MALANG POST – Bupati Malang, HM. Sanusi, secara resmi meletakkan batu pertama pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Turen #006 di Jalan Raya Talangsuko, Desa Talangsuko, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, akhir pekan kemarin.
Fasilitas yang diinisiasi oleh Yayasan Peduli Berkah Nusantara ini, menjadi unit SPPG ke-223 dari total target 274 unit yang disiapkan di Kabupaten Malang, untuk melayani kebutuhan pangan sehat bagi 507 ribu jiwa penerima manfaat.
Kabupaten Malang ini luas. Penduduknya padat. Menjalankan program raksasa seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, jelas bukan perkara gampang.
Butuh logistik raksasa. Butuh manajemen yang presisi. Dan yang paling penting: butuh keterlibatan aktif masyarakat di tingkat bawah.
Abah Sanusi—sapaan akrab Bupati Malang—tahu betul beratnya tantangan itu. Maka, ketika ia hadir di Talangsuko, wajahnya tampak sumringah.
Di sana, ia didampingi tokoh penting: Irjen Pol. (Purn.) Iman Prijantoro, Wakil Ketua Pelaksana Gugus Tugas MBG Polri. Hadir pula jajaran Wakapolres Malang, pimpinan OPD, hingga Ketua HIPMI Kabupaten Malang. Semua berkolaborasi.
“Syukur alhamdulillah, cakupan kita sudah hampir 90 persen dari total target. Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang mendukung program Bapak Presiden Prabowo.”
“Tujuannya mulia: memenuhi gizi mulai dari balita, anak sekolah sampai SMA, ibu hamil, ibu menyusui, hingga lansia,” ujar Abah Sanusi dengan nada bangga.

SEREMONI: Bupati Sanusi ketika memotong tumpeng, sebagai simbolitas dimulainya pembangunan SPPG Turen #006 di Jalan Raya Talangsuko, Desa Talangsuko, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
SOP Ketat: Dicicipi Dulu, Direkam Video Kemudian
Namun, kuantitas bangunan saja tidak cukup bagi Sanusi. Ia cerewet soal kualitas. Ia mewanti-wanti seluruh pimpinan SPPG di Kabupaten Malang agar tidak main-main dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) pemenuhan gizi. Makanan yang disajikan harus higienis, sehat, dan bermutu tinggi.
Urusan SOP ini, Kabupaten Malang punya rujukan konkret. Tidak perlu studi banding jauh-jauh ke luar daerah. Cukup menengok ke Kecamatan Pakis.
Di sana, ada sebuah SPPG yang berhasil mengukir prestasi mentereng: menjadi pengelola MBG terbaik nomor dua secara nasional di Indonesia. Sebuah pencapaian yang bikin dahi berkerut kagum.
Apa rahasianya? Kedisiplinan tingkat dewa.
Di SPPG Pakis, sebelum paket makanan didistribusikan ke sekolah-sekolah atau masyarakat, ada ritual wajib yang harus dilalui. Pertama, para petugas SPPG harus mengonsumsi atau mencicipi makanan itu terlebih dahulu. Satu per satu menu dicoba.
Ini adalah jaminan keamanan dan kesehatan paling sahih. Jika petugasnya aman setelah makan, barulah makanan itu dinyatakan layak edar.
Kedua, keterbukaan informasi. Setiap paket menu yang akan disajikan hari itu wajib direkam dalam bentuk video. Rekaman visual tersebut kemudian dibagikan secara berkala ke grup WhatsApp penerima manfaat. Orang tua murid bisa melihat langsung apa isi piring anak mereka hari itu.
“Bahkan penerima manfaat bisa request menu. Semisal ada anak didiknya yang tidak cocok atau alergi dengan menu yang sudah disiapkan, bisa diganti. Dengan begitu, makanan yang disajikan benar-benar habis dikonsumsi dan diterima dengan baik,” jelas Sanusi, menceritakan kehebatan sistem di Pakis.
Membidik Barometer Nasional
Saat ini, SPPG yang berada di bawah binaan langsung Korps Bhayangkara (Polri) di Kabupaten Malang, baru berjumlah tiga unit. Meskipun baru tiga, performa dan laporan administrasinya dinilai sebagai yang terbaik.
Ke depan, dengan mulainya pembangunan SPPG Turen #006 Talangsuko ini, Sanusi menaruh harapan besar, agar Yayasan Peduli Berkah Nusantara, mampu menduplikasi atau bahkan melampaui sistem pertahanan pangan yang ada di Pakis.
Target Abah Sanusi sudah bergeser. Bukan lagi sekadar memberi makan gratis, melainkan menjadikan Kabupaten Malang sebagai laboratorium dan percontohan nasional pelaksanaan MBG terbaik di Indonesia.
Sebab, bagi Sanusi, program MBG ini adalah urusan memuliakan manusia. Memperbaiki kualitas generasi masa depan dari level sel terkecil di dalam kampung.
Dari tanah Turen, peletakan batu pertama itu bukan sekadar urusan semen dan pondasi bangunan. Itu adalah fondasi awal bagi ratusan ribu anak-anak di bumi Arema untuk tumbuh lebih cerdas, sehat, dan bergizi tinggi. Kita tunggu saja, sejauh mana SPPG baru ini mampu menjawab tantangan tersebut. (PKP/Ra Indrata)




