MALANG POST – Sektor pertanian hortikultura di wilayah dataran tinggi Kabupaten Malang, terus mendapatkan atensi serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.
Senin (20/4/2026) siang, Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, memimpin langsung audiensi strategis bersama PT Waste Cycle Indonesia, di Ruang Sri Rajasa, Jalan Merdeka Timur No. 3.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi formal, melainkan langkah konkret untuk memperkuat posisi Kabupaten Malang sebagai lumbung kentang nasional.
Fokus utamanya adalah pengembangan lahan percontohan (demplot) di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, yang selama ini menjadi sentra utama komoditas kentang di wilayah lereng Gunung Bromo.
Turut mendampingi Wabup dalam audiensi tersebut, jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lintas sektor. Mulai dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK), hingga Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud).
PT Waste Cycle Indonesia hadir membawa solusi, melalui pendekatan pertanian berkelanjutan. Perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah dan produksi nutrisi tanaman berbasis organik ini berencana membangun demplot kentang di Desa Ngadas.
Langkah ini diambil sebagai respons atas mulai menurunnya kualitas kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia jangka panjang di kawasan pegunungan.
PT Waste Cycle Indonesia sendiri, dikenal memiliki spesialisasi dalam mengolah limbah menjadi input pertanian bernilai tinggi.
Dengan memanfaatkan teknologi mikroba dan pupuk organik hayati, perusahaan ini berkomitmen meningkatkan imunitas tanaman kentang terhadap serangan busuk daun (Phytophthora infestans) yang kerap menjadi momok petani saat cuaca ekstrem.
Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, intervensi teknologi organik sangat dibutuhkan untuk menjaga ekosistem lahan di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Kita tahu Desa Ngadas adalah wilayah yang sangat spesial. Tanahnya subur, tapi butuh perlakuan yang tepat agar tidak jenuh. Kehadiran PT Waste Cycle dengan pupuk organik hayatinya diharapkan mampu memperbaiki struktur tanah sekaligus mendongkrak hasil panen petani kita,” ujar perempuan yang akrab disapa Nyai Lathifah tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun, produktivitas kentang di Kabupaten Malang memang menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Timur.
Setiap tahunnya, produksi kentang di daerah ini mampu menembus angka belasan hingga puluhan ribu ton. Varietas unggulan yang menjadi primadona adalah Granola Kembang.
Varietas ini memiliki keunggulan pada daya tahan simpan dan bentuk umbi yang disukai pasar industri maupun konsumsi rumah tangga.
Dengan rata-rata produktivitas mencapai 15-20 ton per hektare, potensi ekonomi yang berputar di wilayah Poncokusumo saja bisa mencapai angka miliaran rupiah setiap musim panen.
“Selain kentang, kita juga terus mendorong komoditas lain seperti kopi, kakao, dan tebu. Namun untuk wilayah atas seperti Ngadas, kentang tetap menjadi tulang punggung ekonomi.”
“Jika produktivitas bisa naik 20 hingga 30 persen lewat program demplot ini, maka kesejahteraan petani akan meningkat signifikan,” tambah Wabup.
Menariknya, audiensi kali ini juga membahas keterkaitan antara sektor pertanian dan pariwisata. Mengingat Ngadas adalah desa wisata yang menjadi pintu gerbang menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Nyai Lathifah menginstruksikan Disparbud dan DPKPCK untuk jeli melihat peluang.
Pemandangan hamparan kebun kentang yang tertata rapi di lereng bukit sejatinya adalah aset wisata visual yang mahal. Oleh karena itu, infrastruktur penunjang di sekitar lahan pertanian harus dibenahi.
“Saya minta Dinas Pariwisata dan Cipta Karya segera mengidentifikasi infrastruktur apa yang kurang. Apakah akses jalan usahatani, sanitasinya, atau fasilitas pendukung lainnya. Semuanya harus terintegrasi,” tegasnya.
Untuk mempercepat proses pembangunan, Wabup mengimbau agar usulan infrastruktur tersebut segera diinput melalui aplikasi SiTIA PUPR (Sistem Informasi Terintegrasi Infrastruktur Wilayah).
Program ini nantinya akan dikolaborasikan dengan Dinas PU Bina Marga untuk memastikan aksesibilitas menuju lahan pertanian dan objek wisata tetap prima.
“Pembangunan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Dinas Pertanian menyiapkan tanamannya, PT Waste Cycle menyiapkan nutrisinya, dan Dinas PU serta Pariwisata menyiapkan aksesnya. Inilah esensi sinergi untuk Kabupaten Malang yang lebih makmur,” pungkas Nyai Lathifah.
Pertemuan siang itu ditutup dengan kesepakatan untuk segera melakukan peninjauan lapangan di Desa Ngadas guna menentukan titik koordinat lahan yang akan dijadikan lokasi demplot dalam waktu dekat. (*/PKP/Ra Indrata)




