu: sebelum duduk di kursi empuk pemerintahan, Heli adalah seorang petarung jalanan. Dia pernah bekerja sebagai marketing alias salesman di sebuah perusahaan farmasi. Tidak sebentar. Hampir tujuh tahun.
Tujuh tahun menjadi sales obat tentu bukan waktu yang pendek. Di sanalah mental kerjanya ditempa. Di situ pula dia belajar cara berkomunikasi, membangun karakter, dan yang paling mahal: merawat kepercayaan pelanggan.
“Kalau kita hanya mengandalkan ijazah tanpa punya hard skill maupun soft skill, akan sulit bertahan di era sekarang. Kuncinya cuma tiga: belajar, konsisten, dan amanah terhadap kepercayaan,” tegas Heli di depan peserta. Kalimatnya bertenaga. Khas orang lapangan.

PEMBUKAAN: Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto saat membuka program pelatihan kerja bagi warga Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Heli menyalami satu per satu anak muda yang hadir. Ada 120 orang. Mereka beruntung bisa lolos seleksi.
Pemkot Batu sudah menyiapkan empat klaster peluru tajam yang paling dicari industri kreatif saat ini: digital marketing, commercial make up (MUA), barista kopi, dan operator Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Semua ini bukan proyek asal jalan. Target akhirnya jelas: sertifikasi kompetensi nasional.
Heli tidak ingin melihat setelah pelatihan selesai, sertifikatnya hanya dipajang di dinding kamar. “Jadilah agen perubahan. Sebarkan ilmu, dan buka lapangan kerja baru di lingkungan masing-masing,” pintanya penuh harap.
Bahkan, Pemkot Batu menunjukkan keseriusannya memanusiakan pekerja muda. Hari itu juga, Heli bersama Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kota Batu, membagikan langsung kartu kepesertaan jaminan sosial. Artinya, selama masa pelatihan yang melelahkan itu, risiko kerja mereka sudah dilindungi negara.
Lalu, bagaimana teknis pelaksanaannya?
Kepala Disnaker Kota Batu, MD Forkan, langsung membeberkan cetak birunya. Pelatihan ini dibagi dalam hitungan hari yang ketat dan dipusatkan di hotel-hotel berbintang di Kota Batu, agar suasananya profesional.
Pelatihan digital marketing dan commercial make up digeber di Aston Inn Batu. Sementara untuk urusan K3 dan barista, latihannya dipusatkan di Horison Trunojoyo Batu. Waktunya bervariasi, mulai dari 10 hingga 16 hari, bergulir sejak 21 Mei hingga pertengahan Juni mendatang.
“Tahun 2026 ini kami memang memprioritaskan sektor ekonomi kreatif, pariwisata, dan digitalisasi. Ini strategi daerah untuk mencetak SDM berkualitas sekaligus menekan angka pengangguran,” jelas Forkan.
Langkah Pemkot Batu kali ini patut diacungi jempol. Dana cukai rokok (DBHCHT) tidak hanya habis untuk urusan administratif, melainkan dikembalikan untuk memodali masa depan anak-anak muda.
Sekarang, bolanya ada di tangan 120 peserta. Mau sekadar datang duduk menyerap uang saku, atau benar-benar menyerap ilmu dari mantan salesman farmasi yang kini jadi pemimpin kota itu. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




