MALANG POST – Nasib apel sebagai identitas utama Kota Batu kini berada di ujung tanduk. Berdasarkan data terbaru Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu hingga Selasa (28/4/2026), luas lahan perkebunan apel kini hanya tersisa sekitar 740,07 hektare.
Angka ini menunjukkan penyusutan yang sangat tajam dibandingkan masa kejayaannya pada era 1980-an yang sempat mencapai 3.000 hektare, akibat masifnya alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan pariwisata.
Penyusutan lahan ini berlangsung mengkhawatirkan dalam kurun dua tahun terakhir. Tercatat pada 2022, luas kebun apel masih berada di angka 1.092 hektare. Namun, jumlah tersebut merosot menjadi 823,33 hektare pada 2023, hingga akhirnya tersisa 740,07 hektare pada pengujung 2024.
Penurunan lebih dari 350 hektare dalam waktu singkat ini memicu alarm waspada bagi kelestarian ikon Kota Wisata tersebut.
Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menegaskan, mempertahankan eksistensi apel Batu adalah prioritas harga mati. Ia menilai apel bukan sekadar komoditas hortikultura, melainkan marwah dan identitas daerah yang telah melekat selama puluhan tahun.

PANEN APEL: Wali Kota Batu Nurochman saat melakukan panen apel beberapa waktu lalu, saat ini kondisi lahan apel di Kota Batu terus menyusut. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Apel Batu ini bukan sekadar hasil panen, ini adalah wajah kita. Kalau tidak kita jaga secara kolektif, saya khawatir suatu saat ‘Kota Apel’ hanya tinggal nama dan cerita bagi anak cucu kita,” ujar Heli Suyanto, Selasa (28/4/2026).
Faktor Ekonomi dan Gempuran Beton
Heli mengakui, tekanan alih fungsi lahan menjadi penyebab utama. Menjamurnya pembangunan vila, hotel, hingga kafe di kawasan dataran tinggi memaksa lahan-lahan produktif beralih fungsi.
Selain itu, faktor perubahan iklim dan penurunan kualitas unsur hara tanah membuat produktivitas tanaman tidak lagi seprima dulu.
Persoalan biaya produksi juga menjadi beban berat bagi para petani. Tingginya harga pupuk, obat-obatan, hingga upah tenaga kerja yang terus merangkak naik membuat banyak petani “angkat tangan” dan beralih ke tanaman sayur yang dinilai lebih cepat menghasilkan uang.
“Petani tentu realistis secara ekonomi. Jika biaya operasional lebih besar daripada hasil panen, mereka pasti memilih beralih ke tanaman lain yang lebih menguntungkan secara jangka pendek,” imbuhnya.
Bumiaji Jadi Benteng Terakhir
Saat ini, sentra kebun apel yang masih bertahan terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Bumiaji. Desa Tulungrejo, Bulukerto, Sumbergondo, dan Desa Bumiaji menjadi kantong-kantong produksi terakhir yang masih konsisten mempertahankan varietas unggulan seperti Manalagi dan Anna.

Namun, daya tahan para petani di Bumiaji tetap dibayangi penurunan jumlah produksi. Pada 2024, produksi apel Kota Batu tercatat hanya sekitar 140.285 kuintal, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan capaian historis beberapa tahun silam.
Skema Penyelamatan Ikon Daerah
Menanggapi krisis ini, Pemkot Batu mulai menyusun berbagai langkah strategis. Selain memberikan bantuan bibit unggul dan perbaikan infrastruktur jalan usaha tani, pemerintah juga mendorong riset varietas apel yang lebih tahan terhadap suhu panas (adaptif perubahan iklim).
“Kami juga memperkuat kelembagaan kelompok tani agar mereka memiliki daya tawar tinggi.”
“Kita ingin apel Batu tetap kompetitif dan kembali menjadi penyangga ekonomi masyarakat.”
“Jangan sampai kita terlambat bertindak hingga ikon ini benar-benar punah,” tandas Heli. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




