MALANG POST – Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, memproyeksikan lonjakan arus kunjungan wisatawan hingga mencapai 560 ribu orang sepanjang Mei 2026, menyusul rentetan libur panjang (long weekend) dan cuti bersama keagamaan, yang jatuh pada pertengahan hingga akhir bulan.
Namun, di balik riuhnya jalanan oleh serbuan kendaraan, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu mencatat anomali: tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel masih jalan di tempat di kisaran 50 hingga 60 persen.
Ada gula, ada semut. Hukum alam pariwisata itu harusnya berlaku di Kota Batu sepanjang bulan ini. Kalender Mei penuh warna merah. Berderet hari terjepit. Sangat seksi untuk berlibur.
Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto, tersenyum lebar melihat data makro. Target 560 ribu turis itu sangat realistis. Januari lalu, Batu bahkan sukses menyedot 630.438 pelancong. Sempat turun berfluktuasi di Februari dan Maret, lalu merangkak naik lagi ke angka 432 ribu di April.
“Mei ini potensinya jauh lebih besar karena banyak hari terjepit dan cuti bersama,” ujar Onny, optimistis.
Peta asal wisatawan pun mulai bergeser. Bukan lagi sekadar urusan orang Surabaya atau Malang Raya. Turis dengan pelat nomor B (Jakarta) dan D (Bandung) makin sering berseliweran di sekitar Alun-alun Kota Batu.
Secara teori, logikanya sederhana: makin jauh asal turis, makin lama mereka menginap. Disparta bahkan memproyeksikan length of stay (lama tinggal) bisa tembus dua hingga tiga malam. Sebuah stimulus ekonomi yang menjanjikan.
Realitas Pahit di Meja Resepsionis
Namun, cobalah tengok ke dalam lobi hotel-hotel di Batu. Suasananya kontras. Senyum optimistis birokrat pariwisata belum sepenuhnya menular ke wajah para pelaku industri perhotelan.

PADAT: Sejumlah titik di Kota Batu nampak mengalami kepadatan di long weekend kali ini, menandakan adanya peningkatan jumlah wisatawan, namun hal tersebut belum liniar dengan okupansi hotel. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, hanya bisa menghela napas pendek. Kamar-kamar hotel belum penuh. Jauh dari kata penuh. Target menyentuh angka 90 persen rasanya masih seperti pungguk merindukan bulan.
“Untuk okupansi hotel, belum bisa dipastikan tren kenaikannya seperti apa. Selama ini masih di kisaran 50 sampai 60 persen, belum sampai 90 persen,” aku Sujud, kemarin.
Mengapa bisa begitu? Mengapa ribuan orang datang tapi kasur hotel tetap dingin?
Sujud melihat ada dua hantu yang sedang membayangi bisnis perhotelan saat ini: daya beli yang mengerut dan perubahan perilaku pelancong.
Faktor pertama: efek domino Lebaran. Dompet masyarakat rupanya belum sepenuhnya pulih setelah terkuras habis untuk mudik dan merayakan Idulfitri beberapa waktu lalu. Akibatnya, masyarakat tetap ingin berwisata demi melepas penat, tetapi dengan anggaran yang dipangkas habis-habisan.
Mereka menahan diri. Kamar hotel dicoret dari daftar pengeluaran. Mereka lebih memilih menyimpan sisa amunisi uang untuk menyambut libur sekolah pada Juni mendatang.
“Kalau bisa tembus 70 persen saja kami sudah bersyukur. Harapannya nanti saat libur sekolah okupansi bisa naik,” tambahnya.
Ancaman Nyata Tren One Day Trip
Faktor kedua jauh lebih sistemik: menjamurnya tren one day trip. Wisata sehari langsung pulang.
Teknologi informasi dan kemudahan akses jalan, membuat pola perjalanan berubah total. Sekarang, rombongan wisata tidak perlu lagi repot-repot menyewa kamar untuk sekadar mandi atau beristirahat.
Sujud punya hitung-hitungan yang bikin dahi mengkerut. Dari sekitar 100 bus pariwisata berukuran besar yang menderu masuk ke Kota Batu, ternyata hanya sekitar 30 bus saja yang penumpangnya turun dan check-in di hotel.
Sisanya? Sebanyak 70 bus langsung angkat kaki. Begitu matahari terbenam dan gerbang destinasi wisata ditutup, mesin bus dinyalakan. Mereka langsung tancap gas kembali ke daerah asal.
“Ini yang sedang kami analisis. Apakah rendahnya okupansi hotel karena daya beli masyarakat atau memang karena tren one day trip yang semakin kuat,” jelas Sujud, retoris.
Anomali ini menjadi pekerjaan rumah besar. Angka kunjungan yang mentereng di atas kertas milik Disparta ternyata belum linear dengan isi laci kasir perhotelan, vila, maupun homestay.
Kota Batu boleh saja macet dan dipadati lautan manusia sepanjang Mei ini. Namun bagi pelaku usaha akomodasi, mereka masih harus bersabar, menunggu sisa-sisa berkah perputaran ekonomi benar-benar mampir ke atas ranjang kamar mereka. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




