MALANG POST- Sebuah video di media sosial belakangan viral dan memancing beragam reaksi dari warganet. Dalam tayangan tersebut, terlihat seorang pengendara motor gede (moge) melintas di sebuah jembatan tua yang dikenal sebagai Jembatan Pelor.
Unggahan itu memunculkan banyak komentar karena dinilai berpotensi tidak memperhatikan kondisi jembatan. Sebagian penonton menilai jembatan tua tersebut tampak tidak ideal untuk dilalui kendaraan berat, terutama jika tidak ada pengendalian kecepatan dan kehati-hatian yang memadai.
Seperti banyak daerah lain di Indonesia, Kota Malang memiliki sejumlah ruas jalan dan jembatan yang sudah lama digunakan warga. Di beberapa titik, jembatan tua kerap menjadi jalur alternatif karena dianggap lebih dekat, lebih cepat, dan sudah menjadi rutinitas perlintasan.
Jembatan seperti ini memiliki manfaat sebagai penghubung antarkawasan, termasuk saat wilayah terbelah oleh aliran sungai. Namun, tantangannya adalah jembatan lama umumnya tidak dirancang untuk menahan beban kendaraan modern dalam frekuensi tinggi, seperti motor besar atau kendaraan dengan bobot lebih tinggi.
Dalam video yang beredar, moge tampak melintas di atas Jembatan Pelor. Beberapa bagian jembatan terlihat telah berusia sehingga menimbulkan kesan membutuhkan perhatian dan perawatan.
Kondisi tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari warganet. Sebagian menilai tindakan pengendara berisiko karena tidak ada indikator yang cukup untuk memastikan jembatan berada dalam kondisi optimal untuk menahan beban kendaraan seperti yang terlihat di video.
Ada pula komentar yang menyebut bahwa segmen jembatan tertentu lebih sesuai untuk kendaraan ringan. Meskipun demikian, video menunjukkan kendaraan tipe moge tetap melewati jalur tersebut.
Jembatan Pelor merupakan jembatan penghubung wilayah antara Oro-Oro Dowo dan area lain di Kota Malang. Jembatan ini juga dikenal sebagai peninggalan zaman kolonial Belanda, sehingga bentuk dan kondisinya masih memperlihatkan karakter bangunan lama.
Meski usia bangunan sudah lanjut, jembatan tetap digunakan warga karena telah menjadi rute harian, jalur alternatif tidak selalu tersedia dengan akses yang sama dan waktu tempuh dinilai lebih singkat dibanding jalur lainnya.
Secara umum, jembatan tua yang terus dilalui berpotensi mengalami penurunan kondisi, misalnya lantai yang mulai retak atau tidak rata, timbulnya getaran saat kendaraan melintas, serta melemahnya komponen penyangga. Dengan beban berulang, risiko kerusakan dapat meningkat.
Karena kondisi teknis tidak dapat dinilai hanya dari satu tayangan singkat, penilaian publik umumnya muncul dari pengamatan visual dan pertimbangan keselamatan terhadap jembatan berusia. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




