MALANG POST – Presiden RI Prabowo Subianto, secara resmi meresmikan operasionalisasi empat unit Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kota Batu secara virtual, bersamaan dengan peresmian massal 1.061 unit koperasi serupa di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pengumuman monumental ini disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Batu, Heli Suyanto, di Balai Kota Among Tani, Selasa (19/5/2026), sebagai tanda dimulainya babak baru pemangkasan rantai distribusi pangan dan pupuk bagi masyarakat petani di lereng Gunung Banyak tersebut.
Empat wilayah beruntung itu sudah diketuk palu. Mereka adalah Kelurahan Dadaprejo, Kelurahan Temas, Desa Torongrejo, dan Desa Sumberejo. Di empat titik itulah gerai KDKMP kini resmi berdiri tegak, siap menderu melayani rakyat.
Batu bergerak cepat. Sungguh cepat.
Target totalnya ada 24 desa dan kelurahan di seluruh Kota Wisata ini, yang harus memiliki KDKMP. Sampai pertengahan Mei 2026 ini, fisiknya sudah berdiri di 20 wilayah. Progresnya nyaris sempurna, berjalan merata di atas rel Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Dari target 24 desa dan kelurahan, sebanyak 20 wilayah telah merealisasikan pembangunan fisik KDKMP,” ujar Heli Suyanto, Selasa (19/5/2026).
Lalu, ke mana empat sisanya? Mengapa belum tersentuh semen dan bata?

SUDAH JADI: KDKMP di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu menjadi salah satu KDKM yang sudah jadi dan telah diresmikan Presiden. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Empat wilayah itu adalah Kelurahan Sisir, Kelurahan Ngaglik, Desa Sidomulyo, dan Desa Pesanggrahan. Masalahnya klasik, khas daerah perkotaan yang padat: urusan tanah.
Mencari lahan kosong yang pas secara hukum dan strategis untuk dijadikan lokasi gerai logistik di empat zona itu susahnya setengah mati. Pemerintah masih harus bersabar memberesi urusan administrasi lahan ini.
Senjata Pemotong Gurita Distribusi
Heli menegaskan, KDKMP ini bukan proyek papan nama. Bukan pula sekadar formalitas untuk menyenangkan hati presiden di Jakarta. Ini adalah perintah langsung dari Presiden Prabowo, untuk menjadikan koperasi sebagai tulang punggung ekonomi dari pinggiran.
Target utamanya adalah kaum marhaen di ladang: para petani. Selama bertahun-tahun, petani Batu selalu didera penyakit musiman yang itu-itu saja.
Mulai dari kelangkaan pupuk bersubsidi saat musim tanam tiba, hingga cekikan harga bahan pokok yang melonjak tak keruan setiap kali menjelang hari besar keagamaan. Jalur distribusinya terlalu panjang, dikuasai para tengkulak dan spekulan.
KDKMP hadir untuk memotong gurita itu. Koperasi ini memegang kendali logistik tingkat desa. Dalam operasionalnya, gerai Merah Putih ini akan langsung bergandengan tangan dengan BUMN untuk menyuplai pupuk langsung dari pabrik ke petani. Tanpa perantara yang bikin harga bengkak.
“KDKMP ini dihadirkan untuk kepentingan masyarakat. Pengelolaannya harus benar-benar berpihak pada kesejahteraan petani. Tujuannya jelas, memotong rantai distribusi agar pupuk dan kebutuhan pokok bisa diakses lebih mudah dan terjangkau,” urai Heli.
Warning Keras: Jangan Matikan Toko Kelontong
Namun, ada satu catatan filosofis dari Heli Suyanto yang sangat menarik. Catatan yang menunjukkan kematangan berpikir seorang pemimpin daerah.
Heli memberikan warning keras kepada para pengurus KDKMP yang baru dilantik. Koperasi Merah Putih ini membawa modal besar dari negara. Fasilitasnya lengkap, sistemnya modern, logistiknya kuat.
Dengan kekuatan sebesar itu, KDKMP jangan sampai menjelma menjadi serigala yang rakus di dalam desa. Jangan sampai kehadirannya, justru membunuh toko-toko kelontong kecil atau warung-warung madura milik warga lokal, yang sudah lebih dulu tumbuh berdarah-darah mempertahankan ekonomi keluarga mereka.
Koperasi harus menjadi penguat ekosistem, bukan predator pemangsa usaha cilik.
“Koperasi ini harus memperkuat ekonomi desa, bukan mematikan usaha masyarakat. Karena itu, pengelolaannya harus direncanakan secara matang, profesional, dan berbasis pemetaan potensi lokal,” tutur Heli, mengingatkan dengan nada serius.
Caranya? Jadikan usaha warga sebagai mitra dagang. Rangkul mereka. Kemampuan pengurus membaca kondisi riil sosiologis desa akan diuji di sini. Tata kelolanya harus terukur secara humanis.
Presiden Prabowo di Jakarta sudah menyebut peresmian ribuan koperasi ini sebagai tonggak sejarah ekonomi kerakyatan.
Di Batu, pondasi itu sudah ditanam di 20 titik. Kini, bola sepenuhnya ada di tangan pengurus di tingkat desa.
Apakah gerai Merah Putih ini benar-benar bisa menjadi penyelamat petani, atau justru menjadi pesaing baru bagi warung tetangga, waktu lima bulan ke depan yang akan menjadi saksinya. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




