TUMPUKAN SAMPAH: Petugas kebersihan di TPA Tlekung Kota Batu saat menyelesaikan tumpukan sampah perkotaan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Pemerintah Kota Batu resmi memulai transformasi besar-besaran dalam sistem pengelolaan sampah melalui skema Local Service Delivery Improvement Project (LSDP) yang berkolaborasi dengan Bank Dunia. Proyek strategis ini bertujuan mewujudkan target Zero Waste City dengan mengintegrasikan pengolahan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk rencana pembangunan fasilitas modern di sejumlah titik vital mulai Senin (27/4/2026).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni, menegaskan, skema LSDP akan menitikberatkan pada penanganan di sektor hulu. Strategi ini mewajibkan pengelolaan sampah tuntas di sumbernya, sehingga volume sisa sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat ditekan seminimal mungkin.
“Strategi kami dimulai dari hulu. Jika pengurangan sampah di sumbernya berjalan efektif, maka beban di hilir atau TPA akan jauh berkurang,” ujar Dian Fachroni saat memberikan keterangan di Balai Kota Among Tani, Senin (27/4/2026).
Komitmen Anggaran dan Dukungan Hibah
Proyek prestisius ini telah mengantongi lampu hijau dari kepala daerah dan DPRD Kota Batu. Namun, sebagai syarat memperoleh hibah internasional tersebut, Pemkot Batu diwajibkan menyiapkan anggaran pendamping atau dana talangan sekitar Rp20 miliar hingga Rp25 miliar per tahun.
Dian mengungkapkan, berdasarkan arahan tim ahli program, Pemkot Batu diminta menaikkan nilai proposal awal dari Rp67 miliar menjadi minimal Rp100 miliar. Penyesuaian ini dilakukan agar seluruh kebutuhan infrastruktur dan operasional program modernisasi sampah dapat terpenuhi secara maksimal.

BANK DUNIA: Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Nilai proposal kami diminta naik menjadi Rp100 miliar agar program ini benar-benar berkelanjutan. Beberapa prioritas pembangunan saat ini sedang kami sesuaikan kembali,” jelasnya.
Inovasi Bio-Digester di Pasar Among Tani
Sebagai langkah konkret di sektor hulu, Pemkot Batu memproyeksikan pembangunan tiga unit TPS3R komunal baru pada 2027 yang berlokasi di Kelurahan Sisir, Kelurahan Temas, dan Pasar Induk Among Tani. Setiap fasilitas dirancang memiliki kapasitas olah hingga 10 ton sampah per hari.
Khusus untuk Pasar Induk Among Tani, sistem pengolahan akan menggunakan teknologi canggih Bio-Digester. Teknologi ini akan mengubah limbah organik pasar menjadi biogas sebagai energi alternatif, sekaligus menghasilkan pupuk cair dan padat berkualitas tinggi.
Transformasi TPA Tlekung dan Landfill Mining
Beralih ke sektor hilir, TPA Tlekung dijadwalkan bertransformasi menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) pada 2028. Salah satu agenda besar yang disiapkan adalah program landfill mining atau penambangan sampah lama.
Saat ini, terdapat sekitar 135 ribu ton tumpukan sampah lama di TPA Tlekung yang akan diolah kembali. Program ini ditargetkan mampu memulihkan lahan seluas dua hektare. “Lahan yang berhasil dipulihkan nantinya akan dimanfaatkan sebagai kawasan perkebunan rakyat bagi warga Desa Tlekung,” tambah Dian.
Peningkatan Armada dan Fasilitas Insinerator
Guna mendukung operasional TPST, Pemkot Batu juga akan membangun hanggar baru untuk fasilitas insinerator (pembakaran sampah suhu tinggi). Namun, tantangan muncul pada ketersediaan armada pengangkutan. Untuk mengirim minimal 50 ton sampah per hari, dibutuhkan sedikitnya 10 truk siaga, sementara saat ini DLH baru memiliki tujuh armada rutin.
“Kami akan mendorong dukungan dari sektor usaha serta memanfaatkan bantuan LSDP untuk menambah armada dump truck. Harapannya, sistem pengelolaan sampah di Kota Batu semakin tangguh dan mandiri dari hulu hingga hilir,” pungkasnya. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




