MALANG POST – Perum Bulog Cabang Malang memastikan komitmennya, untuk menyerap secara maksimal seluruh hasil panen beras petani lokal, yang belum tertampung oleh pasar bebas, di tengah tren meroketnya surplus produksi padi nasional yang kini menyentuh angka setara 5,3 juta ton beras. Ketegasan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Bulog Cabang Malang, M. Nurjuliansyah Rachman, di kantornya, Senin (18/5/2026), sebagai langkah taktis menjaga stabilitas harga dan melindungi kesejahteraan petani di wilayah Malang Raya hingga Pasuruan, selama musim panen raya bergulir.
Jawa Timur sedang hijau-hijaunya. Banjir padi di mana-mana. Angka di atas kertas dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan bikin dahi berkerut kagum: luas panen di Jatim menembus 1,84 juta hektare.
Hasilnya? Ada 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG) yang diproduksi. Angka itu melompat 12,60 persen dibanding tahun lalu.
Tidak berhenti di sana. Radar BPS per 4 Mei 2026 kemarin juga memproyeksikan potensi produksi padi untuk semester pertama tahun ini bakal melesat ke angka 6,62 juta ton GKG. Ada kenaikan 5,28 persen.
Panen melimpah itu berkah. Tapi, kalau tidak ada yang membeli, berkah itu bisa berubah jadi bencana ekonomi bagi petani. Harga bisa jatuh bebas.
Di sinilah hukum pasar bekerja secara kejam jika tidak ada bentengnya. Dan Bulog hadir untuk menjadi benteng itu. Bertindak sebagai off taker—pembeli siaga di garda belakang.
“Bulog siap menyerap beras petani yang belum terserap pasar,” ujar pria yang akrab disapa Anung itu, Senin (18/5/2026).

Tentu, ada syaratnya. Bulog punya pakem kualitas yang kaku, demi menjaga mutu cadangan pangan pemerintah.
Ada hitungan kadar air, persentase tingkat patahan bulir beras, serta patokan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Semua harus presisi.
Membidik Rekor Baru di Jawa Timur
Manajemen Bulog Malang tahun ini jalannya cepat sekali. Tengok saja raport pengadaannya. Sampai pertengahan Mei 2026 ini, gudang-gudang Bulog Malang sudah telanjur penuh terisi 70 ribu ton beras.
Padahal, target total pengadaan mereka tahun ini dipatok di angka 76 ribu ton.
Artinya, target itu sudah tercapai hampir 92 persen ketika tahun belum lagi separuh jalan. Kecepatan serapan ini melonjak 30 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Ini melanjutkan tradisi mentereng musim lalu. Pada tahun 2025, performa pengadaan Bulog Malang sukses menembus angka 61 ribu ton beras, alias 106 persen melampaui target semula.
Sukses menempatkan diri sebagai salah satu cabang dengan prestasi serapan tertinggi di Jawa Timur.
Ironi Sektor Pascapanen: Potensi Raksasa, Alat Mini
Namun, Anung bukan tipe pemimpin yang cepat puas dengan angka di atas kertas. Ia melihat ada kerikil tajam di balik gemerlapnya angka surplus tersebut.
Masalahnya klasik: modernisasi teknologi pascapanen kita masih jalan di tempat.
Petani kita pintar menanam. Tanah Malang Raya subur tiada tara. Penggilingan padi lokal bertebaran di pelosok desa. Potensinya raksasa.
Tapi, cobalah tengok alat-alatnya. Mayoritas masih tradisional. Kapasitasnya mini.
“Jumlah alat modern seperti combine harvester, mesin pengering (dryer), hingga fasilitas penggilingan berskala besar masih sangat terbatas. Ini yang perlu didorong agar mereka bisa naik kelas,” aku Anung, jujur.
Tanpa mesin pengering yang modern, petani akan selalu mendiktekan nasibnya pada kebaikan sinar matahari.
Kalau mendung tiba saat panen, kualitas gabah otomatis merosot. Tingkat patahannya tinggi saat digiling. Ujung-ujungnya, beras mereka gagal memenuhi standar ketat Bulog.
Karena itu, Bulog Malang kini mengubah strategi. Mereka tidak mau sekadar bertindak sebagai kasir yang membeli barang di hilir. Mereka mulai masuk ke hulu, menggandeng gerombolan pemilik penggilingan lokal untuk dibina bersama.
Pesan Anung kepada para petani di Malang Raya sangat menukik: kalau sedang untung besar dari hasil panen, jangan buru-buru uangnya habis untuk kebutuhan konsumtif. Investasikan sebagian keuntungan itu untuk membeli alat pertanian modern.
Sebab, kemandirian pangan sejati tidak pernah lahir dari cangkul tradisional, melainkan dari efisiensi teknologi yang presisi di atas lahan pertanian. (Ra Indrata)




