DISANKSI: Ilustrasi aksi Aremania saat mendukung Arema bertanding. Kehadiran Aremania saat away ke Bandung, membuat Komdis memberikan sanksi denda hingga Rp115 juta. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen Arema FC harus menelan pil pahit dan merogoh kocek sangat dalam, menyusul badai sanksi yang dijatuhkan Komite Disiplin (Komdis) PSSI, sepanjang bulan April 2026.
Berdasarkan hasil akumulasi sidang Komdis PSSI, tim berjuluk Singo Edan ini resmi dijatuhi total denda sebesar Rp180 juta, akibat serangkaian pelanggaran disiplin yang terjadi dalam kompetisi Super League 2025/2026.
Ironisnya, denda ratusan juta tersebut, mayoritas dipicu oleh perilaku oknum suporter yang dinilai gagal menjaga ketertiban. Mulai dari penyalaan flare, ujaran kebencian, hingga nekat hadir dalam laga tandang yang secara regulasi masih dilarang.
Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi manajemen dan seluruh elemen pendukung Singo Edan. Pasalnya, beban finansial ini muncul di tengah upaya klub menjaga stabilitas operasional di pengujung musim kompetisi.
Bandel Saat Laga Tandang
Rentetan denda yang dialami Arema FC, dibuka pada medio awal April. Berdasarkan hasil Sidang Komdis PSSI tanggal 10 April 2026, panitia pelaksana (Panpel) Arema FC dinyatakan gagal menjaga keamanan dan ketertiban saat menjamu Malut United FC, pada 3 April 2026 lalu.
Dalam catatan Komdis, pada menit ke-36, terdengar teriakan hinaan dari oknum suporter di Tribun Barat sisi Utara, yang ditujukan langsung kepada pemain lawan.
Atas insiden tersebut, Panpel Arema FC dijatuhi denda sebesar Rp40 juta. Pelanggaran verbal ini menjadi pembuka dari “tsunami” denda yang menyusul di pekan-pekan berikutnya.
Meski regulasi mengenai larangan kehadiran suporter tamu masih berlaku ketat di Super League, kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda. Arema FC tercatat dua kali dijatuhi sanksi karena adanya dukungan langsung suporter di markas lawan.
Pertama, saat Singo Edan bertandang ke markas Persita Tangerang pada 10 April 2026. Kehadiran suporter di tribun penonton, membuat Arema FC dikenai denda Rp 25 juta sesuai hasil sidang tanggal 14 April.
Pelanggaran serupa kembali terulang di laga bergengsi melawan Persib Bandung pada 24 April 2026. Kehadiran pendukung tim tamu di stadion kembali berbuah denda Rp25 juta dari Komdis PSSI.
Puncak Sanksi di Laga Kontra Persib Bandung
Laga panas kontra Persib Bandung pada pekan ke-29, menjadi “penyumbang” sanksi terbesar bagi manajemen Arema FC.
Dalam satu pertandingan, terjadi tiga jenis pelanggaran sekaligus yang memicu akumulasi denda hingga Rp115 juta hanya dari satu laga tersebut.
Pelanggaran terberat adalah insiden penyalaan satu buah flare di Tribun Selatan, sesaat setelah pertandingan berakhir.
Flare tersebut kemudian dilemparkan ke arah lapangan pertandingan, sebuah aksi yang dianggap sangat berbahaya. Tak tanggung-tanggung, Komdis PSSI menjatuhkan denda sebesar Rp60 juta untuk aksi anarkis ini.
Selain flare, oknum suporter di Tribun Selatan, juga dilaporkan meneriakkan yel-yel bernada ujaran kebencian sepanjang laga berlangsung. Aksi ini memicu denda tambahan sebesar Rp30 juta.
Jika ditambah dengan denda kehadiran suporter tamu (Rp 25 juta), maka total kerugian Arema FC dalam laga kontra Maung Bandung mencapai angka yang fantastis.
Manajemen Arema FC kini dihadapkan pada tantangan besar untuk melakukan edukasi masif kepada para pendukungnya.
Akumulasi denda Rp 180 juta dalam satu bulan bukanlah angka yang sepele. Selain merugikan dari sisi finansial, citra klub juga dipertaruhkan di mata federasi dan operator liga.
Pihak manajemen diharapkan segera meningkatkan koordinasi dengan korwil-korwil suporter untuk menekan angka pelanggaran di laga sisa.
Pasalnya, jika perilaku serupa seperti penyalaan bom asap, kembang api, atau ujaran rasisme kembali terulang, sanksi yang lebih berat seperti larangan bertanding tanpa penonton atau pengurangan poin bisa saja menghantui Singo Edan di masa depan.
Kini, bola panas ada di tangan seluruh elemen Aremania dan Aremanita. Dukungan total memang dibutuhkan tim di lapangan.
Namun kepatuhan terhadap regulasi adalah kunci agar pundi-pundi klub tidak habis hanya untuk membayar denda administratif yang seharusnya bisa dihindari. (*/Ra Indrata)




