MALANG POST – Dinas Pendidikan Kota Batu, melalui Bidang PAUD dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas), resmi menggulirkan program digitalisasi massal, dengan menyuntikkan perangkat Papan Interaktif Digital (PID) ke 66 Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) se-Kota Batu, Rabu (20/5/2026). Langkah taktis berskala nasional ini diperkuat melalui pelatihan bimbingan teknis Rencana Tindak Lanjut (RTL) di Aula Dinas Pendidikan, guna mengonversi metode belajar tradisional menjadi ekosistem digital berbasis kurikulum deep learning (belajar mendalam) sejak usia dini.
Anak zaman sekarang lahir langsung melihat gawai. Jemari mungil mereka sudah lincah menggeser layar telepon pintar. Menolak teknologi di kelas jelas tindakan kuno.
Maka, Dinas Pendidikan Kota Batu mengambil langkah berani: sekalian saja ruang kelasnya didigitalisasi. Tapi, bukan dengan membiarkan anak bermain gawai sendiri-sendiri. Melainkan lewat Papan Interaktif Digital. Sederhananya: sebuah papan tulis raksasa berbentuk layar sentuh pintar.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, tidak ingin bantuan teknologi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini, berakhir menjadi pajangan mewah di dinding kelas. Komputer pintar itu harus bisa mengubah cara guru mengajar dan cara anak berpikir.
“PAUD merupakan fase emas perkembangan anak. Pada tahap ini anak membutuhkan stimulasi yang tepat untuk merangsang rasa ingin tahu, kemampuan bahasa, kreativitas, motorik, hingga kemampuan sosialnya,” ujar Alfi Nurhidayat, Rabu (20/5/2026).

PEMBUKAAN: Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat saat membuka RTL Digitalisasi Pembelajaran Jenjang Paud. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Logika Alfi benderang. Di era informasi yang menderu kencang seperti sekarang, teknologi tidak bisa lagi dipinggirkan dari kurikulum. Ia harus dijinakkan. Harus ditarik ke dalam kelas untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya demi merangsang otak anak agar lebih kreatif dan interaktif.
Saringan Ketat Data Dapodik
Bagaimana papan tulis pintar itu bisa mendarat di sekolah-sekolah?
Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Dindik Kota Batu, Diana Farianti, membeberkan dapurnya. Urusan pembagian barang ini jalurnya kaku. Birokrasi daerah tidak bisa ikut campur tangan, apalagi main mata menitipkan jatah.
Semua dikendalikan langsung dari Jakarta menggunakan algoritma Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Dari total 74 lembaga TK dan RA yang tercatat resmi di Kota Batu, sebanyak 66 lembaga rapor Dapodiknya dinyatakan hijau dan langsung menerima bantuan fisik PID.
Sisanya? Sebanyak 8 lembaga masih harus gigit jari sementara waktu karena terganjal proses verifikasi dan validasi data administrasi.
“Pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan dalam penyaluran bantuan. Kami hanya melakukan pengawasan serta memberikan bimbingan teknis pemanfaatannya,” jelas Diana Farianti.
Rabu pagi itu, Aula Dindik dipenuhi ratusan guru TK dari Kecamatan Batu untuk kloter pertama. Menyusul hari berikutnya giliran guru-guru dari Kecamatan Junrejo dan Bumiaji. Mereka dikumpulkan bukan untuk mendengarkan ceramah teori, melainkan dipaksa praktik langsung di depan layar interaktif.
Menularkan Ilmu dan Mengunci Karakter
Diana menerapkan strategi pengimbasan (cascading). Polanya mirip MLM kebaikan: sejumlah guru penggerak yang sebelumnya sudah dikirim mendapat bimbingan teknis tingkat tinggi di Pemprov Jawa Timur, diwajibkan menularkan ilmunya secara gratis kepada guru-guru PAUD lain di kampungnya. Ilmu tidak boleh mandek di satu kepala.
Target akhirnya adalah mendukung transisi kurikulum baru: deep learning.
Melalui papan interaktif ini, proses belajar-mengajar tidak lagi berjalan searah di mana guru mendikte dan anak mencatat. Materi diubah menjadi visualisasi animasi digital, digabungkan dengan permainan edukatif, serta diselingi simulasi pembelajaran lingkungan.
Anak-anak diajak menyentuh, menggeser, dan berdiskusi kelompok di depan papan digital. Menarik, menyenangkan, namun esensi penguatan karakter sosiologis dan nilai budayanya tetap dikunci rapat.
“Sekarang anak-anak sudah akrab dengan gawai. Karena itu pendekatan pembelajaran juga harus menyesuaikan perkembangan zaman. PID menjadi salah satu alat untuk mendukung pembelajaran digital di jenjang PAUD,” pungkas Diana.
Mengubah kultur mengajar guru TK dari spidol manual ke layar sentuh tentu butuh waktu dan kesabaran ekstra. Namun, melihat antusiasme para pendidik yang saling berbagi ilmu di Among Tani hari ini, fajar baru digitalisasi pendidikan di Kota Batu tampaknya sedang merekah dari ruang kelas anak-anak usia dini. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




