Foto ilustrasi luka bakar sedang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST- Luka bakar adalah kondisi ketika kulit (atau jaringan lain) rusak akibat paparan suhu ekstrem—bisa karena terlalu panas, bahkan hingga terlalu dingin. Tidak hanya berakhir pada rasa perih, luka bakar juga bisa menimbulkan komplikasi yang lebih serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Dalam sebuah artikel di alodokter, dengan narasumber dr. Sheryl Serelia (dokter spesialis) dan dr. Kevin Adrian (dokter spesialis), yang dikutip Redaksi Malang Post, Selasa (7/4/2026) dijelaskan berbagai sumber penyebab luka bakar antara lain:
Air panas atau uap panas, api, listrik, tersambar petir, sinar matahari dan penyebab lain yang memicu panas/dingin ekstrem. Paparan tersebut dapat menyebabkan luka di permukaan kulit hingga kerusakan yang lebih dalam.
Derajat luka bakar mulai dari ‘Sunburn’ hingga cedera sampai tulang. Luka bakar umumnya dibedakan berdasarkan kedalaman kerusakan, yaitu:
1) Derajat I (Ringan). Hanya bagian kulit paling luar yang terdampak. Contoh paling umum adalah sunburn akibat sinar matahari.
2) Derajat II (Sedang). Melibatkan sebagian kulit bagian dalam. Luka bisa terlihat, kemerahan disertai bentol/lepuh berisi cairan (bulla). Derajat ini bisa sembuh sekitar 2–3 minggu untuk yang lebih ringan hingga 6 minggu pada kasus yang lebih parah (selama tidak ada infeksi).
3) Derajat III (Berat). Kerusakan mencapai seluruh lapisan dalam kulit. Termasuk area yang melibatkan pembuluh darah dan saraf.
4) Derajat IV (Sangat Berat). Kerusakan sangat dalam hingga dapat mengenai pelapis otot, otot bahkan tulang.
Selain derajat, dokter juga mempertimbangkan luas permukaan kulit yang terpapar. Karena ini berpengaruh pada apakah pasien perlu rawat inap atau tidak.
KENAPA LUKA BAKAR BISA TERASA NYERI DAN KEKAKUAN?
Rasa nyeri pada luka bakar sebenarnya wajar terjadi. Kulit memiliki serabut saraf yang dapat mengirim sinyal nyeri saat terstimulasi.
Sementara kekakuan otot atau tubuh terasa ‘nggak enak’ bisa muncul karena beberapa hal, seperti: cedera pada otot atau jaringan di bawahnya, proses perbaikan jaringan yang menimbulkan rasa kaku, saraf yang ikut terdampak, berkurangnya gerak sehingga otot terasa pegal dan gangguan keseimbangan cairan/garam dalam tubuh yang juga bisa memengaruhi kekuatan otot.
PERTOLONGAN PERTAMA YANG DISARANKAN
Untuk luka bakar tingkat ringan (derajat I), beberapa penanganan yang dapat dilakukan di rumah adalah:
1) Siram dengan air sejuk. Basuh area luka dengan air sejuk (bukan es) selama 10–20 menit, hingga perih berkurang.
2) Kompres dingin. Kompres dapat dilakukan 5–15 menit dengan kain bersih yang sudah dibungkus dingin. Catatan: jangan terlalu sering, karena bisa memperparah iritasi.
3) Lidah buaya. Gel lidah buaya dikenal memiliki efek: antiinflamasi (anti peradangan), antioksidan, antibakteri serta membantu penyembuhan dan melembabkan. Pilih produk dengan kandungan lidah buaya tinggi dan hindari pewarna/parfum agar tidak memicu iritasi.
4) Madu dipercaya membantu mengatasi luka bakar ringan karena sifat antibakteri dan antiradang. Namun, tetap perlu penanganan yang tepat dan tidak menggantikan perawatan medis bila kondisinya memburuk.
5) Obat sesuai kebutuhan. Untuk nyeri, bisa menggunakan paracetamol sesuai aturan pakai. Dokter juga bisa merekomendasikan salep antibiotik jika diperlukan.
PANTANGAN PENTING: JANGAN ASAL OLES
Jangan lakukan hal-hal berikut pada luka bakar: diolesi pasta gigi, minyak (minyak kelapa/zaitun/goreng) karena menahan panas, putih telur (berisiko infeksi dan alergi), mentega atau margarin, memecahkan lepuh, mengelupas atau menarik pakaian yang lengket di area luka (sebaiknya segera ke dokter), menempelkan es langsung ke kulit (bisa memperparah kerusakan) dan jangan mengoleskan bahan yang tidak terbukti—yang salah justru bisa memperparah luka.
Selain itu, hindari paparan sinar matahari karena kulit yang terbakar sangat sensitif. Jangan tunda berobat ke dokter jika muncul tanda berikut:
Luka tidak membaik dalam beberapa minggu, lepuh besar muncul, ada cairan keluar dari luka, ada tanda infeksi: demam, luka bernanah atau bau tidak sedap.
Luka bakar memang bisa terlihat “ringan” di awal, namun tanpa penanganan yang tepat, kondisinya dapat berkembang menjadi lebih serius. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




